Jakarta -
Harga cabe rawit di tingkat konsumen mengalami kenaikan hingga tembus Rp 90.000 per kilogram. Lonjakan nilai ini dipicu oleh cuaca panas nan esktrem nan menggangu kesiapan air.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI), kenaikan paling tajam terjadi oleh cabe merah keriting nan melesat hingga 9% menjadi Rp 62.950/kg. Tak hanya itu, cabe rawit merah juga ikut melonjak 7,2% ke level Rp 90.050/kg.
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo mengatakan tren kenaikan nilai ini sebenarnya sudah dirasakan di tingkat petani sejak pertengahan Agustus lalu. Menurutnya, aspek utama di kembali meroketnya nilai cabe adalah krisis kesiapan air nan dipicu oleh cuaca sangat panas dan kejadian El Nino.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyebab kenaikan ini disebabkan lantaran murni aspek cuaca dan mengakibatkan kesiapan air habis, tanaman cabe nan telah petani tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting nan sedang berproduksi," ujar Tunov kepada detikcom, Minggu (13/9/2026).
Kondisi cuaca nan sangat panas tanpa kesiapan air nan cukup membikin pohon cabe mengalami kandas bunga, sehingga berakhir memproduksi kembang baru. Akibatnya, petani hanya bisa merawat sisa cabe nan tetap memperkuat di pohon.
Tunov apalagi menyebut ancaman penurunan produksi sangat terasa di tingkat produsen, di mana upaya petani untuk menanam kembali kerap kandas lantaran bibit tidak dapat hidup tanpa pasokan air nan memadai.
"Keadaan cuaca seperti ini sangat mengkhawatirkan stok nasional terus berkurang kelak di 3 bulan kedepan," tambah ia.
Turnov menjelaskan pemerintah telah mulai menyalurkan bantuan, seperti sumur bor dan pipanisasi untuk wilayah sentra produksi. Kendati begitu, pihaknya juga telah antisipasi memaksimalkan stok air lahan untuk menanam tanaman baru.
"Bantuan pemerintah sudah mulai turun meski agak terlambat ialah sumur sumur bor dan pipanisasi nan diperuntukkan tanaman cabe di beragam wilayah sentra," imbuhnya.
Senada, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan kenaikan nilai cabe ini murni disebabkan oleh gangguan produksi di daerah-daerah sentra. Meskipun tetap ada beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jombang, Kediri, dan Blitar nan tetap menghasilkan panen, volumenya dilaporkan sangat minim.
Gangguan produksi akibat cuaca ini diprediksi tetap bakal mempengaruhi volume panen hingga bulan Oktober mendatang, sebelum akhirnya pasokan diperkirakan mulai mencukupi kembali pada November.
"Mungkin diperkirakan volume panen, ini masalahnya lantaran cuaca, diperkirakan sampai dengan Oktober. tapi pada November cukup," kata Abdul kepada detikcom.
Gangguan produksi ini menciptakan nilai cabe di tingkat petani saat ini berkisar antara Rp 53.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Sesampainya di pasar induk, nilai tersebut terkerek naik menjadi Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram. Akhirnya menyentuh nomor Rp90.000 sampai Rp 95.000 per kilogram saat dibeli oleh konsumen akhir di pasar.
"Di tingkat petani sekarang sekitar Rp 53.000 sampai Rp 65.000/kg, jika kita lihat di pasar induk bisa sampai Rp 70.000 sampai Rp 75.000. Kalau ibu-ibu shopping sekitar Rp 90.000 sampai Rp 95.000 lah," jelasnya.
Upaya Redam Harga Cabai
Menanggapi perubahan nilai cabai, Badan Pangan Nasional mengupayakan mobilisasi stok dari wilayah nan surplus ke wilayah defisit, salah satunya melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Program ini pernah dilaksanakan pemerintah secara kolaboratif berbareng para Champion Cabai dan cukup efektif menekan nilai cabai.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menuturkan upaya mengatasi perubahan nilai cabe perlu segera diterapkan. Bapanas dan Kementerian Pertanian (Kementan) bakal menjalin hubungan agar FDP dapat dijalankan guna menyasar ke wilayah nan sedang mengalami dinamika nilai nan fluktuatif.
"Untuk cabe rawit, berasas info dari Kediri, saat ini terdapat dinamika nilai dan pasokan nan perlu segera kita respons. Karena itu, kami mau berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk memandang wilayah mana nan dapat kita dukung melalui FDP," ucap Ketut dalam keterangannya, dikutip Minggu (13/9).
Pelibatan petani Champion Cabai nan dibina Kementan memegang andil krusial dalam upaya penstabilan nilai cabe rawit. Berkat kerjasama erat, pasokan cabe rawit dengan nilai nan terjangkau nan kemudian diguyur ke wilayah nan berfluktuasi dapat menjadi aspek penekan harga.
"Misalkan di wilayah di luar Jawa nan harganya relatif tetap terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah nan harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah nan harganya relatif tinggi," jelas Ketut.
Adapun dalam catatan Bapanas, FDP cabe rawit nan telah terlaksana pada triwulan pertama tahun 2026 totalnya mencapai 5.590 kilogram (kg). Ini terdiri dari mobilisasi stok cabe rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebesar 3.150 kg. Kemudian ke Lombok Tengah serta Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.
Implikasi positifnya pada April 2026 terjadi penurunan inflasi, termasuk pada komponen nilai bergolak (volatile food) alias inflasi pangan. Ini menunjukkan mulai meredanya tekanan nilai pangan usai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Cabai rawit pun menjadi salah satu penyumbang deflasi pada April.
Di sisi lain, dalam rapat koordinasi Bapanas berbareng petani cabe (26/8/2026) terungkap beberapa aspek penyebab perubahan nilai cabe rawit. Beberapa aspek nan mempengaruhinya antara lain tandus berkepanjangan, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul hingga adanya alih tanam ke komoditas lain.
Kendati demikian, beragam upaya nan dilakukan Kementan di sektor hulu diyakini bisa mengatasi beragam tantangan tersebut. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto memastikan produksi cabe rawit secara nasional tetap kondusif sampai akhir tahun.
"Untuk cabe rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop nan ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," urai Sudi.
"Kemudian untuk di wilayah Jawa tetap terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun tetap relatif rendah lantaran mungkin baru sebagian besar tanam, tapi kelak itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," sambung Sudi.
Sudi juga mengatakan petani cabe rawit bimbingan Kementan siap mendukung program penstabilan nilai pemerintah. Program FDP dapat segera dilaksanakan bersama-sama untuk mengguyur wilayah nan mengalami nilai cabe rawit nan berfluktuasi tinggi.
(acd/acd)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·