Bukan Arab atau Amerika, Negara Ini Penentu Baru Harga Minyak Dunia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara ini berkedudukan kunci dalam stabilitas nilai minyak dunia di tengah bentrok Iran. Namun bukan negara-negara Arab alias Amerika Serikat (AS).

Ya, China sekarang menjadi pemain kunci nan menentukan arah nilai minyak dunia. Bahkan saat AS dan Iran telah bermusyawarah untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan arus pasokan minyak dari Timur Tengah.

"China telah memainkan peran krusial untuk meredam akibat bagi seluruh Asia dan pada akhirnya membantu menahan tekanan terhadap perekonomian global," ujar Kepala Ember, Daan Walter, seperti dikutip CNN International, Selasa (23/6/2026).

Selama perang Iran nan telah mengganggu akses lebih dari 11 juta barel minyak per hari, China mengambil beragam langkah untuk menjaga ketahanan energinya. Negeri Tirai Bambu memangkas impor, memanfaatkan persediaan minyak dalam jumlah besar, serta mempercepat penggunaan daya bersih untuk menekan akibat lonjakan nilai daya di dalam negeri.

Langkah tersebut ikut memengaruhi pasar global. Meski gangguan pasokan minyak bumi diperkirakan telah melampaui 1 miliar barel dan sejumlah analis sempat memproyeksikan nilai minyak bisa melonjak hingga US$200 alias sekitar Rp3,56 juta per barel, nilai minyak justru memperkuat relatif stabil. 

Pada Senin, misalnya, nilai minyak mentah Brent turun di bawah US$78 alias sekitar Rp1,39 juta per barel seiring angan Selat Hormuz segera kembali beraksi normal. Sebagai perbandingan, nilai Brent sempat berada di bawah US$70 alias Rp1,25 juta per barel sebelum serangan AS dan Israel ke Iran, lampau melonjak ke puncak empat tahun di level US$114 alias sekitar Rp2,03 juta per barel pada awal Mei.

Analis Societe Generale menyebut China sebagai "tangan tak terlihat" nan menjaga keseimbangan pasar minyak. Menurut mereka, keahlian China memangkas impor hingga sekitar 3 juta barel per hari membantu menahan gejolak nilai global, meski bentrok Iran sempat mengganggu sekitar 14% pasokan minyak dunia.

Kemampuan tersebut didukung oleh persediaan minyak nan sangat besar. Menurut Rystad Energy, China telah membangun stok minyak murah dari Rusia dan Iran sebelum perang pecah.

Kini, negara itu diperkirakan mempunyai lebih dari 1 miliar barel persediaan minyak strategis dan komersial. Ini mulai digunakan sejak Mei.

"China telah menetapkan pemisah bawah harga. Tahun ini pola itu berbalik," kata Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad Energy, Janiv Shah.

Selain itu, ledakan penggunaan kendaraan listrik juga mengurangi ketergantungan China terhadap bahan bakar fosil. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan armada kendaraan listrik China telah memangkas konsumsi minyak sekitar 1 juta barel per hari tahun lalu.

"Ini telah menjadi katup pelepas nan luar biasa bagi pasar minyak mentah global," ujar Kepala Lantau Group, David Fishman.

Namun, para analis memperingatkan keahlian China menyerap guncangan pasokan tidak bakal berjalan selamanya. Jika nilai minyak kembali turun, China diperkirakan bakal kembali menimbun persediaan minyak dalam jumlah besar.

Di sisi lain, pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan produksi Timur Tengah berpotensi mengubah pasar dari kondisi kekurangan pasokan menjadi kelebihan pasokan. IEA apalagi memperkirakan pasokan minyak dunia tahun depan bakal melampaui permintaan hingga 4,7 juta barel per hari. 

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News