Ilustrasi kesiapan tsunami(Antara Foto)
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memetakan kesiapsiagaan ancaman tsunami di area pesisir Provinsi Banten. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan BNPB melakukan koordinasi berbareng pemerintah wilayah (pemda), pemantauan kondisi wilayah terdampak, dan asistensi kesiapsiagaan tsunami.
"Penilaian kesiapsiagaan dilakukan di area Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya di Pandeglang, serta beberapa desa pesisir di Serang dan Cilegon, untuk memastikan berfungsinya sarana peringatan dini," ujar dia di Jakarta, dikutip Kamis (10/9).
Berton menyebut pemetaan untuk mengukur kesiapan pemerintah dan masyarakat setempat dalam menghadapi potensi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk potensi ancaman tsunami dan permukiman nan pernah terdampak tsunami di Selat Sunda pada 2018.
Pemetaan kesiapsiagaan tsunami nan dilakukan meliputi Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, dengan menggunakan parameter standar Tsunami Ready.
Di Kabupaten Pandeglang, lanjutnya, tim BNPB mencatat menara sirene peringatan awal di Kecamatan Sumur dan Panimbang berada dalam kondisi siap operasi, jalur pemindahan terpasang baik, dan simulasi musibah rutin digelar,. Menurut Berton, perangkat Warning Receiver System (WRS) Gen di Tanjung Lesung saat ini tetap dalam proses perbaikan.
Sementara di Kabupaten Serang, pemeriksaan di Desa Salira, Karang Suraga, dan Desa Anyar, menunjukkan aktivasi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan relawan pantai melangkah optimal, ditopang menara sirene dan peta pemindahan menuju titik kondusif nan berfaedah normal.
Lalu di Kota Cilegon, peninjauan di Kelurahan Kubangsari memastikan keberadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) peringatan dini, keaktifan penyedia kelurahan dalam diseminasi informasi, serta keandalan kegunaan sirene tsunami di area instansi kelurahan. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·