Budaya dan Sastra Pererat Hubungan Indonesia-Jerman

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Budaya dan Sastra Pererat Hubungan Indonesia-Jerman Peluncuran kitab berjudul, ‘Antologi Puisi Agung Jerman(MI/Naviandri)

MOMENTUM krusial dalam hubungan kultural dan sastra antara Indonesia dan Jerman kembali terukir. Bertempat di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta  diluncurkan kitab berjudul, ‘Antologi Puisi Agung Jerman’ pada Kamis (8/6). 

Karya literatur monumental itu merupakan hasil kurasi dan penyuntingan dari duet sastrawan lintas negara, Agus R. Sarjono (Indonesia) dan Berthold Damshäuser (Jerman). Hadir dalam aktivitas tersebut Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste; Direktur Goethe-Institut Jakarta, Constanze Michel, serta sejumlah penyair.

Menurut Ilham Akbar Habibie, kehadiran kitab itu diharapkan mempererat pemahaman emosional dan intelektual antar kedua bangsa melalui para ahli filsafat besar Jerman. Ilham juga menekankan bahwa hubungan antara Indonesia dan Jerman, tidak hanya dibangun di atas pilar teknologi dan ekonomi, melainkan  kebudayaan.

Pemilihan Perpustakaan Habibie & Ainun sebagai letak peluncuran menggarisbawahi warisan visi Presiden RI ke-3, B.J. Habibie, nan dikenal mengagumi kedalaman filosofi dan keteraturan kebudayaan Jerman.

“Melalui puisi, kita diajak menyelami kedalaman rasa, sejarah, dan dinamika pemikiran masyarakat Jerman nan diterjemahkan dengan sangat bagus ke dalam bahasa Indonesia,” tutur Ilham.

HUBUNGAN KULTURAL
Sementara itu, Duta Besar (Dubes) Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, memberikan apresiasi nan tinggi terhadap publikasi kitab antologi dwibahasa itu. Hal itu sebagai jembatan kultural untuk mempererat hubungan diplomatik kedua negara lewat sastra. 

Ralf juga memuji keberanian serta kerja keras kedua penyunting dalam menerjemahkan puisi-puisi klasik Jerman nan sarat makna. Mereka dinilai,  sukses memindahkan keelokan rasa dan kedalaman filosofisnya ke dalam bahasa Indonesia secara apik.

KOLABORASI PULUHAN TAHUN
Buku Antologi Puisi Agung Jerman mengompilasi karya-karya penyair legendaris seperti Johann Wolfgang von Goethe, Friedrich Schiller, Friedrich Nietzsche, hingga Rainer Maria Rilke. Proyek translator dan penyuntingan ini menjadi puncak dari komitmen kolaboratif jangka panjang antara Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser (akademisi sekaligus Indonesianis dari Universitas Bonn) nan konsisten menjembatani sastra kedua negara sejak awal 2000-an.

Dalam peluncuran tersebut, Berthold Damshäuser menjelaskan gimana proyek antologi ini merupakan bentuk nyata dari ambisi dan kecintaan mendalam terhadap sastra Jerman nan mau dia bagikan kepada publik Indonesia.

Sebagai seorang akademisi dan Indonesianis, Beste  memaparkan pentingnya membawa karya-karya penyair besar seperti Goethe, Schiller, dan Nietzsche ke dalam ruang budaya Indonesia, mengingat puisi-puisi tersebut bukan sekadar teks estetis, melainkan sebuah rekaman sejarah pemikiran dan falsafah hidup nan membentuk peradaban modern Jerman hingga saat ini.

TRANSFER JIWA
Sementara itu, Agus R. Sarjono menguraikan kompleksitas teknis dan tantangan imajinatif nan mereka hadapi selama proses translator nan berjalan secara kolaboratif selama
bertahun-tahun.

Ia menekankan bahwa misi utama mereka bukan sekadar mengalihbahasakan kata demi kata, melainkan mentransfer “jiwa” dan ritme puitis original Jerman agar tetap beresonansi dengan indah, mengalir, dan mudah dipahami oleh pembaca Indonesia tanpa kehilangan kedalaman makna filosofisnya.

Salah satu puisi nan dibacakan adalah berjudul “Tujuh Meterai” bersuara sebagai berikut:

Oh, gimana saya tak syahwatkan keabadian
Dan cincin kawin segala cincin,
Cincin Sang Keberulangan!
Tak pernah kutemukan perempuan
Yang mau kujadikan ibu anak-anakku,
Kecuali wanita nan kucintai ini:
Karena kucintai kau, oh Keabadian!
Karena kucintai kau, oh Keabadian!

KEABADIAN PEREMPUAN
Bait ini sering dibacakan dalam obrolan sastra lantaran kedalaman maknanya. Di sini, Nietzsche mempersonifikasikan keabadian sebagai seorang wanita ideal satu-satunya wanita nan dia cintai dan mau dia jadikan ibu dari anak-anaknya.

Simbol cincin kawin segala cincin alias cincin Sang Keberulangan menggambarkan bahwa hidup ini berputar seperti cincin nan tanpa ujung. Bagi Nietzsche, menerima realita bahwa segala momen dalam hidup kita (baik suka maupun duka) bakal berulang terusmenerus secara kekal adalah corak tertinggi dari penerimaan hidup (Amor Fati).

Selain peluncuran buku, aktivitas juga diisi dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Agus R. Sarjono dan Cherly Chairani serta pembacaan puisi dalam bahasa Jerman. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia