Bos Pengusaha Plastik Jamin Tak Ada PHK Meski Dihantam Gejolak Global

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri plastik nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat gejolak global, mulai dari gangguan pasokan bahan baku hingga lonjakan harga. Namun di tengah kondisi tersebut, pelaku industri memastikan sektor ini tetap bisa memperkuat tanpa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso memastikan hingga saat ini tidak ada laporan PHK dari personil asosiasi.

"Sampai dengan hari ini tidak ada satu pun personil Inaplas nan melaporkan kejadian PHK. Dengan demikian Inaplas juga tidak pernah melaporkan kepada pemerintah terjadinya PHK di industri personil kami," katanya dalam obrolan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Tekanan terhadap industri tidak datang tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini sudah lebih dulu dihantam beragam tantangan struktural, mulai dari ketergantungan impor hingga praktik dumping dari luar negeri.

Kondisi terbaru semakin kompleks ketika pasokan bahan baku terganggu akibat dinamika geopolitik global. Situasi ini memaksa pelaku industri untuk beradaptasi sigap agar operasional tetap berjalan.

Wakil Ketua Inaplas Edi Rivai menyampaikan industri petrokimia mempunyai karakter berbeda dibanding sektor lain, terutama dalam perihal struktur biaya dan pola produksi.

"Kalau lihat dari komponen kos industri petrokimia dan plastik hilir lebih dominan cost-nya adalah dari bahan baku. Jadi bukan cost untuk tenaga kerja. Karena itu sejak 10 tahun terakhir nyaris tidak ada bicara mengenai PHK di industri ini," ujar Edi.

Dalam kondisi sulit, industri condong menyesuaikan strategi operasional dibanding langsung mengurangi tenaga kerja. Hal ini dilakukan lantaran proses produksi petrokimia berkarakter berkepanjangan dan tidak bisa dihentikan secara tiba-tiba.

Selain itu, ketergantungan terhadap rantai pasok dunia juga membikin perusahaan lebih konsentrasi menjaga keberlanjutan produksi dibanding melakukan efisiensi melalui PHK.

Edi menegaskan akibat PHK lebih mungkin terjadi di sektor hilir tertentu nan sangat tergantung pada satu pasar alias satu jenis produk.

"Kalau pun terjadi, biasanya di hilir nan sangat spesifik, misalnya tergantung satu pengguna alias terdampak dumping berat. Tapi secara industri plastik secara umum, itu sangat jarang terjadi," katanya.

Di tengah tekanan ini, industri memilih konsentrasi pada strategi memperkuat alias survival mode. Langkah ini mencakup pengamanan pasokan bahan baku, efisiensi operasional, dan diversifikasi sumber input.

Kondisi tersebut juga mendorong pelaku industri untuk memperkuat hubungan dengan pasar domestik agar tidak terlalu berjuntai pada impor.

Edi menegaskan menjaga operasional tetap melangkah menjadi prioritas agar industri tidak mengalami akibat nan lebih besar.

"Yang krusial buat kita adalah gimana memastikan kita bisa survive. Karena jika berhenti, tambah susah. Jadi strategi kita adalah menjaga operasional tetap jalan dan mengamankan pasokan bahan baku," tegasnya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News