Anggie Ariesta
, Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |14:38 WIB

Bos OJK Buka-bukaan Kondisi Sektor Keuangan RI di Tengah Gejolak Global (Foto: Okezone)
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa finansial nasional tetap terjaga dengan pertumbuhan kegunaan intermediasi nan kuat, meskipun perekonomian dunia tetap dibayangi akibat geopolitik dan tekanan inflasi nan tinggi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa Rapat Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026 mencatat adanya tantangan dari ketegangan di area Timur Tengah nan memicu gangguan rantai pasok daya global.
"Risiko geopolitik di area Timur Tengah tetap tinggi seiring dengan berlarutnya bentrok di Iran dan tetap tertutupnya Selat Hormuz," kata Kiki sapaan akrabnya dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasill RDKB Agustus 2026, Senin (7/9/2026).
Kiki menjelaskan, terhambatnya jalur pengedaran daya tersebut memicu volatilitas nilai minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi dunia tetap berada di level tinggi. Kondisi ini kian diperberat oleh kejadian El Nino berkepanjangan nan menimbulkan kekeringan serta kebakaran rimba di beragam bagian dunia.
Perkembangan ekonomi dunia pun condong termoderasi pada kuartal II/2026. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melambat di bawah ekspektasi, sementara PDB Tiongkok hanya tumbuh 4,3 persen year-on-year (YoY) dengan pelemahan nan bersambung pada sektor produksi dan permintaan domestik.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, keahlian perekonomian domestik Indonesia justru mencatatkan resiliensi nan solid.
"Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan 2 2026 tercatat tetap kuat, dengan tumbuh sebesar 5,29 persen year-on-year, didukung investasi dan shopping pemerintah. Konsumsi rumah tangga nan kuat juga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan," jelas Kiki.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·