Sidoarjo, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) berbareng TPIP (Tim Pengendalian Inflasi Pusat) dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) di Jawa Timur. GPIPS 2026 berfokus pada dua aspek utama ialah penguatan produktivitas dan kelancaran pengedaran pangan, demi menjaga stabilitas nilai dan ketahanan pangan nasional.
Tiga komoditas prioritas nan menjadi konsentrasi di seluruh wilayah adalah beras, cabai, dan bawang merah. Sementara itu, untuk tambahan komoditas lain disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulampua, hingga Balinusra.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menjelaskan GPIPS dijalankan melalui tujuh program. Pertama Peningkatan Produktivitas melalui Optimalisasi GAP.
Lalu Penguatan Ketahanan Komoditas Pangan melalui Hilirisasi Pangan dan Penguatan Kapasitas Kelembagaan Petani/Gabungan Kelompok Tani/Perumda sebagai offtaker. Kemudian Optimalisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD).
Selanjutnya Penguatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), Optimalisasi Operasi Pasar/Pasar Murah, Penguatan Neraca Pangan, dan Penguatan Koordinasi dan Komunikasi Pengendalian Ekspektasi Inflasi.
"Melalui GPIPS, pengendalian inflasi pangan tidak hanya difokuskan pada stabilisasi nilai jangka pendek, tetapi juga pada penguatan produksi, pascapanen, dan pengedaran pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional nan berkelanjutan," ungkap Aida, saat peluncuran GPIPS di Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).
Diketahui GPIPS merupakan penyempurnaan dari GNPIP nan bermaksud untuk memperkuat sinergi TPIP-TPID dalam menjaga stabilitas nilai dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Jawa dipilih dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan sentra produksi pangan sekaligus pusat pengedaran terbesar di Indonesia, mempunyai berat inflasi pangan nan dominan, serta berkedudukan krusial dalam pembentukan ekspektasi nilai pangan nasional.
Data produksi 2025 menunjukkan kekuasaan Jatim di nyaris seluruh komoditas pangan utama, ialah beras, jagung, cabe rawit dan bawang merah. Selain itu Jatim juga menjadi penghasil padi terbesar dengan kontribusi 17,34% dari produksi nasional, dengan total produksi mencapai 10,57 juta ton.
"Dominasi tersebut juga tercermin dari Jatim nan menjadi produsen nomor satu untuk jagung dan cabe rawit, sementara produksi bawang merah berada di posisi kedua tertinggi secara nasional. Keunggulan ini menjadikan Jatim sebagai tulang punggung program prioritas pemerintah 2026 dalam mewujudkan swasembada beras dan jagung," jelas Aida.
(rah/rah)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·