BMKG Sebut Puncak Musim Kemarau Terjadi di Agustus 2026, Ingatkan Dampak El Nino

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kepala BMKG Teuku Faisal dalam raker dengan Komisi V DPR, Senin (1/12/2025). Foto: Dok DPR RI

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim tandus di Indonesia terjadi pada Agustus 2026. Kondisi ini kudu mulai diantisipasi masyarakat untuk memastikan kesiapan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor nan terdampak dapat terkendali.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani memaparkan puncak tandus di setiap wilayah Indonesia mempunyai waktu nan berbeda-beda.

Tercatat, puncak tandus pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) alias 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan, puncak tandus terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) pada Agustus dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.

"Wilayah nan diprediksi mengalami puncak tandus pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian mini Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian mini Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur," kata Faisal dalam keterangannya, Kamis (11/6).

Lalu pada bulan Agustus 2026, puncak musim tandus terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak tandus pada September 2026, meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian mini Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Ilustrasi kekeringan dimusim kemarau. Foto: Shutter Stock

Dalam kesempatan nan sama, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan, berasas pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) sudah memasuki musim kemarau. Wilayah nan telah mengalami tandus di antaranya sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.

Lebih lanjut, 198 ZOM (31,60 persen luas daratan) wilayah diprediksi mengalami tandus pada Juni, meliputi, sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian mini Jawa Timur, Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan Papua bagian timur.

Sementara itu, 66 ZOM nan mencakup 7,28 persen wilayah Indonesia bakal memasuki tandus mulai Juli, di antaranya, Jambi bagian barat, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.

Warga beraktivitas disekitar Telaga Merdada area dataran tinggi Dieng, Karang Tengah, Batur, Banjarnegara, Jateng, Selasa (4/9/2023). Foto: Anis Efizudin/Antara Foto

Kemarau Lebih Kering, Dampak El Nino

Ardhasena mengungkapkan, musim tandus di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya kesempatan El Nino.

"BMKG memprediksi kejadian El Nino bakal terus memperkuat hingga awal tahun 2027 dengan kesempatan intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika berjumpa periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," kata Ardhasena.

Faisal pun kembali mengingatkan, info pemutakhiran prediksi suasana ini diharapkan dapat menjadi referensi terkini bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah antisipasi lanjutan dan penguatan strategi adaptasi, khususnya pada sektor-sektor nan sensitif terhadap variabilitas iklim.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah wilayah (pemda), Forkopimda, BPBD, dan semua pihak nan memerlukan info nan lebih perincian dan gimana langkah memitigasi serta beradaptasi mengenai dengan kondisi suasana nan terjadi saat ini," tutur Faisal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan