Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung transformasi sistem kesehatan nasional melalui penguatan riset berbasis kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI), komputasi berkinerja tinggi (High Performance Computing/HPC), hingga pengembangan precision medicine. Langkah tersebut diharapkan bisa memperkuat jasa kesehatan primer nan menjadi konsentrasi reformasi Kementerian Kesehatan.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, transformasi kesehatan tidak dapat dilepaskan dari peran riset dan penemuan nan berakibat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, BRIN terus bekerja-sama dengan Kementerian Kesehatan agar hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan nan lebih efektif.
“Kami tahu juga BRIN punya peran-peran nan saya kira diharapkan dalam rangka untuk mengisi public policy dengan riset dan penemuan nan kita hasilkan. Arah dari riset dan penemuan di BRIN adalah lebih daripada impact, pada gimana riset itu bisa berdampak," kata Arif dalam sambutannya pada aktivitas Leimena Conference 2026 di Gedung Widya Graha Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Pusat, Senin (27/7).
Ia menjelaskan, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, transisi, demografi, urbanisasi, hingga perkembangan teknologi digital memunculkan beragam persoalan baru nan kudu direspons melalui pendekatan ilmiah.
Selain itu, Indonesia juga kudu mulai mengantisipasi meningkatnya jumlah masyarakat lanjut usia seiring bingkisan demografi nan diperkirakan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
“Kita juga dihadapkan pada rumor transisi demografi. Kita menghadapi bingkisan demografi 2030. Indonesia saat ini belum memasuki aging society, namun demikian kita kudu sudah mulai mengantisipasi gimana penyakit-penyakit untuk lansia nan semakin lama jumlahnya semakin bertambah," ujarnya.
Ia menilai, pelayanan kesehatan tak lagi cukup mengandalkan pendekatan kuratif semata. Menurutnya, sistem kesehatan kudu dibangun secara lebih holistik dengan melibatkan beragam sektor, dari pendidikan, riset, industri,lingkungan hingga masyarakat.
Karena itu, dia mengapresiasi transformasi pelayanan kesehatan primer nan dijalankan Kementerian Kesehatan melalui penguatan Puskesmas dan Posyandu.
“Saya sering berjumpa dengan Pak Menteri dan Pak Menteri menekankan pentingnya primary healthcare. Saya kira ini adalah sebuah arah nan tepat lantaran persoalan terbesar masyarakat itu ada di grassroot. Sehingga pendekatan primary healthcare melalui Puskesmas ini menurut saya pendekatan nan sangat tepat untuk mentransformasi masyarakat kita," katanya.
Arif juga menilai modernisasi akomodasi pelayanan kesehatan primer telah menunjukkan kemajuan signifikan, mulai dari pengedaran perangkat ultrasonografi (USG), penguatan platform SatuSehat, hingga pengembangan jasa telemedicine.
Menurutnya, transformasi digital bakal menjadi fondasi krusial bagi sistem kesehatan Indonesia ke depan, terutama dengan berkembangnya teknologi kepintaran buatan.
“Saat ini kita di era transformasi digital. Digital transformation ini sudah menjadi keniscayaan. Saya mengapresiasi adanya SatuSehat sebagai platform nan sangat bagus. Telemedicine sudah ada di mana-mana dan electronic medical record juga sekarang sudah mulai diaplikasikan," ujarnya.
Lebih lanjut, BRIN mempunyai laboratorium genomic Cryo-Electron Microscopy (Cryci-EM) nan diklaim sebagai salah satu akomodasi terbaik di Asia Tenggara. Selain itu, BRIN juga baru meluncurkan High Performance Computing (HPC) alias superkomputer nan masuk jejeran 500 superkomputer terbaik dunia.
“Di BRIN ada perangkat genomik, Cryo-EM, nan merupakan laboratorium genomik terbaik di Asia Tenggara. Baru tiga minggu lampau kita juga me-launching High Performance Computing (HPC). Itu adalah nan tercanggih di Asia Tenggara dan masuk Top 500 superkomputer di dunia. Ini krusial untuk mendukung pengembangan AI," kata Arif.
Ke depannya, Arif menyebut sejumlah konsentrasi riset nan bakal terus dikembangkan BRIN antara lain AI untuk kesehatan, Learning Health System, Precision Public Health, serta Climate Resilient Primary Healthcare gua perkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia menghadapi beragam tantangan global.
“Ketahanan kesehatan Indonesia sangat tergantung pada ketahanan masyarakatnya. Ketahanan masyarakat sangat tergantung pada akomodasi dan lembaga kesehatan di level masyarakat. Oleh lantaran itu memperkuat grassroot, menyehatkan masyarakat grassroot, modernisasi grassroot menjadi keniscayaan. Dan di sinilah kerjasama semua pihak kudu terus diperkuat," pungkasnya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·