BNPT: 620 Anak Teridentifikasi Terkait True Crime Community Sepanjang 2026

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap info jumlah anak nan teridentifikasi terpapar mengerti ekstremisme lewat golongan True Crime Community (TCC). BNPT mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah mengatasi persoalan itu.

Hal itu disampaikan Kepala BNPT Eddy Hartono dalam aktivitas 'Penguatan Peran Komite Sekolah, Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan nan Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan' di Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026). Selain terpapar ekstremisme, ada anak nan terpapar mengerti ideologi ISIS lewat ruang digital.

Dalam info nan dipaparkan Eddy, anak-anak nan mengenai dengan TCC itu berumur 11-18 tahun dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sementara 137 anak nan terpapar ISIS itu tersebar di 27 provinsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka kebanyakan terkoneksi dalam salah satu organisasi alias ekosistem digital nan berinteraksi terhadap kejadian kejahatan nyata, ialah dalam grup True Crime Community," ujar Eddy.

Eddy menyebut grup TCC itu tidak sama dengan jaringan terorisme. Dia mengatakan BNPT tetap waspada lantaran isi grup tersebut bisa mempengaruhi perilaku remaja.

"Hal nan perlu diperjelas adalah True Crime Community sebenarnya tidak sama dengan terorisme. Ini hanya media, komunitas, alias ekosistem digital nan menjadi perantara ketika dijadikan sarana untuk komunikasi, sharing, ataupun diskusi. Hal nan sangat rawan adalah andaikan ada perubahan perilaku dari remaja nan tergabung di dalam grup ini," ujar Eddy.

Eddy menjelaskan, internet menjadi sarana paling banyak digunakan golongan radikal untuk propaganda, perekrutan, dan pendanaan terorisme. Dia mengatakan peran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sangat krusial untuk mencegah anak terpapar ekstremisme ataupun terorisme.

"Kami memandang berasas penilaian perilaku berbasis risiko. Ketika terjadi perubahan perilaku alias trajektori, anak tersebut mulai mengglorifikasi alias menormalisasi kekerasan. Hal inilah nan dicoba dimitigasi dari tingkat SMP, madrasah, hingga sekolah rakyat berbareng Kementerian Pendidikan Dasar Menengah untuk memperkuat organisasi sekolah," ujarnya.

(haf/haf)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News