Budaya Fast Content: Kenapa Otak Kita Susah Menikmati Karya Panjang?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi menonton film. Foto oleh cottonbro studio/pexels.

Pernah enggak sih Anda lagi asik nonton movie bagus di Netflix, tapi tangan malah refleks buka TikTok di HP? Atau pas nonton video YouTube buat bahan tugas, otomatis langsung disetel ke kecepatan 1.5x?

Kalau iya, tenang, Anda nggak sendirian. Belakangan ini kita kayaknya selalu ngerasa dikejar waktu. Nonton dengan kecepatan normal malah bikin cemas, takut buang-buang waktu nan berharga. Survei dari lembaga riset Cross Marketing mencatat bahwa 47 persen orang sekarang terbiasa ngelakuin kebiasaan nonton dengan mode dipercepat. Ini baru dari sisi durasi. Di media sosial, corak kontennya lebih gila lagi.

Layar Terbelah dan Sindrom Otak Popcorn

Sadar nggak, sekarang banyak banget video di TikTok alias Reels nan layarnya dibelah dua? Atasnya menayangkan cuplikan movie alias podcast, nah bawahnya video orang main game Subway Surfers alias sekadar motong-motong sabun. Buat apa? Ternyata ini trik sengaja dari pembuat agar mata kita enggak mudah jenuh dan langsung swipe ke video lain pas lagi nonton.

Gara-gara dijejali konten secepat dan seramai ini, Profesor Universitas Washington, David M. Levy, mengatakan bahwa otak kita mulai mengalami popcorn brain. Dalam artian, perhatian jadi mudah meletup-letup dan loncat dari satu perihal ke perihal lain, persis seperti biji jagung nan digoreng di panci panas.

Setiap kali scroll layar, otak melepaskan sedikit dopamin nan bikin ketagihan. Sayangnya, siklus bingkisan instan ini bikin bumi nyata nan ritmenya lambat kerasa membosankan. Hutan pikiran nan sebenarnya butuh keheningan buat numbuhi ide-ide segar, malah ditebang lenyap dan diganti sama mesin kreator popcorn nan berisik. Penelitian apalagi nemuin jika kebanyakan nonton video pendek bisa bikin bagian otak kita hiperaktif, ujung-ujungnya jadi lebih impulsif dan susah mikir panjang.

Fokus Anjlok Sampai Sisa 43 Detik

Efeknya ke keahlian konsentrasi betul-betul terasa. Merujuk ke info riset Profesor Gloria Mark dari University of California, pada tahun 2004 rata-rata orang tetap bisa konsentrasi penuh di depan satu layar selama 2,5 menit. Coba tebak sekarang sisa berapa? Cuma 43 detik. Buat golongan anak muda, pemisah sabar memandang satu postingan medsos apalagi hanya memperkuat di kisaran 4 sampai 6 detik saja.

Dampaknya menjalar ke aktivitas sehari-hari. Rata-rata orang mengecek HP bisa sampai 96 kali sehari, alias nyaris tiap 10 menit sekali. Padahal, jika konsentrasi sudah terganggu dengan notifikasi, kita butuh waktu sekitar 26 menit buat betul-betul kembali konsentrasi ke kerjaan awal. Kemampuan ingatan jangka pendek memang makin tajam, tapi kesabaran buat ngerjain tugas nan butuh ketekunan malah ambruk parah.

Karya Seni dan Perlawanan Kita

Demi ngejar hubungan instan dalam tiga detik pertama, banyak kreator, jurnalis, sampai sutradara nan terpaksa mengalah. Elemen seni kayak ngebangun suasana alias alur cerita nan lambat (slow burn) sering dipotong paksa. Sebuah karya ujung-ujungnya hanya dinilai dari seberapa sigap mereka nahan audiens agar nggak kabur.

Tapi untungnya, kita mulai sadar. Data YouGov nunjukin jika 87 persen penonton muda akhirnya mutusin nonton movie alias serial secara utuh setelah ngeliat potongan klipnya di medsos. Mulai muncul juga tren perlawanan lewat style hidup Slow Media. Banyak orang nan mulai beranjak ninggalin konten receh dan kembali menikmati nawala panjang alias dengerin podcast naratif nan butuh mikir.

Pelan-Pelan Saja

Terus, buat kita nan sudah telanjur kecanduan scroll instan, kudu bagaimana? Kuncinya ada di langkah kita ngerespons rasa bosan. Sering banget kita otomatis buka HP pas lagi nunggu antrean kopi alias di dalem lift. Otak ngerasa momen kosong ini kayak ruang sunyi nan kudu buru-buru diisi.

Pakar stres dari Harvard, Dr. Aditi Nerurkar, ngasih trik nan lumayan asik buat dipraktikin. Coba batasi scroll medsos maksimal 20 menit aja, cukup dua kali sehari. Terus, matiin semua notifikasi aplikasi nan nggak penting. Pas lagi ngerjain tugas kampus, biasain taruh HP sejauh tiga meter dari meja belajar. Dan nan paling penting, jangan taruh HP di meja sebelah kasur pas mau tidur.

Intinya, kita hanya butuh ngelatih lagi sirkuit otak kita. Nggak usah buru-buru. Jangan sampai kebiasaan serba sigap ini bikin kita kehilangan keahlian buat sekadar duduk tenang, merenung, dan nikmati cerita-cerita dahsyat nan memang butuh waktu buat dicerna.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan