Beban Mental dan "Balas Dendam" Waktu Tidur Bikin Ibu Kurang Istirahat

Sedang Trending 34 menit yang lalu
Beban Mental dan Ilustrasi(Magnific)

SETIAP orangtua mempunyai langkah pengasuhan dan nilai family nan berbeda-beda. Namun, ada satu kesamaan nan nyaris dirasakan oleh semua orangtua, ialah kehilangan waktu tidur di malam hari akibat menjaga buah hati. Bagi seorang ibu, malam-malam tanpa tidur ini rupanya tidak lantas berhujung meskipun anak-anak mereka sudah melewati fase bayi.

Aplikasi pencari kebiasaan tidur, BetterSleep, bekerja-sama dengan Wakefield Research baru saja merilis Bedtime Report. Laporan ini menyurvei 1.000 ibu dengan anak berumur di bawah 18 tahun di Amerika Serikat untuk memandang kualitas tidur mereka.

Hasilnya menunjukkan 29% ibu mengaku tidak mendapatkan tidur nan nyenyak dalam seminggu terakhir. Hanya 23% ibu nan bisa memenuhi pemisah minimal tidur malam, ialah tujuh jam. Kondisi ini lebih berat bagi para ibu tunggal (single mom), di mana 33% di antaranya melaporkan hanya tidur selama lima jam alias apalagi kurang.

Kecemasan dan Fenomena "Revenge Bedtime Procrastination"

Menariknya, penyebab utama para ibu ini terjaga di malam hari bukanlah lantaran gangguan dari anak-anak mereka. Sebanyak 70% ibu menyebut bahwa kecemasan, beban mental, alias pikiran nan terus berputar (racing thoughts) menjadi argumen utama mereka susah tidur. Sementara itu, 20% lainnya menyalahkan bunyi mendengkur pasangan mereka.

Selain itu, survei mencatat 68% ibu sengaja memilih untuk begadang. Fenomena ini dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination alias prokrastinasi waktu tidur demi membalas dendam. Banyak ibu memilih terjaga hingga larut malam demi memastikan pekerjaan rumah tangga selesai, seperti melipat pakaian, mencuci piring, alias sekadar mendapatkan waktu untuk mandi dengan tenang tanpa gangguan.

Dampak Kelelahan pada Pola Asuh dan Pekerjaan

Kurang tidur nan berkepanjangan ini membawa akibat nan tidak sehat bagi kehidupan sehari-hari. Orang tua nan kelelahan condong lebih mudah marah, susah fokus, dan kesulitan menikmati waktu berbareng anak-anak mereka.

Data laporan tersebut menegaskan bahwa 48% responden merasa hanya menjalankan rutinitas tanpa emosi berbareng anak mereka, 34% lebih berjuntai pada gawai alias televisi untuk mengalihkan anak agar bisa memperkuat menjalani hari, dan 20% ibu mengaku merasa terputus secara emosional dari anak kandung mereka sendiri.

Kondisi ini bukan berfaedah para ibu tersebut kandas dalam mengasuh anak, melainkan lantaran mereka memikul terlalu banyak ekspektasi peran, mulai dari menjadi konselor mental, ahli masak, dokter, perencana acara, hingga asisten shopping pribadi bagi family mereka.

Dampak jelek ini juga merembet ke bumi kerja. Sebanyak 53% ibu nan bekerja mengaku pernah mengambil izin sakit, pulang lebih awal, alias mengalami penurunan performa kerja dalam setahun terakhir akibat kurang tidur.

Kurangnya waktu rehat membikin para ibu mengorbankan waktu untuk diri mereka sendiri. Sebanyak 49% ibu kurang berolahraga, 46% memotong waktu untuk hobi, dan 45% mengurangi waktu berkumpul berbareng teman-teman mereka.

Ironisnya, sebanyak 36% ibu nan disurvei tetap menganggap bahwa rehat adalah sesuatu nan kudu mereka "menangkan" alias usahakan dengan bekerja keras terlebih dahulu. Pola pikir ini dinilai memicu kelelahan bentuk dan mental (burnout) nan ekstrem. Untuk mengatasi krisis ini, para ibu memerlukan support psikologis, support nyata dari pasangan alias family besar, serta elastisitas di tempat kerja agar bisa mendapatkan kewenangan rehat nan layak. (Parents/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia