BEI Tak Hitung Potensi Outflow MSCI: Serahkan ke Mekanisme Pasar

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik di Kantor BEI, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak menghitung potensi arus biaya keluar (outflow) menyusul keputusan MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan sejumlah analis sebelumnya memperkirakan potensi outflow sekitar USD 100 juta hingga USD 200 juta. Namun, BEI tidak mempunyai kalkulasi sendiri mengenai besaran biaya nan berpotensi keluar.

“Tadi ada beberapa analis nan sudah menyampaikan sekitar 200 juta alias 100 juta USD gitu kan ya. Kalau kami enggak,” kata Jeffrey kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Kamis (13/8).

Menurut Jeffrey, arus biaya masuk dan keluar merupakan perihal nan wajar terjadi di pasar modal. Karena itu, BEI takkan mengintervensi pergerakan biaya tersebut.

“Kalau outflow dan inflow itu kan sesuatu nan wajar terjadi di pasar. Ya kami selalu menyerahkan seluruhnya kepada sistem di pasar,” sebut dia.

Jeffrey juga mengatakan penanammodal perlu melakukan rebalancing setelah konstituen emiten RI di MSCI telah keluar.

“Oh enggak, jika penanammodal nan memang kudu melakukan rebalancing, ya itu kan adalah sesuatu nan memang kudu dilakukan,” kata dia.

instagram embed

MSCI sebelumnya mengumumkan perubahan konstituen dalam review MSCI Global Standard Indexes dan Global Small Cap Indexes. Perubahan mulai bertindak setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.

Dalam pengumuman nan terbit Kamis (13/8), dua saham Indonesia, ialah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.

MSCI mencatat Indonesia mengalami 0 penambahan dan 2 penghapusan saham dalam MSCI Global Standard Indexes pada kajian Agustus 2026.

Di sisi lain, sembilan saham Indonesia kudu keluar dari indeks MSCI Global Small Cap. Kesembilan saham di antaranya: Bank Jago Tbk (ARTO), Bukalapak.com Tbk (BUKA), Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), MD Entertainment Tbk (FILM), Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Di tengah perubahan konstituen MSCI itu, BEI berambisi kondisi pasar modal Indonesia kembali pulih. Jeffrey menyebut stabilitas ekonomi domestik menjadi salah satu aspek nan dapat mendukung pemulihan pasar.

“Kemudian di dalam negeri kan kita juga memandang data-data makroekonomi kita juga tetap stabil. Baik pertumbuhannya, apa nan menjadi concern pasar selama beberapa bulan terakhir ini itu juga sedang kita lakukan terus, kita carikan upaya tercepat untuk bisa selesai dan kelihatannya kita sudah ke arah nan tepat untuk bisa menyelesaikan seluruhnya,” jelas Jeffrey.

“Jadi kita harapkan ke depannya ya pasar kita bakal pulih,” tuturnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan