BMKG Sebut Udara Dingin 10 Derajat Celcius di NTT Fenomena Normal

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
BMKG Sebut Udara Dingin 10 Derajat Celcius di NTT Fenomena Normal Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Sti Nenote'k.(MI/Palce Amalo)

MASYARAKAT Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai merasakan suhu udara nan lebih dingin dalam beberapa pekan terakhir seiring masuknya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi tersebut merupakan kejadian musiman nan normal dan terjadi nyaris setiap tahun.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Sti Nenote'k di Kupang, Jumat (12/6), mengatakan udara dingin nan dirasakan masyarakat alias nan dikenal dengan istilah bediding itu dipengaruhi oleh sejumlah aspek meteorologis nan umum terjadi selama musim kemarau.

"Udara dingin nan terjadi di NTT saat ini merupakan kejadian musiman nan normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh masuknya angin Monsun Australia, posisi semu matahari, langit nan lebih cerah dengan sedikit tutupan awan, serta aspek ketinggian wilayah," tutur Sti.

Menurut Sti, selama periode Juni hingga September, Australia mengalami musim dingin sehingga massa udara dingin dan kering bergerak menuju wilayah Indonesia melalui angin Monsun Timur.  NTT menjadi salah satu wilayah nan pertama kali merasakan akibat aliran massa udara tersebut.

Selain itu, posisi semu mentari nan berada di Belahan Bumi Utara menyebabkan wilayah selatan, termasuk NTT, menerima radiasi mentari lebih sedikit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Pada siang hari, cuaca umumnya tetap terasa panas lantaran sinar mentari langsung mencapai permukaan bumi. Namun pada malam hingga awal hari, panas nan tersimpan di permukaan bumi lebih sigap lepas ke atmosfer lantaran minimnya tutupan awan.

"Akibatnya suhu udara pada malam hingga awal hari bisa turun cukup signifikan sehingga masyarakat merasakan udara nan lebih dingin," ujarnya.

Sti menjelaskan kondisi udara dingin biasanya lebih terasa di wilayah dataran tinggi. Salah satu contohnya adalah Ruteng di Kabupaten Manggarai nan berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut sehingga suhu udara saat puncak musim tandus dapat turun hingga di bawah 10 derajat Celsius.

BUKAN FENOMEN APHELION
BMKG juga meluruskan info nan kerap beredar di masyarakat nan menyebut kejadian aphelion menjadi penyebab utama udara dingin. Menurut Sti, aphelion tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca harian di permukaan bumi.

"Udara dingin nan terjadi saat ini lebih disebabkan oleh aspek meteorologis musiman, terutama Monsun Australia, kondisi langit nan cerah, posisi matahari, dan ketinggian wilayah," katanya.

Meski merupakan kejadian normal, Sti mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama periode udara dingin, terutama anak-anak, lansia, dan golongan rentan lainnya. Masyarakat juga disarankan menggunakan busana hangat serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

BMKG memperkirakan kondisi udara dingin tetap bakal dirasakan masyarakat NTT selama musim tandus berlangsung, terutama pada malam hingga pagi hari. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia