Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian mengingatkan usulan pembatasan kandungan tar dan nikotin dalam patokan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 berpotensi memberikan akibat besar terhadap petani tembakau dan industri rokok kretek nasional. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin Merrijantij Punguan Pintaria alias Merri mengatakan, usulan pemisah nikotin maksimal 1 miligram dinilai susah diterapkan lantaran karakter tembakau Indonesia mempunyai kadar nikotin jauh lebih tinggi.
"Kami tidak sepakat dengan nomor ini lantaran petani kita menghasilkan tembakau nan kadar nikotinnya tertinggi di dunia, bisa mencapai 8%. Kalau diminta menjadi satu, artinya industri kudu menggunakan tembakau impor nan kadar nikotinnya sekitar 1 sampai 1,5%," kata Merri dalam obrolan Industri Hasil Tembakau, di Hotel Bidakara Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menekan petani tembakau, terutama di wilayah penghasil seperti Temanggung. Di wilayah tersebut, tembakau menjadi komoditas utama lantaran sesuai dengan karakter lahan dan suasana nan tidak mudah digantikan tanaman lain.
Selain nikotin, Kemenperin juga menyoroti usulan pembatasan kadar tar maksimal 10 miligram. Padahal, standar nasional nan bertindak saat ini mencapai 55 miligram, sementara hasil pengetesan rata-rata rokok kretek nasional berada di kisaran 35 miligram.
Danil penjaga toko tembakau melinting rokok tembakau di ruko area Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat, 24/9. Penjualan rokok linting sekarang semakin diminati masyarakat, tidak hanya kalangan tua, tetapi juga oleh anak muda. Geliat rokok linting alias linting dewe (tingwe) nan dulunya dianggap lama, sekarang dapat bersaing dengan eksistensi rokok elektrik (vape). Danil mengatakan upaya menjual tembakau ini mulai sejak 2017 di Depok. "Awalnya hanya satu toko di jalan Damai, Depok, kini, Alhamdulillah udh buka bagian salah satu di Ciputat" katanya. Iya juga mengaku Pandemi ini banyak penduduk nan stok tembakau dan penjualan meningkat. Iya juga mengatakan ada dua kriteria langganan nan sering shopping di toko dia. "Kalau tembakau itu ada dua kriteria pemberi antara irit alias nyari rasa". "Sejak PPKM 2020 tahun lampau banyak penduduk nan di rumah aja dan mesti nyetok tembakau, karena kalo beli stok rokok mahal, makanya dia hemat". Untuk nilai tembakau disini nilai normal dijual Rp 15 ribu dan nan paling mahal Rp 60 ribu. "Untuk tembakau nan mahal disini dijual Rp 60 ribu jenis tembakau nya Gayo putih". Jenis tembakau nan dijual disini beragam rasa seperti Vape dari rasa apel, pisang hingga mint. "Biasanya anak muda nan beranjak ke tembakau pasti lebih nyari ke rasa" katanya. Seperti diketahui adanya kenaikan cukai perihal tembakau nan mencapai rata-rata 21,55% pada awal 2020, berakibat pada aktivitas melinting rokok sendiri oleh perokok. Alvian salah satu pembeli mengatakan mengaku mulai melinting tembakau lantaran terbawa teman-temanya nan merasa terancam dengan kenaikan nilai rokok. "Alasannya lantaran lebih murah aja, nilai rokok lama lama naik, untuk perokok seperti saya Rp15 ribu bisa sampai lima bungkus" kata Alvian. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Rokok linting alias linting dewe (tingwe). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
"Kalau tar dibatasi menjadi 10, maka 97% rokok kretek nan diproduksi di Indonesia tidak bakal bisa beroperasi. Apakah kita sudah siap kehilangan nilai ekonomi nan nyaris mencapai Rp700 triliun?" ujarnya.
Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil rokok kretek dengan pangsa pasar domestik mencapai sekitar 97%. Kondisi tersebut membikin kebijakan pembatasan tar dinilai mempunyai akibat nan jauh lebih besar dibandingkan negara lain.
Selain itu, Kemenperin juga meminta pemerintah memberikan waktu transisi andaikan sasaran penurunan kandungan nikotin dan tar tetap mau diterapkan. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan perlu duduk berbareng untuk menentukan tahapan penerapan nan realistis.
"Kalau memang itu menjadi tujuan akhir, mari kita sepakati berbareng timeline-nya. Kita lihat berapa tahun diperlukan untuk menemukan varietas tembakau baru, berapa lama industri memerlukan riset, sehingga seluruh pihak bisa menyesuaikan tanpa mematikan ekosistem nan sudah ada," sebut Merri.
(fys/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·