Bank Indonesia (BI) memastikan keputusan meningkatkan suku kembang referensi alias BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 tidak bakal membebani pelaku UMKM, meski rupiah tengah berada dalam tekanan akibat gejolak global.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diketahui kembali melemah pada perdagangan Senin (25/5). Berdasarkan info Bloomberg pukul 13.20 WIB, rupiah turun 17 poin alias 0,10 persen ke level Rp 17.734 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan kebijakan kenaikan suku kembang memang terkesan kontraktif. Namun di saat nan sama BI tetap menjalankan langkah ekspansif untuk menjaga likuiditas di sistem perbankan.
“Kita kan mesti memandang secara keseluruhan, ya. Kebijakan BI sendiri pun kan juga nggak semuanya sifatnya kontraksi. Karena kan kenaikan BI rate itu sebenarnya kan kesannya kontraksi, ya,” ujar Destry pada aktivitas Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Jakarta, Senin (25/6).
Menurut Destry, BI tetap memastikan likuiditas perbankan dalam kondisi lenggang sehingga kenaikan suku kembang tidak otomatis membikin angsuran semakin memberatkan masyarakat maupun UMKM.
“Jadi kami juga punya kebijakan nan ekspansi. Ya, ekspansi dalam rangka sebenarnya menjaga likuiditas di pasar. Jadi jika misalnya ini kembang naik, tapi likuditasnya terjaga, saya rasa kenaikan itu tidak bakal menjadi semakin memberatkan,” katanya.
Destry menjelaskan BI telah memberikan pelonggaran likuiditas kepada perbankan melalui kebijakan makroprudensial, termasuk relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM).
“Karena paling tidak bank itu tadi nan saya sampaikan, ada makroprudensial, di mana sebenarnya ada biaya nan mestinya oleh bank disisihkan Rp 400-an triliun tadi, dikembalikan ke BI, lantaran bentuknya GWM ya, GWM,” jelas Destry.
Harus Menaikkan BI Rate
Katanya, kondisi likuiditas perbankan saat ini tetap sangat kondusif dan jauh di atas standar minimum.
Destry menegaskan kenaikan BI Rate menjadi keputusan nan perlu dilakukan lantaran tekanan dunia tetap sangat tinggi, terutama akibat suku kembang AS nan diperkirakan memperkuat tinggi lebih lama alias higher for longer.
“Jadi artinya pertama bahwa kenaikan BI rate itu memang kudu kita lakukan, lantaran kita menghadapi bumi nan memang semua ini berada meningkat, higher for longer sekarang situasinya,” ujarnya.
Dia menjelaskan penguatan dolar AS juga terjadi terhadap nyaris seluruh mata duit dunia, bukan hanya rupiah.
BI, lanjut Destry, telah menempuh tujuh langkah stabilisasi sebelum akhirnya memutuskan meningkatkan suku kembang acuan.
“Karena kita merasa tetap kurang gitu, jadi ini kudu kita sorong dengan naikkan suku bunga, lantaran kita kudu membikin instrumen rupiah kita itu menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali masuk ke, tidak ke pasar finansial kita dulu,” lanjut ia.
Meski demikian, pemerintah disebut tetap memberikan beragam insentif dan support bagi sektor UMKM serta masyarakat bawah agar tetap memperkuat di tengah tekanan ekonomi global.
“Dan tentunya jika untuk lihat UMKM segala, kita lihat juga pemerintah kan juga mengimbangi ya, banyak program-program juga insentif-insentif juga diberikan untuk UMKM dan segmen masyarakat bawah juga,” imbuh Destry.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·