Ilustrasi.(Magnific)
KETIKA mendengar kata Asyura alias Suro, sebagian masyarakat mungkin langsung terkenang pada hal-hal nan dianggap angker, keramat, alias penuh pantangan. Persepsi itu hidup cukup lama dalam sebagian tradisi masyarakat, terutama lantaran bulan Muharam alias Suro sering dikaitkan dengan mitos dan cerita mistis.
"Namun, dalam perspektif Islam, Asyura bukanlah hari nan menyeramkan. Asyura justru dikenal sebagai hari nan mulia, ialah hari kesepuluh pada bulan Muharam. Kata Asyura merujuk pada nomor sepuluh, sehingga hari Asyura dipahami sebagai tanggal 10 Muharam," tutur Ustaz Ajir Ubaidillah dalam kanalnya di Youtube.
Karena itu, dugaan bahwa Asyura identik dengan kesialan, klenik, alias suasana berpenunggu perlu dilihat kembali secara proporsional. Dalam aliran Islam, kemuliaan hari tidak diukur dari mitos nan berkembang, tetapi dari nilai ibadah, peristiwa penting, dan pelajaran spiritual nan dapat diambil darinya.
Asyura adalah Hari Kesepuluh Bulan Muharram
Asyura merupakan istilah untuk hari kesepuluh pada bulan Muharam. Muharam sendiri termasuk bulan nan dimuliakan dalam Islam. Karena itu, Asyura menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak kebaikan, memperkuat keimanan, dan mengambil pelajaran dari kisah para nabi serta orang-orang saleh.
"Dalam sejumlah penjelasan keagamaan, termasuk nan merujuk pada kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Makki, disebutkan bahwa hari Asyura dikaitkan dengan beragam peristiwa krusial dalam sejarah para nabi. Peristiwa-peristiwa tersebut menggambarkan pertolongan Allah, pengampunan, keselamatan, dan kemenangan nilai kebenaran atas kezaliman," ujar Gus Ajir, panggilan akrabnya.
Sejumlah Peristiwa nan Dikaitkan dengan Hari Asyura
Dalam tradisi keilmuan Islam, hari Asyura sering dikaitkan dengan sejumlah peristiwa besar. Beberapa di antaranya adalah kisah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan para nabi lain. Kisah-kisah itu memberi pesan bahwa Asyura bukan hari untuk ditakuti, melainkan hari untuk merenung dan memperbanyak kebaikan baik.
1. Nabi Adam dan Penerimaan Tobat
Salah satu peristiwa nan disebut berangkaian dengan Asyura adalah pembuatan Nabi Adam serta penerimaan tobatnya. Kisah Nabi Adam dan Hawa mengajarkan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan, tetapi pintu pembebasan Allah selalu terbuka bagi mereka nan bertobat dengan sungguh-sungguh.
Doa tobat Nabi Adam dan Hawa juga diabadikan dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 23. Doa itu berisi pengakuan atas kesalahan diri dan permohonan maaf kepada Allah. Dari kisah ini, Asyura dapat dipahami sebagai momentum untuk kembali kepada Allah, bukan sebagai hari nan menakutkan.
2. Selamatnya Nabi Nuh dan Pengikutnya
Peristiwa lain nan sering dikaitkan dengan Asyura adalah mendaratnya perahu Nabi Nuh di Bukit Judi setelah banjir besar. Nabi Nuh menghadapi penolakan panjang dari kaumnya. Namun, kesabaran dan keteguhan beliau akhirnya berbuah pertolongan Allah.
Kisah Nabi Nuh mengajarkan bahwa ujian dapat berjalan lama, tetapi keselamatan bakal datang bagi mereka nan tetap beragama dan bersabar. Dalam konteks Asyura, pesan ini membujuk umat untuk memperkuat kepercayaan bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu nan tepat.
3. Selamatnya Nabi Musa dari Kejaran Firaun
Asyura juga dikenal melalui kisah Nabi Musa nan diselamatkan dari kejaran Firaun dan pasukannya. Dalam kisah tersebut, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan membelah laut sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat selamat, sementara Firaun dan pasukannya tenggelam.
Kisah ini menjadi simbol pembebasan dari kezaliman. Asyura, dalam konteks ini, adalah pengingat bahwa kekuasaan nan kejam tidak bakal kekal dan kebenaran bakal mendapatkan pertolongan Allah.
Asyura dan Kisah Para Nabi Lain
Selain tiga kisah besar tersebut, sejumlah riwayat juga mengaitkan Asyura dengan peristiwa lain dalam kehidupan para nabi. Di antaranya Nabi Ibrahim nan diselamatkan dari kobaran api Raja Namrud, Nabi Yunus nan dikeluarkan dari perut ikan, Nabi Yusuf nan diselamatkan dari sumur, serta Nabi Ayub nan terbebas dari ujian sakit.
Disebutkan pula kisah Nabi Ya'qub nan kembali dapat melihat, Nabi Dawud nan mendapat ampunan, serta peristiwa syahidnya Al-Husain, cucu Rasulullah Muhammad SAW. Rangkaian kisah tersebut menunjukkan bahwa Asyura memuat banyak pelajaran tentang kesabaran, pengorbanan, tobat, dan pertolongan Allah.
Mengapa Asyura Sering Dianggap Angker?
Anggapan bahwa Asyura alias Suro adalah waktu nan berpenunggu lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi sosial dan mitos nan berkembang di masyarakat. Dalam sebagian kebudayaan lokal, bulan Suro sering dihubungkan dengan larangan tertentu, suasana sakral, alias larangan menggelar aktivitas besar.
Tradisi budaya tentu dapat menjadi bagian dari kekayaan masyarakat, selama tidak bertentangan dengan nilai kepercayaan dan tidak menumbuhkan ketakutan berlebihan. Namun, jika kepercayaan terhadap mitos membikin seseorang takut melakukan baik, takut beraktivitas, alias menganggap suatu hari membawa apes dengan sendirinya, pandangan itu perlu diluruskan.
Dalam Islam, tidak ada hari nan membawa kesialan secara mutlak. Hari Asyura justru dapat diisi dengan ibadah, doa, sedekah, memperbanyak zikir, dan memperkuat hubungan sosial.
Asyura sebagai Momentum Kebaikan
Alih-alih memandang Asyura sebagai hari nan angker, umat Islam dapat menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak kebaikan saleh. Hari ini dapat dimaknai sebagai waktu untuk meneladani keteguhan para nabi, mengingat kembali pentingnya tobat, dan menumbuhkan optimisme bahwa setiap kesulitan mempunyai jalan keluar.
Asyura juga mengajarkan bahwa kemuliaan suatu hari bukan terletak pada cerita misterius nan melingkupinya, melainkan pada nilai spiritual nan dapat dihidupkan di dalamnya. Ketika seseorang memahami makna Asyura dengan benar, rasa takut terhadap mitos bakal berganti menjadi semangat untuk melakukan baik.
Kesimpulan
Asyura bukanlah hari angker. Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram nan dalam tradisi Islam dikenal sebagai hari mulia. Berbagai kisah nan dikaitkan dengan hari ini mengandung pesan tentang tobat, keselamatan, kesabaran, dan pertolongan Allah.
Karena itu, daripada terjebak pada mitos dan ketakutan, Asyura sebaiknya diisi dengan kebaikan. Memahami Asyura secara tepat membantu masyarakat memandang bahwa hari ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dimuliakan melalui kebaikan dan refleksi spiritual. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·