Jakarta - Memiliki mata nan sehat merupakan angan semua orang, termasuk Oktovianus Klein. Namun, seiring bertambahnya usia, keahlian mata manusia justru kerap berkurang pada golongan lanjut usia (lansia).
Hal itu juga dirasakan oleh Oktovianus. Pria kelahiran tahun 1963 ini mengaku mulai mengalami katarak pada mata kanannya sejak beberapa tahun terakhir.
"Penglihatan saya mulai terasa kabur tuh sekitar lima tahun terakhir," kata Oktovianus dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Meski mengetahui ada nan tidak beres dengan matanya, Oktovianus tidak langsung berobat lantaran terkendala biaya dan tidak ada pelayanan master mata di tempatnya tinggal, ialah Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Oktovianus pun terpaksa beraktivitas dengan penglihatan nan kurang jelas. Sehari-hari dia bekerja sebagai tukang ojek dengan jumlah penghasilan tak menentu. Tak jarang dia juga membantu mengantarkan sayur-mayur ke pasar alias pedagang.
Pria berumur 62 tahun itu pun mengaku cukup terganggu dengan kondisi matanya nan kurang sehat. Tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain untuk mendapatkan pertolongan medis.
"Kadang terganggu juga jika pas lagi ngojek. Pas bawa motor tuh jika kena sinar lampu rasanya silau, kayak berkunang-kunang," ungkap dia.
Minimnya edukasi mengenai kesehatan mata dan operasi katarak menjadi aspek lain nan membikin Oktovianus memilih mempertahankan kondisinya. Dia mengaku takut menjalani operasi katarak lantaran info nan diketahui adalah tindakan itu berupa proses cungkil mata.
"Takut operasi lantaran dari awal itu saya dengar katanya mau taruh mata, cungkil mata, tukar dengan mata kucing," ujar Oktovianus.
Namun, ketakutan Oktovianus mengenai operasi katarak lenyap setelah mendapatkan edukasi dari pendamping PKH dan pihak-pihak terkait. Dia pun bersedia menjalani penanganan medis agar dapat kembali memandang dengan baik melalui operasi katarak gratis.
Adapun program ini merupakan kerja sama antara Kementerian Sosial (Kemensos) dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP), dan Pemerintah Kabupaten Kupang.
"Ya namanya kita mau untuk sembuh, dapat pertolongan dari operasi ya. Apapun nan terjadi ya, hati kita serahkan saja kepada nan Maha Kuasa, ya," ucap Oktovianus.
Operasi katarak cuma-cuma itu digelar dalam rangkaian aktivitas memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) pada 29 Mei. Kegiatan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 29-31 Mei 2026.
Setelah menjalani operasi katarak, Oktovianus merasa senang dan tenang. Sebab, sekarang secara perlahan dia dapat kembali memandang dengan lebih jelas serta beraktivitas dengan baik tanpa pandangan nan buram.
"Artinya bukan langsung total, tapi ada perubahan gitu, lebih jelas (melihat)," ungkapnya.
Hal nan sama juga dirasakan oleh Orpan Nelci Sodak Manafe (69). Setelah menjalani operasi pada mata sebelah kiri, sekarang penduduk Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur ini pun bisa kembali memandang lebih baik.
Nelci merupakan ibu rumah tangga nan telah ditinggal meninggal suaminya tiga tahun lalu. Sejak saat itu, dia berjuang sendiri memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berdagang sayur di pasar. Ketiga anaknya nan telah menikah juga turut membantu memenuhi kebutuhan Nelci.
Nelci juga menerima support dari pemerintah berupa sembako sejak suaminya meninggal. Dia sangat berterimakasih atas program operasi katarak cuma-cuma ini.
"Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah nan telah membuka operasi gratis. Bukan saya sendiri, tapi masyarakat Kabupaten Kupang. Supaya bilamana ada kesempatan tahun depan, jika Tuhan berkemauan untuk bisa mama-mama, opa-opa nan belum dapat dioperasi bisa dijalankan pada tahun depan," ujar Nelci.
(anl/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·