Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026) pagi. Sidak ini dilakukan sejak pagi hari dengan menyusuri lapak-lapak pedagang sembako, sekaligus berbincang langsung untuk menggali persoalan nan dihadapi di lapangan.
Setibanya di lokasi, Rizal tak sekadar memantau harga, tetapi juga aktif berbincang dengan pedagang mengenai kondisi pasokan, nilai jual, hingga hambatan pengedaran minyak goreng rakyat merek Minyakita. Ia apalagi menanyakan langsung perincian nilai hingga praktik pengembalian duit receh kepada pembeli.
"Minyakita 2 liter, harganya?" tanya Rizal.
"Rp31.400 (per bungkusan 2 liter) ya," jawab Rudi, salah seorang pedagang sembako kepada Rizal.
Rizal kemudian menegaskan, "Enggak boleh lebih ya. Harus siapin duit kembalian ya."
Ia pun mengingatkan agar pedagang tidak meningkatkan nilai seenaknya, meski kenaikan itu hanya Rp100-200 saja, dengan dalih tidak ada duit kembalian.
"Oke betul. Jangan dilempeng-lempengin. Jangan jual Rp35.000 (per bungkusan 2 liter)," ucap Rizal.
Tak hanya menyoroti Minyakita, dia turut menanyakan kondisi stok dan nilai jual minyak curah. Pedagang menjelaskan, kondisi minyak curah sekarang ikut terdampak kenaikan biaya, imbas dari kenaikan nilai plastik kemasan.
Foto: Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
"Minyak ini curah Rp23.000 (per kg). Dari sananya sudah Rp21.000 (per kg) pak. Belum plastiknya pak, plastiknya mahal pak," kata Rudi.
Rizal pun menelusuri penyebab kenaikan tersebut. "Oh plastiknya mahal, Naik berapa persen?" Tanya Rizal.
Rudi sang pedagang menjawab, "1 kg sampai Rp15.000-an (harga plastik)."
"Sebelumnya ya kayak Cap Wayang kemarin saya beli di nilai Rp40.000, sekarang udah sampe Rp68.000," sambung Rudi.
Menanggapi perihal itu, Rizal menyatakan pihaknya bakal berkoordinasi dengan pemerintah.
"Naik lagi, Nanti kita lagi komunikasikan dengan Kementerian Perindustrian, unik untuk komoditas plastik ini lagi kita upayakan cari solusinya, agar Ada teknologi baru untuk packaging. Karena memang plastik sangat Naik nilai biji plastiknya," jelas Rizal.
Selain harga, pedagang juga mengeluhkan keterbatasan pasokan Minyakita.
"Kalau bisa pak, kuota Minyakita ini mesti ditambah pak, Soalnya kan mereka di sini kan mahal (minyak curah). Mereka ambil di sini (minyakita) lari ke minyak kita," ujar Rudi.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lain, Ratno. Ia meminta tambahan pasokan lantaran kuota menurun usai Lebaran kemarin.
"Pak Dirut, pasokannya minta ditambah. Setelah Lebaran kuotanya kurang, kayaknya dikit. Minta tambahin lagi. Biasanya kan saya pesan 400 dus (kardus), Cuma lagi dikit jadi (cuma) 100 kardus," sebut Ratno kepada Rizal.
Usai sidak, Rizal menjelaskan aktivitas tersebut merupakan agenda rutin Bulog.
"Pagi hari ini kami melaksanakan sidak pasar, seperti biasa, rutin. Kami melaksanakan sidak itu rata-rata seminggu tiga kali," ujarnya.
Ia memastikan secara umum nilai tetap terkendali. "Dari pengecekan untuk nilai beras, kemudian minyakita stabil ya sesuai dengan HET, terutama minyakita," ucap dia.
Namun, dia mengakui adanya peningkatan permintaan akibat pergeseran konsumsi dari minyak curah ke Minyakita.
"Sementara kita saksikan berbareng Minyakita juga ada di lapangan dan memang perlu penambahan stok. Ini memang kita tidak pungkiri lantaran terus terang akibat dari kenaikan nilai plastik ini minyak curah. Jadi para konsumen minyak curah beranjak kepada Minyakita. Karena kenaikan nilai plastik bungkusan dan lain sebagainya, sehingga beranjak ke Minyakita. Maka kebutuhan Minyakita semakin besar," jelasnya.
Rizal mengatakan, pihaknya telah mengusulkan tambahan kuota untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut.
"Nah kemarin kami sudah sampaikan, bahwa kita sudah mengusulkan kuota tambahan Minyakita untuk memenuhi kebutuhan nasional, ialah khususnya untuk pasar-pasar SP2KP seperti ini, ditambah pasar-pasar tradisional, maupun support pangan di periode Februari-Maret ini," terang Rizal.
Ia pun berambisi tambahan kuota segera terealisasi.
"Syukur Alhamdulillah mungkin kita tinggal tunggu tambahan kuota tersebut, sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan nasional unik untuk minyakita," pungkasnya.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·