BI Ungkap Banyak Perbankan Cenderung Berinvestasi di SRBI dan SBN

Sedang Trending 44 menit yang lalu
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti kejadian banyaknya perbankan nan memanfaatkan kelebihan likuiditas untuk investasi di instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), daripada menyalurkannya dalam corak kegunaan intermediasi alias kredit.

“Eh rupanya ini banyak bank-bank nan menggunakan likuiditasnya itu bukan untuk intermediasi. Tapi mereka buat mungkin investasi gitu ya. Dia taruh di SRBI. Dia taruh di SBN,” kata Destry dalam gelaran Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9).

Hal tersebut tercermin dalam nilai outstanding SRBI nan telah berangsur turun dari posisi tertingginya nan mendekati Rp 1.100 triliun menjadi sekitar Rp 1.050 triliun. Selain itu, tingkat imbal hasil SRBI juga telah dipangkas secara bertahap.

“Tapi kan kita turun berjenjang ya. Kemudian SRBI rate-nya dari 7,6 persen. Sekarang menjadi posisi di 7 persen, 6,99 persen. Kita enggak bisa langsung break, sudden drop, gitu. Nggak bisa, kita kudu bertahap,” kata Destry.

Destry mengatakan, pemangkasan ini dilakukan secara perlahan dan terukur guna mengikuti pergerakan sistem pasar, baik di pasar perdana lelang maupun pasar sekunder.

Oleh lantaran itu, untuk mendorong agar perbankan lebih aktif menyalurkan kredit, BI memperkuat kebijakan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan mengalokasikan total insentif menjadi maksimal 6 persen.

Sebanyak 4 persen diberikan dalam corak pembiayaan KLM kepada bank-bank nan menyalurkan angsuran ke sektor strategis, prioritas, padat karya, UMKM, hingga pembiayaan masyarakat kelas bawah. Sementara itu, sisa insentif sebesar 2 persen nan mulai diberlakukan per September ini dirancang unik untuk mengatasi segmentasi likuiditas di industri perbankan.

“Nah 2 persennya ini, untuk mengatasi segmentasi nan ada di likuiditas bank, bahwa bank-bank nan dia mempunyai perangkat likuid terlalu banyak dalam corak SRBI alias SBN, maka dia tidak bakal kita berikan insentif,” ucap Destry.

Sebaliknya, insentif 2 persen tersebut hanya bakal diberikan kepada bank nan menempatkan perangkat likuidnya pada pemisah wajar, ialah di bawah 19 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

“Nah tujuannya apa? Jadi bank-bank tadi punya banyak outstanding, SRBI dan SBN, dia bakal mulai mengurangi posisinya. Dia punya cash. Dan dia bisa kita sorong untuk intermediasi,” tutur Destry.

Kata Destry, biaya tunai nan dilepas tersebut nantinya dapat terdorong untuk dialihkan menjadi penyaluran angsuran kepada masyarakat dan bumi usaha.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan