Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan telah mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi tersebut antara lain terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, di Kalimantan Tengah terpantau 63 titik api dengan jarak pandang nan sekarang terbatas sekitar 2 kilometer.
"Di Kalimantan Tengah termonitor ada 63 titik api, kualitas udara umumnya sangat tidak sehat, jarak pandang sekitar 2 km. Tapi proses belajar-mengajar tetap melangkah secara biasa, masyarakat tetap beraktivitas secara normal," ujar Berton dalam konvensi pers di Gedung BNPB, Selasa (1/9/2026).
Dia menjabarkan, Satgas Darat telah dikerahkan ke 13 kabupaten/kota, ialah Palangkaraya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Barito Utara, Pulang Pisau, Lamandau, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Murung Raya, Gunung Mas, dan Barito Timur.
"Luas wilayah nan bisa dipadamkan sebesar 87 hektare lebih melalui Satgas Darat. Kemudian OMC dilakukan 1 sorti di Kota Waringintimur, di bagian selatan sebanyak 800 kilogram, dan hasilnya memang susah mendapatkan hujan. Jarak pandang nan sangat rendah, ini juga menghalang gimana operasi udara dilaksanakan," papar Berton.
"Fokus pengarahan kekuatan personel dan peralatan Satgas Darat saat ini diprioritaskan pada penanganan 23 letak nan belum padam di Kota Pelangkaraya, secara unik di wilayah prioritas ialah Kota Waringintimur, Siruan, dan Kapuas," sambung dia.
Namun, menurut Berton, karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan terberat bagi petugas di lapangan.
"Karakteristik gambut juga nan terbakar, ini ditambah dengan angin nan kencang menyebabkan api mudah menyebar, dan ini perlu juga pendinginan nan berulang-ulang, jadi butuh air nan banyak," ucap dia.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·