Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkapkan, kebutuhan investasi untuk membangun jaringan kereta api nan tersambung dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh mencapai sekitar Rp350 triliun. Nilai tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam rencana pembangunan koridor rel terintegrasi di Pulau Sumatra nan menjadi pengarahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, proyek konektivitas kereta api Sumatra tetap dalam tahap pengkajian. Namun, berasas kalkulasi awal, kebutuhan investasi untuk membangun jaringan rel dari ujung selatan hingga ujung utara Sumatra mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS).
"Kalau totalnya itu (pembangunan jaringan rel) Sumatra, itu bisa sekitar US$20 sampai dengan US$25 miliar, alias sekitar Rp350 triliun dari ujung ke ujung," kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menuturkan, proyek tersebut merupakan tindak lanjut pengarahan Presiden Prabowo untuk mengembangkan jaringan kereta api nan bisa menghubungkan seluruh wilayah Sumatra dalam satu koridor.
"Berdasarkan pengarahan dari Pak Presiden, itu untuk melakukan pengembangan jaringan di Pulau Sumatra, ialah gimana kita menghubungkan antara Banda Aceh dengan Bandar Lampung," ujarnya.
Saat ini, lanjut dia, jaringan kereta api di Sumatra tetap belum terhubung sepenuhnya dan beraksi secara terpisah di sejumlah wilayah.
"Kalau kita lihat nan existing sekarang itu hanya sepotong-sepotong dari Bandar Lampung sampai Palembang gitu ya. Kemudian dari Bandar Lampung itu sampai Lubuk Linggau. Kemudian dari Medan juga sedikit gitu ya. Dari Padang juga sedikit," jelas dia.
Sebagai tahap awal, KAI memprioritaskan pembangunan jalur nan menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang di Sumatra Utara. Ruas tersebut mempunyai panjang sekitar 478 kilometer dan saat ini tengah disiapkan perincian engineering design (DED)-nya.
"Nah prioritas kita nan pertama itu adalah menghubungkan antara Banda Aceh dengan Besitang itu totalnya itu sekitar 478 km. Ini DED-nya kita lagi bikin ya," ungkapnya.
Untuk menggarap proyek berbobot ratusan triliun rupiah tersebut, pemerintah telah membentuk tim unik nan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Tim itu bekerja mengkaji aspek teknis hingga skema pembiayaan proyek.
"Oh itu kan penugasan dari Presiden ke kita. Nah, kita sekarang itu membikin tim unik untuk pengkajian ini. Itu dengan Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, dengan Danantara, serta dengan Kementerian Perhubungan," kata Bobby saat ditemui usai rapat.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah maupun KAI belum menetapkan sumber pendanaan nan bakal digunakan untuk membangun proyek tersebut.
"Belum, belum sampai itu," ujarnya saat ditanya mengenai opsi pendanaan.
Menariknya, jalur kereta api nan direncanakan membentang nyaris 1.700 kilometer itu tidak hanya bakal tersambung penuh dari Aceh hingga Lampung. Presiden juga meminta agar jaringan tersebut langsung dibangun dengan kapabilitas jalur dobel alias double track.
"Penuh, (tersambung) penuh. Bahkan Presiden mintanya itu dua jalur nantinya," kata Bobby.
Ia mengakui pembangunan jaringan rel sepanjang nyaris 1.700 kilometer tersebut bakal memerlukan waktu nan panjang dan kemungkinan dikerjakan dalam beberapa tahun anggaran.
"Wah itu kan panjangnya nyaris 1.700 kilometer ya, bisa multi years itu," sebutnya.
Bahkan ketika ditanya apakah pembangunan bisa dimulai dengan jalur tunggal terlebih dahulu, Bobby menegaskan pengarahan Presiden adalah langsung membangun dua jalur sekaligus.
"Enggak-enggak, beliau (Presiden) mintanya itu langsung dua track," pungkasnya.
Rapat kerja Komisi VI DPR dengan KAI dan INKA di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Rapat kerja Komisi VI DPR dengan KAI dan INKA di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·