Indonesia belum sempat menarik napas dari satu bencana, musibah lain sudah menyusul. Rentetan musibah Indonesia dalam sepekan terakhir memperlihatkan sungguh tipisnya jarak antara satu krisis dan krisis berikutnya. Di Nusa Tenggara Timur, masyarakat tetap berjibaku dengan akibat gempa bumi berkekuatan M7,7 nan mengguncang Flores. Hampir bersamaan, kebakaran rimba dan lahan terus menyala di beragam wilayah. Pada 23 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan karhutla tetap mendominasi catatan musibah nasional, termasuk kebakaran nan telah melahap 673,4 hektare area Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur. Sementara itu, di NTT, pemerintah tetap sibuk mendistribusikan support bagi penduduk terdampak gempa.
Setiap kali musibah Indonesia terjadi, pertanyaan publik nyaris selalu sama: apa penyebabnya? Gempa dikaitkan dengan pergeseran lempeng bumi, kebakaran dengan musim tandus alias ulah manusia, banjir dengan hujan ekstrem. Jawaban-jawaban itu penting, tapi juga menyesatkan jika berakhir di situ. Ada pertanyaan nan lebih mendasar dan justru sering luput: kenapa masyarakat modern, dengan segala kemajuan teknologinya, tetap saja begitu rentan terhadap risiko?
Sebab musibah tidak pernah turun ke ruang sosial nan kosong. Sebuah gempa mungkin lahir dari proses geologis nan tak bisa dikendalikan manusia, tetapi seberapa besar korban dan kerusakannya sangat ditentukan oleh kualitas bangunan, kesiapan infrastruktur, akses informasi, dan kecepatan evakuasi. Karhutla pun bukan sekadar soal api dan kemarau, melainkan juga soal gimana manusia mengelola lahan dan gimana negara mengantisipasi risikonya. Karena itu, musibah semestinya tidak hanya dibaca sebagai peristiwa alam, tetapi juga peristiwa sosial.
Ketika Modernitas Melahirkan Risikonya Sendiri
Sosiolog Jerman Ulrich Beck menawarkan kerangka berpikir nan relevan untuk membaca situasi ini lewat konsep risk society, alias masyarakat risiko. Bagi Beck, masyarakat modern tidak hanya menghasilkan kemajuan lewat pengetahuan pengetahuan, teknologi, dan industrialisasi, tetapi juga menciptakan akibat nan tidak selalu bisa diprediksi maupun dikendalikan. Modernisasi, dengan kata lain, ikut melahirkan risiko-risiko baru sebagai pengaruh samping dari perkembangannya sendiri.
Dalam masyarakat tradisional, ancaman lebih banyak dipandang datang dari luar kendali manusia. Namun di masyarakat modern, pemisah antara musibah alam dan akibat buatan manusia semakin kabur. Beck apalagi menunjukkan bahwa peristiwa nan tampak murni alamiah, seperti banjir alias longsor, sering kali punya jejak keputusan dan aktivitas manusia di baliknya.
Gagasan ini terasa pas untuk membaca Indonesia hari ini. Kita hidup di tengah kemajuan teknologi nan memungkinkan pemantauan cuaca, penemuan titik panas, pemetaan wilayah rawan, hingga peringatan awal dalam hitungan detik. Tetapi keahlian mengetahui akibat rupanya tidak otomatis membebaskan kita darinya. Di titik inilah paradoks masyarakat modern muncul: semakin besar keahlian manusia mengendalikan alam, semakin besar pula kesadaran bahwa tidak semua akibat pembangunan bisa dikendalikan sepenuhnya. Beck menyebutnya reflexive modernization, ketika modernitas mulai berhadapan dengan akibat dari perkembangan dirinya sendiri.
Bencana Indonesia nan Tidak Hanya Datang dari Alam
Cara pandang ini mengubah pertanyaan nan semestinya kita ajukan. Bukan lagi sekadar "mengapa gempa terjadi" alias "mengapa kebakaran terjadi," melainkan gimana masyarakat membangun sistem untuk hidup berdampingan dengan akibat nan sudah diketahui ada.
Gempa memang kejadian alam. Tapi ketika sebuah guncangan menghasilkan kerusakan besar, persoalannya tidak berakhir pada kekuatan gempanya. Kualitas bangunan, kesiapan evakuasi, akses jasa kesehatan, dan kecepatan pengedaran support ikut menentukan seberapa besar penderitaan nan kudu ditanggung masyarakat terdampak.
Hal serupa bertindak pada karhutla nan terus meluas di beragam provinsi. Data BNPB per 23 Agustus menunjukkan ratusan hektare Way Kambas ludes terbakar, sementara di Kalimantan operasi modifikasi cuaca dan penambahan armada udara terus digenjot seiring melonjaknya titik panas dan sebaran asap dalam sepekan terakhir. Angka-angka ini menegaskan satu hal: penanganan musibah tidak cukup dimulai ketika kejadian sudah berlangsung. nan dibutuhkan adalah sistem nan bisa mengenali dan mengelola akibat sebelum dia membesar menjadi krisis, lantaran sebagian akibat hari ini berkarakter kompleks, lintas wilayah, dan tidak selalu mudah diprediksi.
Menyebut musibah hanya sebagai "musibah" sering membikin kita kehilangan keahlian memandang tanggung jawab sosial nan lebih luas di baliknya. Ketika sebuah akibat sudah diketahui, pertanyaannya bukan lagi apakah musibah bisa dihindari sepenuhnya, melainkan seberapa siap kita mengurangi dampaknya saat akibat itu betul-betul terjadi.
Risiko nan Tidak Dibagi Secara Adil
Ada satu perihal krusial nan sering terlewat dari langkah kita membaca musibah Indonesia: meski akibat bisa menyebar luas, keahlian menghadapinya tidak pernah betul-betul setara.
Masyarakat dengan sumber daya ekonomi lebih besar punya lebih banyak pilihan saat musibah datang, mereka bisa mengungsi sementara, memperbaiki rumah, alias menghentikan aktivitas ekonomi tanpa kehilangan segalanya. Sebaliknya, bagi masyarakat dengan sumber daya terbatas, satu musibah saja bisa berfaedah kehilangan rumah, pekerjaan, pendapatan, apalagi akses terhadap kebutuhan paling dasar.
Di sinilah masyarakat akibat memperlihatkan wajah aslinya: bukan kondisi di mana semua orang setara di hadapan bahaya, melainkan arena di mana akibat berinteraksi dengan ketimpangan sosial nan sudah ada sejak sebelum musibah itu datang. Dua orang bisa menghadapi ancaman nan sama persis, tetapi mempunyai keahlian memperkuat nan jauh berbeda. Satu family menganggap pemindahan sebagai gangguan sementara; family lain kudu mempertaruhkan seluruh sumber penghidupannya hanya untuk pergi menjauh dari wilayah terdampak. Dengan begitu, ketangguhan menghadapi musibah bukan hanya soal seberapa besar kekuatan alam nan datang, tetapi juga seberapa besar kapabilitas sosial nan dimiliki masyarakat untuk menghadapinya.
Dari Menanggulangi Bencana Menuju Mengelola Risiko
Cara berpikir ini semestinya mengubah arah kebijakan penanggulangan musibah Indonesia ke depan. Selama ini perhatian publik dan pemerintah sering kali membesar justru setelah musibah terjadi: support dikirim, pengungsian dibangun, korban didata, kerugian dihitung. Semua itu memang perlu. Tapi masyarakat akibat menuntut sesuatu nan lebih jauh, ialah keahlian mengantisipasi akibat sebelum dia berubah menjadi musibah besar.
BNPB sendiri terus mendorong kesiapsiagaan, pemantauan, pemetaan wilayah rawan, dan penemuan awal menghadapi potensi karhutla. Langkah ini menegaskan bahwa pengelolaan musibah tidak bisa hanya dimulai setelah api membesar alias gedung runtuh. nan dibutuhkan bukan masyarakat nan berambisi musibah tidak bakal datang, melainkan masyarakat nan menyadari bahwa ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan modern itu sendiri, dan menerjemahkan kesadaran itu ke dalam tata ruang nan lebih aman, prasarana nan lebih tangguh, sistem peringatan awal nan efektif, akses info nan merata, serta kebijakan nan memperhitungkan golongan paling rentan.
Pada akhirnya, teori masyarakat akibat dari Ulrich Beck membujuk kita memandang musibah dengan langkah berbeda. Bencana memang bisa bermulai dari kekuatan alam, tetapi akibat dan dampaknya selalu berkelindan dengan langkah manusia membangun masyarakatnya sendiri. Modernitas memberi kita perangkat untuk mengendalikan banyak hal, sekaligus menghadapkan kita pada akibat nan tidak sepenuhnya bisa kita kuasai.
Karena itu, pertanyaan paling krusial setelah sebuah musibah bukan sekadar "apa nan terjadi?," melainkan "masyarakat seperti apa nan membikin kita begitu rentan terhadapnya?" Sebab jika musibah terus kita perlakukan semata sebagai kejadian alam nan datang tiba-tiba, kita bakal terus sibuk memadamkan api setelah kebakaran meluas dan memperbaiki rumah setelah gempa menghancurkannya. Namun jika kita melihatnya sebagai bagian dari masyarakat risiko, tugas kita menjadi lebih besar: bukan sekadar menghadapi bencana, melainkan membangun masyarakat nan tidak membiarkan akibat berubah menjadi penderitaan nan lebih besar.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·