Jakarta CNBC Indonesia - Pasar properti residensial tengah mengalami perlambatan pada awal 2026. Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial di pasar primer turun 25,67% secara tahunan pada triwulan I-2026. Namun di tengah lesunya pasar rumah menengah, segmen rumah super premium justru menunjukkan kejadian berbeda.
Ketua DPD AREBI Provinsi Banten Vemby mengatakan rumah-rumah mewah di area elite BSD dan Gading Serpong tetap diminati konsumen kelas atas. Bahkan, sejumlah proyek premium disebut sigap lenyap terjual.
"Kalau di Banten ini agak anomali. Ada segmen atas di BSD dan Gading Serpong nan harganya belasan miliar sampai double digit," ujar Vemby.
Kondisi tersebut menjadi anomali ketika kebanyakan pasar sedang melambat. Rumah-rumah dengan nilai puluhan miliar rupiah justru tetap mempunyai pembeli.
"Di Nava Park BSD apalagi sampai Rp 30 miliar, Rp 80 miliar. Itu malah sigap sold out Pak," lanjutnya.
Unit rumah premium memang tidak dijual dalam jumlah besar. Pengembang biasanya hanya melepas belasan hingga puluhan unit dalam satu tahap pemasaran.
"Unitnya nggak banyak, paling belasan alias 20 unit. Jadi memang limited dan spesial," kata dia.
Keterbatasan pasokan menjadi salah satu aspek nan membikin rumah premium tetap diminati pasar kelas atas. Selain itu, konsumen segmen ini dinilai tidak terlalu terdampak gejolak ekonomi.
"Kita juga sempat kaget kok market nan begini uangnya ada aja terus pembeliannya jalan," sambungnya.
Pembeli rumah premium juga condong sudah menunggu proyek tertentu sejak lama. Karena itu, ketika proyek diluncurkan, transaksi bisa berjalan cepat.
Di sisi lain, pasar rumah kelas menengah justru bergerak lebih lambat lantaran pembeli semakin berhati-hati. Konsumen sekarang memerlukan waktu lebih panjang untuk mengambil keputusan pembelian.
"Yang segmen lain, menengah sama bawah turun cukup banyak. Terutama segmen tengah nan paling banyak kena," ujar Vemby.
Pergeseran perilaku konsumen turut memengaruhi dinamika pasar properti saat ini. Investor mulai berkurang dan digantikan oleh pembeli untuk kebutuhan tempat tinggal.
"Kalau dulu penanammodal banyak. Sekarang lebih banyak end user, jadi transaksinya nggak secepat dulu," kata dia.
Kondisi tersebut membikin developer sekarang lebih selektif dalam menentukan produk nan diluncurkan ke pasar. Pengembang besar disebut mulai menyeimbangkan proyek rumah premium, rumah menengah, hingga area komersial.
"Developer sekarang kombinasi barangnya lebih banyak. Ada nan Rp 1 miliar sampai premium Rp 3-7 miliar tetap mereka isi," ujar Vemby.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·