Setiap orang tentu punya masalah yang beragam dalam hidupnya. Meski sebaiknya diceritakan, realitanya nggak semua orang nyaman untuk terbuka lantaran bingung kudu mulai dari mana alias apalagi takut dihakimi.
Dalam situasi seperti ini, nggak sedikit nan akhirnya pilih menulis untuk meluapkan isi pikiran. Entah itu lewat jurnal pribadi, kitab catatan, alias blog. Meski terkesan sederhana, tapi rupanya efeknya cukup besar buat kesehatan mental, lho.
Seperti dijelaskan dalam laman PsychMed, menulis bisa membantu meredakan emosi negatif, pemulihan kondisi mental, sampai mengurangi akibat stres. Nggak heran jika kebiasaaan ini sering jadi pelarian alias sarana healing bagi banyak orang, termasuk sejumlah kawan kumparan.
Kira-kira seperti apa langkah healing lewat tulisan jenis mereka dan akibat positif apa nan dirasakan setelahnya? Yuk, simak ceritanya di bawah ini!
Cerita Healing kawan kumparan Lewat Tulisan
teman kumparan Radhitya Probo Ratu Nagoro (36) termasuk salah satu nan terbiasa menuangkan keluh kesahnya dalam tulisan. Ia mengaku selalu merasa lega setelahnya, “rasanya plong, uneg-uneg nan mau disampaikan tersalurkan lewat sebuah tulisan,” ungkapnya.
Cara ini dia lakukan lantaran butuh ruang untuk menyampaikan isi pikiran nan tertahan. Menurutnya, tulisan bisa jadi tempat paling kondusif untuk jujur tanpa takut dihakimi.
Meski begitu, ada kalanya Radhitya nggak mood untuk menulis. Ia menyadari, aktivitas ini butuh konsentrasi dan kondisi pikiran nan cukup stabil.
Untuk menyiasatinya, kawan kumparan asal Sidorajo ini biasanya melakukan perihal lain terlebih dulu, seperti ngemil alias scroll media sosial. Setelah mood membaik, barulah dia mulai menulis.
Perasaan serupa juga dirasakan oleh kawan kumparan Mohammad Rifky (28) asal Semarang. Ia juga merasa lebih lega setelah menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan.
Bukan dalam corak konten berat, dia biasanya menulis opini tulisan terkenal alias sekadar catatan harian. Baginya, semua rasa nan menumpuk lebih mudah dilepaskan lewat tulisan.
“Menulis bisa mengurangi kegelisahan dalam pikiran kita dan menuangkan seluruh unek-unek, sehingga diri jadi lebih plong,” ujarnya.
Refleksi diri seperti ini jadi langkah sederhana untuk melepas daya negatif. Bahkan saat penat sekalipun, Rifky tetap menyempatkan diri untuk menulis hal-hal ringan seperti keresahan pribadi alias kondisi masyarakat sekitar.
Di luar itu, dia juga kegemaran membaca dan mengikuti perkembangan tren di media sosial. Aktivitas ini bantu menjaga pikirannya tetap rileks.
Terakhir, ada kawan kumparan Putri Fitriani (40) nan juga terbiasa mencurahkan isi pikiran lewat tulisan. Nggak kudu pakai kitab diary nan rapi, dia menulis di kitab apa saja, apalagi dengan laman nan acak.
Menurutnya, setelah menulis, masalah nan dihadapi terasa lebih “jelas”. Pikiran nan awalnya semrawut bisa lebih terurai, sehingga dia pun lebih mengerti apa nan sebenarnya dirasakan dan apa nan perlu dilakukan.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan kawan baru di organisasi kawan kumparan. Klik kum.pr/temankumparan
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·