Jakarta -
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengambil langkah strategis di tengah pembahasan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kota Semarang mengenai alokasi Bantuan Operasional (BOP) RT sebesar Rp 265,7 miliar. Pemkot menargetkan Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang BOP RT senilai Rp25 juta rampung dalam tiga minggu ke depan.
Di kembali proses penyelesaian izin tersebut, Pemkot menegaskan faedah program ini disebut sudah dirasakan penduduk sejak tahun pertama pelaksanaan. Tidak hanya soal serapan anggaran, tetapi juga akibat sosial dan lingkungan di tingkat RT.
"Kami mau memastikan bahwa biaya BOP RT tidak hanya untuk administrasi, tapi juga bisa dirasakan langsung penduduk untuk pembenahan lingkungan. Dan faktanya, dari laporan nan kami terima, faedah itu sudah ada. Kami hanya perlu menyempurnakan patokan agar lebih elastis ke depan," kata Agustina, dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi realisasi, tingkat serapan program tercatat mencapai 95,6 persen alias 10.157 dari total 10.621 RT. Angka ini dinilai mencerminkan tingginya kebutuhan sekaligus faedah nan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, sisa anggaran nan tidak terserap hanya sekitar Rp5,46 miliar alias 2,1 persen dari total Rp265,7 miliar, nan menunjukkan efisiensi penggunaan anggaran.
"Jika program ini tidak bermanfaat, pasti tingkat penolakannya bakal jauh lebih tinggi. Fakta bahwa 95,6 persen RT mengambil biaya dan menggunakannya untuk aktivitas nan menyentuh penduduk adalah bukti paling nyata. Kami tidak perlu klaim muluk-muluk. Cukup tanyakan ke ketua RT dan warganya," tutur Agustina.
Menanggapi kritik dari Pansus DPRD mengenai parameter makro seperti penurunan stunting, DBD, alias pengelolaan sampah, Pemkot menyatakan terbuka terhadap pertimbangan tersebut. Namun, Pemkot menilai akibat jangka pendek sudah terlihat di tingkat lingkungan.
"Manfaat makro seperti penurunan nomor stunting tidak bisa terjadi dalam satu tahun. Butuh intervensi berkelanjutan. Tapi kami sudah memandang gerbongnya bergerak. Posyandu lebih hidup, lingkungan lebih bersih, penduduk lebih gotong royong. Itu adalah fondasi nan tidak kalah penting," ujarnya.
Pemkot menegaskan penyusunan Perwal bukan untuk mengubah arah program, melainkan menyempurnakan elastisitas penggunaan dana, termasuk usulan pemanfaatan untuk kebutuhan prasarana lingkungan skala kecil.
"Kami menyerap masukan. Ada nan mau biaya ini bisa dipakai untuk membeli pasir alias semen untuk perbaikan drainase kecil. Itu sedang kami kaji. Tapi jangan sampai tumpang tindih dengan kewenangan dinas teknis. nan jelas, prinsip program tetap sama: memperkuat RT sebagai ujung tombak," imbuhnya.
Dengan tingkat serapan 95,6 persen, testimoni positif dari para ketua RT, serta komitmen Wali Kota untuk terus menyempurnakan regulasi, program BOP RT di Semarang menunjukkan bahwa dia bukanlah sekadar seremonial. Program ini adalah investasi sosial nan mulai menuai hasil, meskipun perjalanan tetap panjang.
Pemkot Semarang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mencatat sejumlah faedah program sepanjang 2025, di antaranya peningkatan gelombang dan kualitas posyandu, lantaran kader sekarang dapat menggelar aktivitas lebih rutin, melengkapi perangkat penimbangan, hingga menyediakan makanan tambahan bagi balita.
Selain itu, program ini juga mendorong revitalisasi gotong royong. Dana BOP dimanfaatkan untuk kerja hormat berkala dengan perlengkapan memadai, seperti sapu, gerobak sampah, hingga cat untuk akomodasi umum. Program ini juga mendukung prioritas 'Semarang Bersih', termasuk pemilahan sampah, perawatan saluran kecil, serta pengurangan titik rawan banjir.
Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, Sutriyoso mengaku merasakan langsung dampaknya.
"Dengan adanya BOP, kami bisa membeli perlengkapan kerja hormat dan mengadakan lomba kebersihan antar-RW. Warga jadi lebih antusias. Ini bukan biaya nan mengambang," kata Sutriyoso.
Hal serupa disampaikan Ketua RT 03 RW 05 Kecamatan Ngaliyan, Wahab Sya'roni.
"Posyandu di wilayah kami sekarang lebih teratur. Bayi dan balita rutin ditimbang. Ibu-ibu senang," tegasnya.
Sementara itu, Ketua RT 08/RW 19 Kelurahan Sendangmulyo, Tembalang, Langgeng Sugiharjo juga mengaku terbantu dengan program ini. Ia apalagi berambisi support Rp25 juta per tahun bisa segera cair pada 2026.
(anl/ega)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·