BPBD Banyumas Catat Krisis Air Bersih Tahun Ini Terparah dalam 3 Tahun Terakhir

Sedang Trending 1 hari yang lalu
BPBD Banyumas Catat Krisis Air Bersih Tahun Ini Terparah dalam 3 Tahun Terakhir Ilustrasi(MI/Lilik Darmawan)

KRISIS air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 2026 menjadi nan terparah dalam tiga tahun terakhir. Dampak kekeringan telah meluas ke 97 desa di 24 kecamatan dengan total 82.667 jiwa alias 23.851 kepala family (KK) terdampak.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan akibat kekeringan tahun ini meningkat drastis dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada 2023, kekeringan melanda 81 desa, sedangkan pada 2024 tercatat sebanyak 64 desa terdampak.

"Kalau dibandingkan tahun 2023 dan 2024, tahun ini memang paling berat. Peningkatannya sangat drastis lantaran musim kemarau lebih panjang dan wilayah terdampaknya juga lebih luas," ujarnya pada Kamis (15/10).

Meluasnya wilayah terdampak membikin upaya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat kudu dilakukan secara intensif. BPBD Banyumas terus mengerahkan armada untuk mendistribusikan air bersih ke desa-desa nan mengalami kesulitan mendapatkan air akibat menyusutnya sumber air selama musim kemarau.

Volume air bersih nan telah disalurkan mencapai 7.345.000 liter melalui 1.455 ritase pengiriman. Distribusi dilakukan secara berkepanjangan untuk memastikan penduduk di wilayah terdampak tetap mendapatkan pasokan air bersih.

"Untuk penyalurannya pun tetap dilakukan secara berkelanjutan, mulai pagi hingga pagi, demi memenuhi kebutuhan penduduk di wilayah terdampak," katanya.

Jumlah desa dan penduduk nan terdampak juga terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan info BPBD Banyumas pada Jumat (9/10) pekan lalu, kekeringan melanda 85 desa dan kelurahan di 22 kecamatan dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 76.425 jiwa alias 22.162 KK.

Dalam kurun waktu lima hari, cakupan kekeringan bertambah menjadi 97 desa di 24 kecamatan. Jumlah penduduk terdampak meningkat sebanyak 6.242 jiwa, sedangkan jumlah family nan mengalami akibat kekeringan bertambah 1.689 KK. (LD/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑