Bos OpenAI Sam Altman Yakin Industri AI Mampu Atur Keamanan Secara Mandiri

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Bos OpenAI Sam Altman Yakin Industri AI Mampu Atur Keamanan Secara Mandiri Sam Altman percaya perusahaan AI bisa izin diri secara aman. Namun, pendapat ini memicu perdebatan dengan master industri lainnya.(AFP)

BOS OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa masyarakat semestinya mempunyai kepercayaan lebih terhadap perusahaannya dan developer lain untuk melakukan perihal nan betul dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran publik mengenai akibat teknologi tersebut.

"Dunia kudu percaya bahwa kami bakal melakukan perihal nan betul lantaran itu adalah perihal nan betul dan kami merasakan besarnya tanggung jawab ini," ujar Altman pada Selasa saat menghadiri konvensi tahunan nan diselenggarakan oleh Salesforce di San Francisco.

Meski demikian, Altman menilai kekhawatiran masyarakat terhadap AI dapat dimaklumi mengingat kemajuan teknologinya nan sangat cepat.

"Tidak perlu khayalan sebanyak dulu bagi (kita) untuk membayangkan gimana perihal ini bisa serbASalah. Menurut saya bumi betul untuk takut bakal perihal ini," katanya.

Pernyataan Altman muncul setelah unggahan seorang peneliti AI nan mengundurkan diri dari Anthropic menjadi viral. Peneliti tersebut menyatakan bahwa AI dapat menakut-nakuti umat manusia jika tidak diawasi. CEO Anthropic, Dario Amodei, lantas menyerukan agar laju pengembangan AI diperlambat dan mendorong pemerintah untuk merilis regulasi.

Di tengah belum adanya izin resmi di Amerika Serikat, Altman merasa perusahaan AI bisa melakukan izin berdikari secara aman.

"Kami bakal melakukannya dengan benar, saya sangat percaya dengan keahlian perusahaan dan industri kami untuk melakukan ini secara aman," tutur Altman. Ia menambahkan bahwa mereka bakal "menjaga keselarasan dan keamanan jauh di depan kemampuan," serta bersiap untuk "memperlambat alias berhenti" jika tidak bisa menjamin keamanan tersebut.

Pandangan senada disampaikan oleh ketua Nvidia, Jensen Huang. Menurutnya, perusahaan AI sendiri nan kudu menentukan kepantasan rilis jenis baru tanpa kombinasi tangan pihak luar.

"Kita tidak memerlukan undang-undang alias izin baru," kata Huang, sembari menambahkan agar tidak menciptakan "pilihan palsu" antara kecepatan penemuan dan keamanan produk.

"Keamanan adalah nan utama. Namun, keamanan adalah masalah rekayasa (engineering)," tambah Huang. Ia menilai jika seorang pemimpin perusahaan AI ragu terhadap keamanan produknya, langkah nan kudu diambil adalah menunda perilisannya. "Berlarilah secepat nan Anda bisa, tetapi jika kapan saja Anda merasa lembaga tersebut tidak terkendali, ambillah jeda."

Namun, pendapat membiarkan pelaksana AI mengatur diri mereka sendiri memicu kritik keras dari sejumlah tokoh industri. Eksekutif dan co-founder Anthropic, Jack Clark, menilai industri tanpa izin bagai mengocok dadu dengan akibat nan sangat besar.

Chief Operating Officer Logical Intelligence, Patrick Hillman, juga menyuarakan sikap skeptis publik terhadap perusahaan teknologi.

"Satu-satunya lembaga nan mungkin kurang dipercaya oleh penduduk Amerika dibandingkan Washington saat ini adalah Silicon Valley. Saya pernah bekerja dan tinggal di keduanya, dan saya yakinkan Anda bahwa keduanya layak mendapatkan sikap skeptis ini," ujar Hillman.

Ia menambahkan, "Jika Anda percaya apa nan Anda bangun itu berbahaya, tunjukkan kepada kami apa nan bersedia Anda hentikan."

Saat ini, beberapa ketua perusahaan AI mengaku mulai bergerak menuju kesepakatan tingkat industri mengenai standar keamanan. Dario Amodei mengonfirmasi Anthropic sedang berbincang dengan pelaku industri lainnya, sementara pelaksana OpenAI Chris Lehane menyatakan pihaknya bekerja sama dengan laboratorium AI lain seperti Anthropic dan Google DeepMind untuk membangun standar sukarela, dengan alias tanpa support pemerintah. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia