Bisakah Pesawat Terbang Hanya dengan Satu Mesin? Ini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi pesawat terbang. Foto: Shutterstock

Insiden pesawat nan mengalami kegagalan mesin seringkali terdengar menakutkan. Kamu mungkin beranggapan bahwa pesawat bakal jatuh ketika salah satu mesinnya mati.

Tapi, anggapanmu tersebut rupanya salah lantaran di bumi penerbangan modern, kondisi ini sudah diantisipasi dengan sistem keselamatan nan sangat ketat, apalagi pesawat tetap bisa terbang dan mendarat dengan kondusif hanya dengan satu mesin.

Pada 2003, sebuah pesawat Boeing 777 milik United Airlines nan terbang dari Auckland menuju Los Angeles terpaksa mematikan satu mesin akibat masalah oli dan suhu.

Karena sudah melewati titik tengah menuju Hawaii, pilot memutuskan mendarat darurat di sana. Namun, angin kencang membikin pesawat kudu terbang lebih lama dari pemisah standar ETOPS (180 menit), ialah hingga 192 menit dengan satu mesin.

Meski begitu, pesawat sukses mendarat selamat di Kona, Hawaii, sekaligus mencetak rekor waktu terbang satu mesin dalam kondisi darurat. Pertanyaanya bisakah pesawat terbang dengan satu mesin? Lalu, apa nan terjadi jika kedua mesin pesawat meninggal saat penerbangan? Ini penjelasannya.

Apa Itu ETOPS?

Ilustrasi pesawat nan tengah mengudara Foto: kazu8/Shutterstock

Dilansir Sydney Morning Herald, ETOPS (Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards) adalah sertifikasi nan menentukan seberapa lama pesawat bermesin dobel bisa terbang hanya dengan satu mesin.

Seiring waktu, pemisah ini terus ditingkatkan. Bahkan, Airbus A350-900 sekarang memegang rekor dengan sertifikasi hingga 370 menit alias lebih dari 6 jam terbang dengan satu mesin.

Artinya, pesawat modern dapat menjangkau nyaris semua rute bumi dengan aman, apalagi di atas lautan luas sekalipun.

Saat Dua Mesin Mati Sekaligus

Ilustrasi pesawat. Foto: joo830908/Shutterstock

Kasus nan lebih ekstrem terjadi pada 2001, ketika Airbus A330 milik Air Transat kehilangan kedua mesin akibat kebocoran bahan bakar saat terbang dari Toronto ke Lisbon.

Tanpa tenaga mesin, pesawat tersebut meluncur sejauh 121 kilometer sebelum akhirnya mendarat darurat di Azores.

Pilot mengandalkan ram air turbine turbin mini nan digerakkan angin—untuk menjaga sistem krusial tetap berfungsi. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu pendaratan tanpa mesin paling luar biasa dalam sejarah penerbangan.

Apa nan Terjadi Saat Mesin Mati?

Ilustrasi pesawat terbang di atas kepulauan. Foto: Shutter Stock

Ketika satu mesin mati, pesawat tidak langsung jatuh. Namun, keseimbangan berubah lantaran dorongan hanya berasal dari satu sisi.

Pilot bakal mengoreksi arah dengan kemudi (rudder), menurunkan ketinggian ke level kondusif (sekitar 20.000–25.000 kaki), dan menyesuaikan konfigurasi sayap untuk pendaratan.

Hal ini pernah terjadi pada penerbangan Qantas QF144 pada 2023, nan mengalami kegagalan mesin dan kudu turun dari 36.000 kaki ke 20.000 kaki sebelum mendarat dengan selamat.

Fungsi Tanda Spiral pada Mesin Pesawat. Foto: Copyright (c) 2017 frank_peters/Shutterstock.

Kegagalan mesin pada pesawat komersial tergolong sangat jarang sekitar satu dari sejuta penerbangan. Secara global, hanya ada sekitar 20-30 kasus per tahun.

Bahkan, bagi pilot, kemungkinan menghadapi situasi ini justru lebih sering terjadi di simulator dibandingkan di bumi nyata.

Meski terdengar mengkhawatirkan, teknologi dan standar keselamatan penerbangan saat ini memastikan pesawat tetap bisa beraksi dengan kondusif meski kehilangan satu mesin, apalagi dalam kondisi ekstrem sekalipun.

Dengan sistem seperti ETOPS dan training pilot nan intensif, penerbangan tetap menjadi salah satu moda transportasi paling kondusif di dunia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan