Sejumlah penduduk bermalam di dalam tenda nan mereka dirikan secara berdikari di Malaruma, Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, Sabtu (22/8/26). Berdasarkan pemutakhiran info Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (22/8), jumlah penduduk nan mengungs(. ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/wsj.)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendampingi pemerintah wilayah di wilayah Flores dalam penyusunan peta mikrozonasi dan rekonstruksi gedung tahan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penyusunan peta mikrozonasi dan rekonstruksi untuk memperkuat mitigasi jangka panjang di wilayah Flores nan mempunyai potensi kegempaan tinggi. BMKG juga melakukan survei mikroseismik dan makroseismik untuk memetakan respons lokal tanah terhadap amplifikasi guncangan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil survei tersebut bakal dituangkan dalam peta mikrozonasi nan dilengkapi rekomendasi standar tata ruang dan kreasi bangunan tahan gempa. Dokumen itu nantinya diserahkan kepada pemerintah daerah, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
“BMKG berupaya tidak sekadar memberikan peringatan dini, tetapi juga pendampingan untuk mitigasi sehingga pembangunan kembali akomodasi publik dan permukiman penduduk dapat menyesuaikan dengan peta kerentanan tanah serta dinamika seismik di wilayah Flores,” ujar Faisal dalam keterangan resmi, Rabu (26/8).
Faisal menjelaskan, berasas pemantauan BMKG, tren gempa susulan menunjukkan pergeseran klaster sumber gempa ke arah barat. Meski magnitudo gempa susulan relatif lebih mini dibandingkan gempa utama, masyarakat tetap diminta waspada lantaran gempa terjadi pada kedalaman relatif dangkal, sekitar 10 kilometer.
Menurut dia, rangkaian gempa susulan merupakan sistem alamiah berupa pelepasan daya secara berkala. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan dan memperbarui info gempa susulan dua kali sehari, ialah pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB.
“Terkait ketakutan bakal ada gempa nan lebih besar alias tsunami lagi dalam beberapa hari ke depan, secara teoretis gempa besar tidak dapat terjadi di sumber nan sama dalam waktu berdekatan. BMKG juga bakal terus memantau perkembangannya,” kata Faisal.
Bupati Manggarai Herybertus Geradus Laju Nabit menyambut pendampingan teknis BMKG, terutama untuk mengevaluasi ketahanan gedung bertingkat dan mengkaji kembali kepantasan struktur gedung di area nan rawan guncangan, seperti Kecamatan Reok.
“Kami merasa perlunya penyesuaian izin standar bangunan, mengingat kerentanan nan ada, bakal berisiko bagi gedung nan mempunyai lebih dari dua lantai,” ujar Hery. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·