BNPB Sebut Titik Panas Karhutla di Kalimantan Meningkat, Prioritaskan OMC

Sedang Trending 21 menit yang lalu

Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada peningkatan titik panas dan sebaran asap pada kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dalam sepekan terakhir. Untuk itu, BNPB memperkuat penanganan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penambahan armada udara, serta penguatan personel dan sarana pemadaman di darat.

"Penguatan penanganan Karhutla juga dilakukan melalui penambahan armada udara. BNPB saat ini menyiagakan 30 unit helikopter untuk mendukung operasi water bombing dan patroli udara di wilayah Kalimantan. Sementara itu, sebanyak 22 unit helikopter disiagakan untuk mendukung penanganan Karhutla di wilayah Sumatra," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut, jumlah armada tetap dapat ditambah sesuai kebutuhan lapangan dan pengarahan Presiden Prabowo Subianto, serta hasil koordinasi dengan Kementerian Pertahanan. Selain operasi udara, pemerintah memperkuat satgas darat dengan menambah perlengkapan bagi personel, termasuk Alat Pelindung Diri (APD) dan pompa air bertekanan tinggi (high-pressure pump).

"Penguatan ini ditujukan untuk memastikan proses pemadaman di darat dapat melangkah lebih efektif. Pemerintah juga mengalokasikan support berupa mobil tangki air hingga 100 unit untuk setiap provinsi sesuai kebutuhan. Armada tersebut bakal memperkuat pengedaran air bagi operasi pemadaman darat di wilayah kabupaten dan kota nan terdampak Karhutla," jelasnya.

Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian penuh terhadap penanganan Karhutla di Kalimantan. Ia menambahkan telah mendapat petunjuk langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar kebutuhan sarana dan prasarana operasional tim campuran di lapangan segera dipenuhi dan penanganan dipercepat.

"Presiden memberikan perhatian penuh dan menginstruksikan agar kebutuhan operasional di lapangan dipenuhi. Jadi bukan hanya pemadaman dari udara, tetapi juga penguatan satgas darat, peralatan, pompa, mobil tangki, dan seluruh kebutuhan nan diperlukan untuk mempercepat pengendalian Karhutla," jelas Suharyanto.

Suharyanto menuturkan, peningkatan aktivitas Karhutla terutama terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya curah hujan alami selama nyaris sepekan terakhir sehingga memperbesar potensi kebakaran dan memperpanjang keberadaan asap di sejumlah wilayah.

"Kondisi Karhutla di Kalimantan mempunyai karakter nan berbeda lantaran banyak terjadi di lahan gambut. Permukaan lahan nan terlihat sudah padam belum tentu bara di bawahnya betul-betul mati. Karena itu, hujan dengan intensitas nan cukup menjadi salah satu aspek krusial untuk membantu membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan bara nan tetap tersimpan," ujarnya.

Oleh lantaran itu, Suharyanto menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu prioritas penanganan. Berdasarkan pertimbangan teknis dan kesiapan awan nan dilakukan berbareng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Minggu (23/8), penyemaian awan menggunakan garam dapat kembali dilaksanakan secara intensif di wilayah Kalimantan.

"OMC menjadi salah satu prioritas kita. Hari ini sudah bisa kembali dilaksanakan secara intensif berasas kondisi awan nan tersedia. Kita berambisi hujan dapat segera turun di wilayah-wilayah nan memerlukan sehingga membantu proses pemadaman di lapangan," kata Suharyanto.

Penerbangan Tidak Terganggu

Di sisi lain, BNPB terus memantau akibat asap terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi udara. Kepekatan asap sempat menyebabkan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah, antara lain Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak, terutama pada pagi hari sekitar pukul 08.00 hingga 10.00 waktu setempat. Namun, kondisi jarak pandang dilaporkan berangsur membaik pada siang hari.

Berdasarkan pemantauan lampau lintas udara pada Minggu pagi (23/8), aktivitas penerbangan di sejumlah airport utama, seperti Bandara Syamsudin Noor, Bandara Supadio, dan Bandara Tjilik Riwut, tetap dapat berjalan dengan kondusif dan sesuai jadwal.

Dalam penanganan akibat kesehatan akibat asap Karhutla, BNPB juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah. Posko Kesehatan Terpadu diperkuat di wilayah terdampak untuk memastikan masyarakat, khususnya golongan rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan kesehatan tertentu, mendapatkan perlindungan dan pelayanan nan diperlukan.

Sementara mengenai potensi akibat asap lintas pemisah (cross-border haze), pemerintah terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas kementerian/lembaga sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

"Untuk Sumatra saat ini relatif lebih terkendali lantaran hujan tetap bisa didatangkan. Sementara untuk Kalimantan, kita terus memperkuat armada darat, menambah helikopter, dan OMC mulai melangkah kembali hari ini. Dengan seluruh upaya tersebut, kami optimistis Karhutla di Kalimantan dapat segera kita kendalikan bersama," katanya.

BNPB berbareng kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur mengenai bakal terus memperkuat sinergi penanganan di lapangan. Upaya tersebut dilakukan secara terpadu agar kebakaran dapat segera dikendalikan, akibat asap terhadap masyarakat dapat diminimalkan, dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak dapat tetap melangkah dengan aman.

(tsy/dek)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News