Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution membujuk Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut memperkuat kerjasama dan melakukan intervensi terpusat guna memberantas peredaran gelap narkotika di Sumut. Pemerintah Provinsi (pemprov) Sumut juga menyatakan siap mendukung dari sisi anggaran agar penanganan narkoba dapat dilakukan secara serius dan tuntas.
Hal tersebut disampaikan Bobby Nasution saat menerima audiensi Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Tatar Nugroho beserta jejeran di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Selasa (2/6/2026).
“Pada pertemuan ini, saya mau adanya kerjasama kuat dalam penuntasan narkoba. Saya minta kita lakukan intervensi secara terpusat, khususnya difokuskan pada beberapa wilayah nan menjadi titik masuk utama dan pusat peredaran narkoba,” ujar Bobby Nasution.
Bobby mengaku cemas terhadap masa depan generasi muda di Sumut. Menurutnya, narkoba sekarang semakin mudah diakses lantaran harganya nan makin terjangkau dan telah menyasar usia muda.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemprov Sumut bakal mengambil langkah konkret dengan memperbanyak aktivitas masyarakat dan program-program positif di wilayah rawan narkoba. Selain itu, Pemprov Sumut juga bakal memperkuat edukasi dengan mendorong setiap aktivitas pemerintahan maupun kemasyarakatan menyisipkan pesan ancaman narkoba.
Namun demikian, Bobby mengakui tetap terdapat hambatan di tingkat provinsi, terutama keterbatasan sumber daya manusia nan mempunyai kompetensi unik dalam penanganan narkoba secara masif.
Terkait keterbatasan anggaran nan dihadapi BNNP Sumut, Bobby menegaskan komitmen Pemprov Sumut untuk membantu.
“Kita minta program konkret dari BNNP. Mengenai anggaran, Pemprov Sumut bakal berupaya membantu. Kita kudu serius agar Sumut betul-betul terbebas dari narkoba,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Tatar Nugroho mengungkapkan bahwa Sumatera Utara saat ini tetap menempati ranking pertama nasional dalam jumlah pengguna narkoba.
“Dari sekitar 15 juta total masyarakat Sumut, terdapat 10 persen nan menjadi pengguna narkoba. Tingkat penyebarannya pun belakangan ini sudah merambah hingga ke desa-desa,” ungkap Tatar.
Ia menjelaskan, tingginya nomor penyalahgunaan narkoba di Sumut dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya kondisi geografis Sumut nan menjadi jalur utama masuknya narkoba. Wilayah Sumut juga diapit sejumlah titik rawan di bagian selatan nan menjadi pintu masuk penyelundupan.
Menurut Tatar, pada tahun 2025 penyalahgunaan narkoba didominasi usia produktif 15 hingga 45 tahun. Namun sekarang trennya mulai merambah anak-anak usia sekolah.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, BNNP Sumut tetap konsentrasi menekan peredaran narkoba di pintu-pintu masuk utama serta wilayah pedesaan. Upaya tersebut, menurutnya, mulai menunjukkan hasil dengan adanya penurunan nomor peredaran di sejumlah wilayah.
“Kami sangat mengapresiasi sambutan Bapak Gubernur. Kami berambisi momentum audiensi ini dapat memperkuat kerjasama nyata dengan Pemprov Sumut guna menyelamatkan generasi bangsa,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·