BMKG Prediksi Hari Tanpa Hujan Makin Panjang, Kemarau Meluas ke 72,8% Wilayah RI

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Warga menggunakan payung saat cuaca terik di area Bundaran HI, Jakarta, Kamis (16/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim tandus di bulan ini bakal meluas di sejumlah titik di Indonesia dalam tiga hari ke depan hingga 31 Juli 2026. Data menunjukkan 509 area musim, alias sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia diprediksi bakal ada di kondisi kering.

Kemarau membuat jumlah Hari Tanpa Hujan alias HTH ikut bertambah panjang di banyak titik pengamatan. Sebagian wilayah apalagi mencatat HTH lebih dari 60 hari, dengan rekor terlama mencapai 80 hari di Purworejo, Jawa Tengah.

Fenomena El Nino menekan laju pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah RI. Meski begitu, hujan tetap berkesempatan turun secara lokal di sejumlah wilayah lantaran pengaruh gangguan cuaca dari luar, seperti gelombang atmosfer dan bibit siklon tropis di dekat Filipina.

BMKG memantau dua parameter suasana global, ialah Indeks Nino 3.4 dan Southern Oscillation Index (SOI). Nilai Indeks Nino 3.4 pada dasarian ini tercatat lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, sementara nilai SOI berada jauh di bawah nol.

Kedua sinyal ini menunjukkan El Nino diperkirakan terus menguat hingga mencapai kategori kuat sepanjang tahun ini. Fenomena El Nino membikin suhu permukaan laut di Pasifik memanas secara tidak normal, sehingga pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan awan hujan lebih susah terbentuk.

Warga tetap perlu waspada terhadap cuaca panas, akibat kebakaran lahan, sekaligus potensi hujan lebat mendadak di titik-titik tertentu.

Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, turun hingga menyentuh nomor 0 sentimeter pada Sabtu (18/7/2026), dasar sungai terlihat. Foto: Dok. kumparan

Berapa Wilayah nan Sudah Masuk Musim Kemarau?

509 dari total area musim di Indonesia sudah dinyatakan memasuki musim kemarau. Jumlah ini setara dengan 72,8 persen luas wilayah Indonesia. Artinya, sebagian besar wilayah di Indonesia memang sedang mengalami periode kering.

BMKG juga memantau parameter berjulukan Hari Tanpa Hujan alias HTH. Sederhananya, HTH adalah hitungan berapa hari berturut-turut suatu titik pengamatan tidak kehadiran hujan sama sekali. Semakin lama angkanya, semakin kering pula kondisi tanah dan udara di titik tersebut.

BMKG membagi HTH ke dalam tiga tingkatan kategori yakni:

Kategori panjang

21 sampai 30 hari tanpa hujan (HTH), terjadi di 1.366 titik.

Kategori sangat panjang

31 sampai 60 hari tanpa hujan (HTH), tercatat di 943 titik.

Kategori ekstrem panjang

Lebih dari 60 hari tanpa hujan (HTH), tercatat di 70 titik pengamatan nan tersebar di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Rekor HTH terlama saat ini ada di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, nan sudah 80 hari tidak diguyur hujan.

Adakah Peluang Hujan?

Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock

Meski kondisi kering mendominasi, BMKG menyebut kesempatan hujan belum sepenuhnya hilang. Beberapa gangguan cuaca dari skala regional tetap bisa memicu hujan lokal, misalnya pergerakan gelombang atmosfer nan melintasi Sumatera dan Kalimantan, serta keberadaan bibit siklon tropis di perairan utara Maluku Utara nan berpotensi menarik massa udara basah ke wilayah timur Indonesia.

Wilayah seperti Aceh, Sumatera bagian utara dan barat, sebagian Kalimantan, hingga Sulawesi Utara tetap berkesempatan diguyur hujan sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan, meski secara umum cuaca nasional tetap didominasi kondisi cerah berawan dan kering.

Apa nan Perlu Diwaspadai Selama Musim Kemarau?

Warga perlu mengantisipasi akibat dehidrasi dan kelelahan akibat beraktivitas di luar ruangan selama siang hari. Warga juga disarankan memakai pelindung seperti topi alias tabir surya, serta menjaga asupan cairan tubuh.

Selain itu, BMKG juga mengimbau penduduk untuk tidak membakar sampah alias membuka lahan dengan langkah dibakar, serta segera melapor ke pihak berkuasa jika menemukan titik api. Risiko kebakaran rimba dan lahan turut meningkat seiring keringnya tanah dan vegetasi, terutama di lahan gambut, semak belukar, dan rimba kering.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan