sketsa sistem peringatan tsunami.(Litbang MI)
PEMERINTAH memperkuat sistem mitigasi gempa dan tsunami di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah rangkaian gempa mengguncang wilayah tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan info potensi tsunami dapat disebarkan dalam hitungan menit sehingga masyarakat mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan perihal itu dalam laporan kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat penanganan musibah gempa di NTT, Rabu, 26 Agustus 2026.
"Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita kudu menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami bakal terjadi di mana. Jadi tepat 2 menit 16 detik, BMKG mengumumkan ke semua kanal, semua media, sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan pengamanan sebelum tsunami terjadi," ujarnya.
Menurut Faisal, kecepatan penyampaian info tersebut menjadi bagian krusial dalam mengurangi akibat korban ketika tsunami terjadi. Dalam kejadian gempa di Flores, tsunami tercatat menerjang sejumlah wilayah di sisi utara pulau dengan ketinggian mencapai 2,5 meter.
Kesiapan sistem peringatan awal saat ini juga ditopang oleh jaringan sensor kegempaan nan jauh lebih banyak dibandingkan masa lalu. BMKG mempunyai sekitar 2.000 perangkat operasional utama untuk memantau aktivitas kegempaan, dengan 175 sensor berada di wilayah NTT.
Faisal membandingkan kondisi tersebut dengan musibah gempa nan pernah terjadi pada 1992. Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 32 kilometer menimbulkan korban hingga sekitar 2.000 orang, terutama akibat tsunami.
"Ini merupakan perihal nan baik dibanding dengan kejadian nan sama tahun 1992, 7,8 magnitude, kedalaman 32 kilometer, itu korbannya sampai 2.000 orang, khususnya lantaran tsunami," katanya.
Perkembangan sistem pemantauan dan peringatan awal membikin BMKG sekarang dapat memberikan info lebih sigap kepada masyarakat. Namun, tantangan penanganan musibah tidak berakhir pada aspek teknologi. Kekhawatiran penduduk terhadap gempa susulan dan kemungkinan tsunami juga menjadi perhatian pemerintah.
Faisal mengatakan sebagian masyarakat apalagi sempat meminta staf BMKG tetap berada di posko agar mereka merasa lebih kondusif di tengah ketidakpastian aktivitas gempa. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya trauma nan tetap dirasakan penduduk pascabencana. "Masyarakat cemas sekali sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya," jelasnya.
Seiring kondisi nan mulai membaik, sebagian penduduk mulai kembali ke rumah masing-masing. BMKG berbareng pemerintah wilayah terus memberikan penjelasan mengenai kondisi gedung dan tingkat keamanan agar masyarakat dapat menentukan langkah dengan lebih tenang.
Untuk rumah nan hanya mengalami kerusakan ringan dan tidak membahayakan penghuni, penduduk mulai diarahkan untuk dapat kembali secara bertahap. Sementara itu, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan potensi akibat nan tetap ada. (Mir/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·