BPS Pastikan Kenaikan Harga Plastik Belum Berdampak Langsung ke Konsumen

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi kantong plastik. Foto: Yung Chi Wai Derek/Shutterstock

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan kenaikan harga plastik belum berakibat langsung pada konsumen. Menurutnya, perihal itu lantaran plastik bukan pengeluaran terbesar dalam konsumsi masyarakat.

“Mengapa nilai plastik nan di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen? Karena jika kita lihat memang berat terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik. Artinya bahwa dari sekian konsumsi masyarakat memang proporsi terbesar adalah dikeluarkan oleh masyarakat itu pengeluarannya untuk tarif listrik,” kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi, Senin (18/5).

Amalia mengatakan tarif listrik menjadi komoditas dengan berat terbesar dalam struktur inflasi, ialah 4,8850 persen. Selain tarif listrik, Amalia juga menjelaskan berat terbesar keranjang konsumsi masyarakat adalah bensin dan beras. Sehingga, jika nilai bensin tak disubsidi maka komoditas itu bakal mempunyai andil besar dalam inflasi.

“Seandainya ada penyelesaian nilai bensin terutama nan subsidi ini bakal juga bisa memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena sampai saat ini bensin nan subsidi nan sebagian besar masyarakat kita mengkonsumsi bensin bersubsidi. Sehingga belum terasa dampaknya secara signifikan ke dalam inflasi, nan kemudian terjadi kenaikan tadi bensin adalah nan berasal dari bensin nonsubsidi,” ujarnya.

“Ketiga beras, makanya kemudian dari sini beras bakal sangat berpengaruh terhadap inflasi lantaran memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat kita relatif tinggi,” tambahnya.

Bensin mempunyai berat SBG 4,4336 persen dengan tingkat inflasi 0,20 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,0094 persen pada April lalu. Sementara beras mempunyai berat SBH 3,4260 persen dan mengalami inflasi 4,36 persen dan memberikan andil inflasi 0,1754 persen pada April lalu.

Kepala BPS Amalia Adinggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Selasa (5/5/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Amalia menegaskan masyarakat tak mengkonsumsi plastik secara langsung. Namun, ada salah satu komoditas nan tetap masuk ke dalam 20 besar keranjang konsumsi masyarakat nan berangkaian dengan plastik, ialah air kemasan.

Amalia menjelaskan andil komoditas air bungkusan pada inflasi nantinya memang tetap berjuntai dari nilai air bungkusan nan ditetapkan produsen.

“Sepanjang air bungkusan itu harganya tidak berubah tergantung dari perusahaan produsen air bungkusan apakah dia meningkatkan alias meningkatkan harganya akibat dari nilai plastik meningkat alias enggak. nan dirasakan oleh konsumen adalah bukan nilai plastiknya tetapi nilai air kemasannya,” terang Amalia.

Amalia menuturkan nantinya akibat kenaikan nilai plastik pada konsumen dapat terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Hal ini lantaran plastik berangkaian dengan beberapa produk nan menggunakan bahan tersebut sebagai pembungkus.

“Nah ini jadi artinya transmisi kenaikan nilai plastik kepada konsumen alias IHK itu tergantung dari seberapa besar produsen-produsen makanan nan menggunakan plastik dalam pembukusnya. Seperti air bungkusan alias kue-kue dalam plastik itu kemudian meningkatkan nilai barangnya itulah nan kemudian kelak dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks nilai konsumen,” tutur Amalia.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan