Benarkah Law of Attraction Itu Ilmiah?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi Law of Attraction (pixabay.com)

Pernahkah Anda memandang konten di media sosial nan menyatakan bahwa Anda bisa menarik kekayaan dan jodoh hanya dengan menyelaraskan “energi” dan “frekuensi” pikiran? Konsep tersebut dinamakan sebagai manifesting dan Law of Attraction (LoA). Konsep norma ini sedang tren setidaknya sampai 2025 lalu, apalagi hingga sekarang sasaran publik nan menjadi sasaran ialah kalangan muda tetap banyak nan melakukannya. Manifesting alias law of attraction bukanlah perihal nan baru, namun telah ada sejak abad ke-19 nan dikenal dengan julukan New Thought.

Konsep ini menganggap bahwa alam semesta bisa memberikan apapun hanya dengan pemikiran dan kepercayaan kita. Konsep ini juga berbicara bahwa pemikiran positif bakal mendatangkan hal-hal positif, begitu pula dengan pemikiran negatif maka bakal mendatangkan hal-hal negatif dalam hidup seseorang. Orang-orang nan percaya dengan norma ini bakal menyatakan bahwa law of attraction bisa mempengaruhi kehidupan, mulai dari kesehatan hingga finansial (Scott, 2025).

Namun, di kembali istilah nan terdengar seperti bahasa sains ini, apakah betul ilmiah alias kesalahan logika dalam berpikir?

Meminjam Istilah Sains demi Validitas

Istilah sains alias ilmiah nan sering digunakan oleh praktisi LoA adalah mekanika kuantum dalam pengetahuan fisika, seperti “energi”, “frekuensi”, dan “vibrasi”. Mereka seringkali menyatakan bahwa pikiran manusia mempunyai daya nan dapat mempengaruhi realitas.

Secara logika, ini merupakan kesalahan kategori. Mekanika kuantum adalah bagian fisika nan menggambarkan perilaku dan daya partikel subatomik pada skala mikroskopis (Abbadia, 2023), bukan nan menjelaskan gimana pikiran alias daya seseorang dapat menarik kekayaan alias jodoh. Praktisi LoA alias manifestasi sering kali memakai istilah sains untuk memberi kesan validitas atas teori nan tidak mempunyai bukti empiris, agar sasaran nan dituju percaya dan menganggap bahwa teori ini merupakan ilmiah.

Ilmiah alias Kesalahan Logika?

Mengapa tetap banyak orang nan percaya dan melakukan konsep manifestasi alias LoA? Orang-orang nan tetap percaya kebanyakan terpengaruh dengan testimoni-testimoni nan beredar bahwa dengan melakukan manifestasi alias hanya dengan memikirkan apa nan sedang diinginkan, sesuatu nan diinginkan tersebut bakal datang sendiri kepadanya. Namun, secara logika, ini merupakan contoh dari bias konfirmasi (confirmation bias).

Menurut Peters (2020), bias konfirmasi merupakan proses di mana seseorang mencari info nan mendukung kepercayaan nan sudah ada dan mengabaikan info nan kontradiktif. Ini menjelaskan bahwa manusia condong mencari info nan mendukung kepercayaan dan menyepelekan info nan bertentangan. Jika Anda memanifestasikan untuk selalu mendapatkan lampu hijau saat berjumpa lampu lampau lintas di jalan, lampau saat betul-betul mendapatkan perihal tersebut Anda bakal percaya dengan kekuatan pikiran dan selalu mengingatnya. Namun, saat perihal itu tidak terjadi Anda bakal segera melupakan dan mengabaikan kegagalan tersebut.

Law of attraction kandas memenuhi syarat sebagai sains ialah falsifikasi, dalam makulat pengetahuan Karl Popper menyatakan bahwa suatu teori ilmiah kudu dapat diuji melalui observasi alias penelitian dan mempunyai kemungkinan untuk dibuktikan salah. Namun dalam law of attraction, jika kemauan seseorang tidak tercapai, teorinya tidak pernah dianggap salah.

Beban kesalahan selalu dilemparkan kepada subjeknya dengan penjelasan bahwa Anda kurang percaya alias daya Anda tidak selaras. Dengan menyalahkan kurangnya kepercayaan setiap kali kemauan tak terwujud, law of attraction tidak dapat disebut sebagai norma alam alias teori ilmiah, melainkan menjadi dogma nan kebal terhadap kritik.

Berpikir Optimis VS Berpikir Logika

Kita perlu membedakan antara optimisme (yang sehat) dengan manifestasi nan fana. Berpikir positif memang mempunyai faedah psikologis, seperti meningkatkan motivasi dan ketahanan mental seseorang. Namun, menganggap bahwa daya dan pikiran secara langsung bisa mendatangkan keberuntungan adalah sebuah konklusi dari pemikiran logika nan salah lantaran tidak dapat dibuktikan dengan bukti ilmiah.

Tidak ada nan salah dengan mempunyai angan alias menggunakan afirmasi positif untuk menenangkan pikiran nan cemas. Namun, kita kudu berhati-hati agar tidak terjebak dalam pseudosains nan justru melemahkan keahlian berpikir kritis kita.

Dunia ini kompleks, acak, dan sering kali tidak adil. Kita memerlukan optimisme nan rasional—sebuah langkah pandang nan mengakui kekuatan motivasi pikiran, namun tetap berpijak pada tindakan nyata dan logika nan sehat. Karena pada akhirnya, realitas bumi tidak bakal berubah hanya lantaran kita memikirkannya dengan keras, melainkan lantaran kita mengupayakannya dengan logika dan upaya nan jelas.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan