: Ketua Satgas Informasi BPBD Kalimantan Barat Daniel memaparkan kondisi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat di Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD di Pontianak( ANTARA/Jessica Wuysang/agr)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoperasikan Radar Cuaca C-Band di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, untuk memperkuat sistem peringatan dini cuaca sekaligus mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Radar tersebut diresmikan pada Senin (10/8) dan mempunyai jangkauan pengamatan hingga 200–250 kilometer. Teknologi itu bisa mendeteksi intensitas hujan, pertumbuhan dan pergerakan awan, serta kondisi atmosfer nan diperlukan untuk memantau potensi cuaca ekstrem.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan keberadaan radar menjadi bagian dari penguatan jaringan observasi cuaca nasional. Saat ini, BMKG mempunyai 45 radar cuaca nan ditargetkan terus bertambah hingga mencapai kebutuhan ideal 75 unit.
“Radar Cuaca C-Band di Muara Teweh ini merupakan bagian dari jaringan radar cuaca BMKG nan saat ini berjumlah 45 unit di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut tetap bakal terus ditingkatkan menuju kebutuhan ideal sebanyak 75 radar cuaca agar dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia secara optimal,” ujar Faisal.
Menurut dia, info radar juga krusial untuk mendukung penanganan karhutla. Informasi mengenai potensi hujan, perkembangan awan konvektif, dan kondisi atmosfer dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi, termasuk penyelenggaraan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Manfaat radar cuaca ini sangat besar lantaran memungkinkan kita melakukan pemantauan kondisi meteorologi dan klimatologi secara lebih optimal. Dengan demikian, info mengenai cuaca, perubahan iklim, keselamatan transportasi, dan beragam jasa lainnya dapat disampaikan kepada masyarakat secara sigap dan akurat,” kata Faisal.
Radar Muara Teweh juga diarahkan untuk mengisi kekosongan info meteorologi di Kalimantan Tengah dan wilayah sekitarnya. Infrastruktur tersebut dinilai strategis lantaran wilayah cakupannya juga berangkaian dengan area penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar MKG Wilayah III I Kadek Oca Santika mengatakan pembangunan radar merupakan bagian dari penguatan jaringan observasi nasional nan didanai melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran 2025.
“Pembangunan radar cuaca ini merupakan salah satu proyek nan memperoleh pendanaan melalui SBSN Tahun Anggaran 2025. Dukungan pendanaan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat prasarana jasa publik di bagian meteorologi sehingga dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap musibah hidrometeorologi,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Utara Muhlis mengatakan peningkatan gelombang dan intensitas cuaca ekstrem akibat perubahan suasana membikin kebutuhan terhadap sistem pemantauan cuaca nan jeli semakin mendesak.
Menurutnya, radar tersebut tidak hanya berfaedah untuk mitigasi bencana, tetapi juga mendukung sektor transportasi, pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan pengelolaan sumber daya air.
“Informasi cuaca nan jeli bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi bagian krusial dalam menjaga keselamatan masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata Muhlis.
Keberadaan radar juga dinilai krusial untuk mendukung keselamatan penerbangan seiring berkembangnya Bandara Haji Muhammad Sidik sebagai salah satu pintu masuk transportasi udara di Kalimantan Tengah bagian utara.
BMKG berambisi pengoperasian Radar Cuaca C-Band Muara Teweh dapat mempercepat penyediaan info meteorologi kepada pemerintah dan masyarakat. Data tersebut diharapkan memperkuat pengambilan keputusan dalam menghadapi cuaca ekstrem, musibah hidrometeorologi, serta akibat karhutla di Kalimantan. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·