Ilustrasi(Dok Istimewa)
PELATARAN Istana Gedung Agung hingga area Titik Nol Kilometer Yogyakarta menjadi panggung utama hadirnya kesetaraan pada Rabu, (12/8). Pada momen ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menghabiskan waktunya berbareng para siswa berkebutuhan unik (ABK).
Sejak pagi saat mengunjungi SLB Tunas Bhakti dalam rangka peresmian revitalisasi sekolah hingga sore hari, Menteri Abdul Mu’ti terus membaur berbareng ratusan penyandang disabilitas dalam puncak aktivitas Suara Inklusi. Kehadiran tersebut menjadi bentuk komitmen untuk memastikan setiap anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kewenangan atas pendidikan nan berbobot dan setara.
Di Titik Nol Kilometer, 1.000 penyandang disabilitas menggerakkan jemari secara serentak membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia menggunakan bahasa isyarat. Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X berbareng Alya, perwakilan kawan tuli, memimpin tindakan tersebut.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan pemenuhan kewenangan pendidikan bagi seluruh penduduk negara merupakan petunjuk konstitusi, termasuk bagi penduduk negara dengan kelainan fisik, intelektual, sosial, dan kondisi lainnya nan berkuasa memperoleh pendidikan khusus.
Sesuai dengan Amanah Konstitusi Undang-Undang Dasar Pasal 31 disebutkan setiap penduduk negara berkuasa mendapatkan pendidikan. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 juga menyebut pasal 5 ayat (1) dan (2) menyebut bahwa setiap penduduk negara berkuasa mendapatkan pendidikan nan bermutu. Ayat nan kedua menyebut penduduk negara mempunyai kelainan fisik, kelainan intelektual, kelainan secara sosial dan kelainan nan lainnya berkuasa mendapatkan pendidikan khusus.
“Atas dasar itu semua, sesuai dengan asta cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kami Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua dengan partisipasi semesta. Kami berupaya menghadirkan pendidikan nan aksesibel nan bisa diakses oleh siapa saja. Pendidikan nan fleksibel, nan mudah dijangkau, pelayanan nan bisa memenuhi semuanya, dan pendidikan nan _affordable_ nan dapat dijangkau biayanya baik dengan support pemerintah maupun support masyarakat,” ujar Mendikdasmen, di Yogyakarta, Rabu (12/8).
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti meneguhkan komitmen Kemendikdasmen untuk mewujudkan jasa pendidikan nan inklusif dan berkeadilan untuk seluruh anak Indonesia. “Siapapun mereka, di mana pun mereka berada. Dan semangat kemerdekaan inilah nan mau kita tumbuhkan terus sebagai bagian dari spirit kami dalam melaksanakan amanah konstitusi mendukung program asta cita Bapak Presiden untuk Indonesia Emas 2045,” tambah Mendikdasmen.
Pada kesempatan nan sama, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi kerjasama pemerintah, sekolah, orang tua, komunitas, dan masyarakat dalam menghadirkan ruang nan setara bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, kesempatan nan terbuka dapat membantu anak-anak menunjukkan keahlian nan selama ini belum terlihat.
“Seringkali nan menjadi halangan bukanlah keterbatasan nan dimiliki seseorang, melainkan langkah pandang kita. Ketika masyarakat membuka pintu kesempatan, ketika sekolah memberikan ruang belajar nan setara, ketika bumi kerja memberikan kepercayaan, dan ketika lingkungan menerima setiap orang dengan hormat, maka keahlian nan selama ini tersembunyi bakal tumbuh dan memberikan faedah bagi banyak orang,” ucap Siti Hediati Soeharto.
Selain itu, pada momen ini pemerintah juga menyerahkan kartu Program Indonesia Pintar (PIP) dan support Revitalisasi Satuan Pendidikan secara simbolis. Program revitalisasi Kemendikdasmen tahun 2025 telah menjangkau 46 satuan pendidikan di DIY senilai Rp71,3 miliar. Secara nasional, program tersebut telah menyentuh 1.609 sekolah senilai Rp2,02 triliun hingga Juli 2026.
Rangkaian aktivitas Suara Inklusi hasil kerjasama Kemendikdasmen, Pemerintah Provinsi DIY, dan Pemerintah Kota Yogyakarta ini dilanjutkan dengan peninjauan pameran karya seni siswa disabilitas. Dari kebersamaan sepanjang hari di Yogyakarta, terekam pesan kuat bahwa kemajuan bangsa ditentukan oleh keahlian seluruh elemennya untuk melangkah berdampingan dan saling menguatkan. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·