BI dan Nilai Tukar 5 Tahun Mendatang

Sedang Trending 58 menit yang lalu

BI dan Nilai Tukar 5 Tahun Mendatang

BI dan Nilai Tukar 5 Tahun Mendatang (Foto: Universitas Paramadina)

Penulis: Didik J Rachbini, Ekonom Senior

JAKARTA - Kepemimpinan Bank Indonesia (BI) sudah berganti dan pemimpin baru bakal menjadi nakhoda BI sampai lima tahun mendatang. Apakah kepemimpinan BI sekarang bakal mengubah posisi rupiah menjadi lebih stabil dan lebih kuat dari sebelumnya?

Jawabnya susah dan apalagi nyaris tidak bisa. Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak bakal menguat, bakal tetap lemah dan apalagi terus melemah. Penyebab utamanya kepemimpinan BI diperkirakan bakal tetap melangkah seperti biasa dan ditambah banyak aspek lain eksternal dan internal BI, nan tetap menjadi hambatan sektor moneter. Juga kepemimpinan baru memang tidak mungkin bisa mengubah faktor-faktor nan menjadi hambatan selama ini. 

Jadi kepemimpinan baru saya prediksi tidak bakal banyak mengubah sistem moneter dan rupiah seperti biasanya tetap bakal lemah.

Pasar domestik nan besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya. Prediksi nilai tukar lemah lima tahun ke depan berasas banyak aspek sehingga kepemimpinan baru hanya siklus perubahan biasa nan tidak bakal mengubah apa-apa. Indonesia sudah tergolong sebagai ekonomi skala besar (large economy) dengan pasar domestik nan besar pula. 

Namun dengan skala ekonomi besar tersebut, mata uangnya tidak pernah bisa menguat lantaran begitulah struktur ekonomi Indonesia terbentuk lemah dalam sektor luar negerinya. Kepemimpinan baru ini diperkirakan juga tidak bakal bisa mengubah struktur ekonomi ini.

Jadi Bank Indonesia bisa saja mempertahankan nilai tukar, tetapi sistem dan struktur seperti sekarang ini tetap bakal berjalan. Kebijakan nan bakal dilakukan rutin seperti biasa meningkatkan suku kembang saat nilai tukar rupiah melemah drastis. 

Dengan suku kembang nan lebih tinggi ini diharapkan dapat menarik modal asing lantaran aset Indonesia memberikan imbal hasil lebih besar bagi investor. Namun, biaya trasaksi di Indonesia sangat tinggi dengan carut marut hukum, sosial politik dan kebijakan nan rumit. Ini juga berakibat negatif pada bumi usaha, angsuran perumahan (KPR), dan investasi domestik. Instrumen kebijakan BI nan lain ialah menurunkan suku kembang untuk mendorong investasi. 

Namun jika suku kembang diturunkan terlalu cepat, maka penanammodal mungkin kembali beranjak ke aset dalam mata duit dolar. Kebijakan konservatif nan sederhana hanya dengan instrumen suku kembang tidak bakal menjadikan nilai tukar lebih kuat. 

Faktor lain nan berasosiasi dengan investasi dan produksi tidak mendukung, seperti kepercayaan terhadap norma rendah, korupsi, dan sektor luar negeri lemah lantaran daya saing rendah.

Jadi dengan kondisi seperti ini, nilai tukar rupiah sangat rentan dan tidak perlu krisis untuk menjadikan rupiah lemah dengan sendirinya. Dengan pasar domestik nan besar, ekonomi Indonesia bisa terus tumbuh meskipun nilai rupiah terus terdepresiasi. 

Tetapi tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri dan hanya dengan fondsinya pasar domestik, maka lima tah8un ke depan jangan minta BI bisa menjadikan rupiah menjadi stabil dan kuat. Apalagi hanya dengan memainkan instrumen kebijakan suku bunga. Ekonomi Indonesia nan besar terus bakal bayar beragam aktivitas impor, utang luar negeri, dan semua transaksi internasional menggunakan devisa, dalam perihal ini dolar AS. 

Tetapi pada saat nan sama, Indonesia tidak memupuk persediaan devisa nan besar melalui ekspor, investasi asing, pariwisata, dan arus masuk biaya lainnya dari luar negeri. Dengan kondisi ini, sektor luar negeri tetap lemah sudah sejak lama lantaran tidak pernah didukung dengan kebijakan nan serius. Arus masuk devisa tersebut lebih mini daripada permintaan bakal dolar sehingga nilai tukar terus tertekan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com