Jakarta, CNBC Indonesia — Niat mencari duit buat bayar sekolah, seorang bocah SMP di Kediri berjulukan Seger justru menemukan kekayaan karun berbobot fantastis. Temuan tak sengaja ini mengubah hidupnya dan sempat menghebohkan publik.
Kisah ini memang bukan kejadian baru. Peristiwa tersebut terjadi pada 1989, namun hingga sekarang tetap dikenang sebagai salah satu penemuan kekayaan karun paling mengejutkan di Indonesia.
Kisahnya bermulai saat libur kenaikan kelas tiba. Seger diliputi dua perasaan: senang lantaran tak perlu masuk sekolah, tetapi juga resah lantaran belum bisa melunasi biaya pendidikan.
Untuk menutup kebutuhan itu, dia memilih bekerja sebagai pekerja tani di sekitar tempat tinggalnya di Jawa Timur. Waktu libur dimanfaatkan untuk mencangkul sawah milik orang lain, meski kudu berpanas-panasan dari pagi hingga sore.
"Saya memburuh lantaran perlu duit untuk bayar SPP nan sudah menunggak dua bulan. Rapor saya pun ditahan," ujar Seger kepada harian Suara Karya (2 Desember 1989).
Sejak awal Juni, dia mencangkul dan menguruk sawah milik orang lain setiap hari dari pagi hingga senja di bawah terik matahari. Pekerjaan itu tak mudah, tapi Seger tak punya pilihan.
Sampai akhirnya, takdir berbicara lain. Pada 21 Juni 1989, saat tengah mencangkul tanah sedalam separuh meter, tiba-tiba pacul Seger menghantam sesuatu nan keras. Bukan batu, tapi dentingan logam nan asing, seperti bunyi emas beradu.
Penasaran, Seger menggali lebih dalam. Ia terkejut saat menemukan sebuah barang pipih berlapis emas murni, dihiasi permata dan berlian. Lalu dia memanggil dua temannya dan bersama-sama mereka membawa barang misterius itu ke instansi polisi.
Penemuan ini sontak menggegerkan masyarakat. Media nasional ramai memberitakan sosok Seger dan kisah tak terduganya. Anak kampung nan awalnya memanfaatkan waktu liburan dan kesulitan bayar sekolah, sekarang dikenal lantaran menemukan kekayaan karun.
Harta Karun Majapahit
Setelah diperiksa oleh otoritas terkait, barang nan ditemukan Seger mempunyai dimensi sekitar 25x35 cm dengan berat mencapai 1,2 kilogram. Benda tersebut diketahui terbuat dari emas murni dan dihiasi dengan 48 butir permata serta berlian.
Di beberapa bagian, terlihat relief bergambar mentari dan burung garuda. Mengacu pada laporan Kompas (2 Desember 1989), para mahir menduga barang ini berasal dari periode akhir Kerajaan Majapahit.
Dugaan ini didasarkan pada ornamen nan terukir di permukaan emas tersebut, ialah relief mentari nan melambangkan Majapahit dan burung garuda nan dikenal sebagai wahana Dewa Wisnu dalam mitologi Hindu.
Jika dinilai dari sisi materi, temuan Seger berbobot sangat tinggi. Emas seberat 1,2 kilogram saja sudah berbobot miliaran rupiah. Belum lagi jika dihitung nilai dari permata, berlian, dan aspek sejarah nan menyertainya.
Menggunakan referensi nilai emas masa kini, nilai emas itu setidaknya setara dengan Rp2,3 miliar. Angka ini bisa jauh lebih besar jika nilai artistik dan arkeologis ikut diperhitungkan. Namun, Seger tidak bisa menikmati seluruh nilai dari kekayaan karun tersebut.
Sesuai ketentuan, barang berhistoris itu langsung diserahkan kepada negara dan sekarang tersimpan di Museum Nasional. Sebagai corak apresiasi, Presiden Soeharto saat itu memberikan kompensasi sebesar Rp19,4 juta kepada Seger, serta menjamin danasiwa pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Meski kandas menjadi miliarder muda, Seger tak menyesal. Baginya, dia mendapat pengalaman nan tak terulang seumur hidupnya, ialah mendapat kekayaan karun ketika liburan sekolah. Bahkan, dari kekayaan karun tersebut namanya viral dan bisa melanjutkan sekolah tanpa memikirkan biaya.
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Khusus mengenai bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.(mkh/mkh)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·