BRIN Kembangkan Sistem Deteksi Cepat Pemalsuan Susu

Sedang Trending 3 jam yang lalu
BRIN Kembangkan Sistem Deteksi Cepat Pemalsuan Susu Ilustrasi, BRIN.(Dok. BRIN)

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode penemuan sigap pemalsuan susu dengan mengombinasikan teknik elektrokimia dan kemometrik. Metode ini ditujukan untuk mengidentifikasi adanya bahan pencemar seperti melamin dan urea nan kerap disalahgunakan dalam praktik pemalsuan susu.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra, menyampaikan bahwa susu merupakan salah satu produk pangan nan banyak dikonsumsi masyarakat, namun rentan dipalsukan.

“Melamin dan urea sering digunakan untuk meningkatkan kadar nitrogen sehingga produk tampak mempunyai kualitas protein nan lebih baik daripada kondisi sebenarnya. Pengembangan metode penemuan nan sigap dan jeli menjadi langkah krusial untuk memastikan keamanan produk susu nan beredar di masyarakat” kata Budi dalam keterangannya, Minggu (7/6).

Menurut Budi, kedua senyawa tersebut berpotensi membahayakan kesehatan. Melamin merupakan senyawa berbisa nan dapat menyebabkan batu ginjal, kandas ginjal akut, hingga kematian, terutama pada bayi dan anak-anak. Sementara itu, mengkonsumsi urea dalam jumlah berlebihan dapat memicu gangguan metabolisme, gangguan saluran pencernaan, serta beragam masalah kesehatan jangka panjang.

Pengembangan metode ini mengkombinasikan teknik  elektrokimia dengan pendekatan kemometrik. Budi menjelaskan, teknik elektrokimia digunakan untuk memperoleh sinyal unik dari sampel susu. Kandungan masam amino dalam susu dapat mengalami proses oksidasi dan reduksi sehingga menghasilkan pola pengukuran elektrokimia nan spesifik. 

“Ketika susu dicampur dengan melamin alias urea, pola sinyal nan dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kadar alias tingkat pemalsuan. Namun, pola sinyal tersebut tidak dapat dibedakan secara visual dan memerlukan kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi perbedaannya. Oleh lantaran itu, digunakanlah pendekatan kemometrik untuk mengolah info hasil pengukuran elektrokimia,” dia menjelaskan.

Penelitian nan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu,  menggunakan beberapa metode kajian statistik, ialah Principal Component Analysis (PCA), Partial Least Squares Regression (PLSR), dan Hierarchical Cluster Analysis (HCA). 

“PCA digunakan untuk mereduksi dimensi info dan memvisualisasikan perbedaan pola antara susu murni dan susu nan telah dicampur melamin alias urea. Sementara itu, PLSR digunakan untuk membangun model prediksi kadar bahan pencemar dengan tingkat kecermatan nan tinggi. Adapun HCA berfaedah mengelompokkan sampel berasas kemiripan respons elektrokimianya” dia memaparkan.

Selain mempunyai tingkat kecermatan nan baik, Budi mengungkapkan bahwa metode nan dikembangkan juga berpotensi menjadi sistem penemuan lapangan nan praktis. Pengukuran dilakukan menggunakan potentiostat portabel nan dihubungkan dengan elektroda portabel, sehingga tidak memerlukan akomodasi laboratorium nan kompleks.

“Ke depan, metode ini sangat berkesempatan dikembangkan menjadi perangkat penemuan sigap nan dapat digunakan secara in-situ. Penggunaannya memungkinkan dilakukan langsung di sentra pengumpulan susu alias koperasi peternak untuk melakukan skrining berdikari terhadap kualitas susu sebelum diproses lebih lanjut,” dia mengungkapkan.

Keberadaan teknologi penemuan sigap ini dapat mendukung upaya pengawasan mutu pangan sekaligus melindungi konsumen dari akibat kesehatan akibat konsumsi susu nan telah dipalsukan. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia