Jakarta -
Badan Narkotika Nasional (BNN) tengah membikin perubahan strategis nan krusial dalam pendekatan pencegahan narkoba di Indonesia. BNN melakukan perkembangan strategi pencegahan narkoba ke jalur sains dan perubahan perilaku.
Dilansir Antara, Kamis (3/9/2026), BNN tidak lagi semata menempatkan persoalan narkotika pada ujung persoalan, ketika penyalahgunaan telah terjadi, tetapi mulai membangun intervensi jauh lebih awal melalui anak, kawan sebaya, guru, sekolah, keluarga, komunitas, hingga jasa rehabilitasi.
Temuan tersebut merupakan salah satu konklusi utama Laporan Komprehensif ANANDA Bersinar 2026, sebuah kajian analitis independen nan disusun Tim Klinik Digital berbareng Associate Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, dari Program Vokasi Universitas Indonesia (UI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi menggunakan kajian kuantitatif web scraping, triangulasi sumber, telaah teori perilaku dan komunikasi risiko, serta kerangka pertimbangan program berbasis bukti.
Riset menganalisis halaman-halaman web terstruktur dalam rentang aktivitas 30 Januari-19 Agustus 2026.
"Prosesnya tidak berakhir pada pengumpulan pemberitaan, tetapi meliputi pencarian dan seleksi sumber, ekstraksi data, normalisasi angka, serta triangulasi sumber resmi BNN dan pemerintah dengan portal program, media, dan publikasi institusional," kata Devie Rahmawati dalam keterangannya, Kamis.
Devie mengatakan, salah satu temuan paling krusial justru bukan terletak pada besarnya nomor kegiatan, tetapi pada arsitektur program nan sedang dibangun BNN.
"Temuan paling menarik bagi kami bukan hanya berapa banyak orang nan dijangkau BNN, melainkan perihal fundamental, gimana BNN memperluas titik berat pencegahan, dengan tidak hanya menyampaikan ancaman narkoba, tetapi justru menuju pembangunan lingkungan nan membikin anak lebih bisa untuk tidak pernah memulainya," katanya.
Menurut kajian Klinik Digital, program ANANDA Bersinar telah bergerak pada beragam lapisan ekologi sosial, dimulai dari level individu, kawan sebaya, keluarga, sekolah, organisasi hingga sistem dan layanan. Dalam literatur pencegahan modern, perilaku berisiko memang tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hubungan perseorangan dengan lingkungan sosialnya.
Karena itu, pendekatan nan menghubungkan anak, peer agent, guru, sekolah, keluarga, aktivitas organisasi dan jasa ramah anak merupakan salah satu kekuatan program ANANDA Bersinar.
"Pencegahan terbaik bukan hanya membikin anak takut kepada narkoba. Pencegahan terbaik adalah membikin anak mempunyai keahlian menolak, kawan nan mendukung, pembimbing nan bisa merespons, family nan dapat menjadi tempat aman, sekolah nan mempunyai sistem, dan jasa nan tersedia ketika pertolongan diperlukan," ujar tim riset klinik digital, Giri Lumakto.
Secara keseluruhan, riset menemukan sedikitnya tujuh jenis intervensi, aktivitas dalam rentang observasi 202 hari, serta jejak aktivitas pada sedikitnya enam provinsi. Berdasarkan keseluruhan bukti tersebut, kajian menyimpulkan ANANDA Bersinar telah mempunyai mobilisasi awal, portofolio multilevel, dan prasarana jejaring nan menjanjikan.
"Fokus terhadap anak sejalan dengan prinsip early intervention dan agenda pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Portofolio lintas level memungkinkan BNN bekerja sekaligus terhadap norma sosial, keahlian anak, lingkungan sekolah dan akses layanan. Jejaring 833 sekolah di DKI Jakarta juga merupakan modal institusional nan signifikan untuk dikembangkan menjadi jaringan school champions," tambah Giri.
"Lebih jauh, keterlibatan 818 guru, pengembangan jasa anak dan remaja, serta penggunaan aktivitas organisasi dan olahraga menunjukkan program tidak berakhir sebagai kampanye komunikasi semata. Kalau selama ini keberhasilan pemberantasan narkoba sering terlihat dari berapa kilogram narkotika nan disita, maka pencegahan mempunyai ukuran keberhasilan nan berbeda, ialah berapa banyak anak nan akhirnya tidak pernah memulai. nan pertama bisa difoto hari ini. nan kedua baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Tetapi justru nan kedua merupakan investasi terbesar sebuah negara," seru Devie Rahmawati, nan juga penggiat literasi di Klinik Digital.
Kajian Klinik Digital tidak menilai program hanya berasas pemberitaan positif. Desain ANANDA Bersinar dibandingkan dengan literatur ilmiah dan kerangka internasional mengenai pencegahan penyalahgunaan zat, perubahan perilaku, komunikasi akibat dan pertimbangan program.
Landasan akademiknya antara lain mencakup Social Ecological Model, Theory of Planned Behavior, Extended Parallel Process Model, Inoculation Theory, bukti school-based prevention, hingga kerangka RE-AIM, CDC Program Evaluation Framework dan AMEC Integrated Evaluation Framework. Daftar referensi kajian mencakup pula systematic review Cochrane dan literatur pencegahan internasional.
Kajian juga merujuk pada standar WHO-UNODC nan menempatkan keselamatan, perlindungan, kebutuhan perkembangan, serta lingkungan jasa nan sesuai anak sebagai prinsip krusial pelayanan anak dan remaja.
Dari perspektif tersebut, salah satu kelebihan pendekatan BNN saat ini adalah mulai terbangunnya portofolio pencegahan nan tidak berjuntai pada satu jenis intervensi.
"Dunia sudah lama mengetahui bahwa pidato satu arah dan menakut-nakuti anak bukanlah strategi pencegahan nan memadai. Pencegahan nan lebih kuat bekerja pada keahlian sosial, self-efficacy, norma kawan sebaya, kualitas relasi keluarga, kapabilitas sekolah dan akses pertolongan. Menariknya, sejumlah komponen itu sudah terlihat dalam arsitektur nan dibangun BNN," ujar Mila Viendyasari, salah satu peneliti dari Klinik Digital.
Menurut Studi Klinik Digital, signifikansi pendekatan BNN saat ini terletak pada kesempatan mengintegrasikan dua sisi kebijakan narkotika nan selama ini kerap dibaca secara terpisah ialah penindakan terhadap suplai dan pencegahan terhadap lahirnya permintaan baru.
"ANANDA Bersinar menunjukkan potensi perubahan paradigma, dimana anak tidak semata diposisikan sebagai penerima pesan "narkoba berbahaya", tetapi berada dalam ekosistem nan melibatkan peer group, guru, sekolah, keluarga, organisasi dan layanan," tambah Mila.
Dalam Social Ecological Model, kata dia, struktur semacam ini mempunyai pedoman konseptual nan kuat lantaran perilaku perseorangan dipengaruhi secara simultan oleh aspek intrapersonal, interpersonal, organisasi, organisasi dan kebijakan. Kajian menemukan kampanye BNN telah menyentuh nyaris seluruh lapisan tersebut. Devie menyebutnya sebagai pergeseran dari campaign thinking menuju ecosystem thinking.
"Program ini menjadi salah satu transformasi paling penting. Negara tidak bisa menjaga anak 24 jam sehari. Tetapi negara dapat membangun ekosistem, nan membikin pilihan sehat menjadi lebih mudah, pertolongan menjadi lebih dekat, dan narkoba menjadi semakin tidak relevan dalam kehidupan mereka," tutup Devie.
(lir/lir)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·