Ilustrasi(Istimewa)
PENGUSAHA dan penanammodal Mohamad Amin Ahlun Nazar menjadi bagian dari Delegasi Republik Indonesia dalam Indonesia-U.S. Digital Technology Forum Bidang Ekonomi Kreatif nan berjalan di Los Angeles pada 5 hingga 8 Oktober 2026. Mewakili Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) dan PT Pola Raya Studio, dia menjajaki kemitraan untuk memperluas pasar internasional bagi karya dan jasa imajinatif Indonesia.
Delegasi Indonesia dalam forum tersebut dipimpin oleh Duta Besar Grata Endah Werdaningtyas, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI. Susunan delegasi juga mencakup Yovie Widianto, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, serta Prof Derwin Suhartono, Dekan School of Computer Science BINUS University. Bersama perwakilan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, termasuk Amin nan mewakili GEKRAFS dan PT Pola Raya Studio, forum ini mempertemukan beragam skill dan kepentingan strategis untuk memperkuat kerja sama teknologi, inovasi, investasi, serta daya saing ekonomi imajinatif Indonesia di pasar global.
Sepuluh tahun sebelumnya, tujuan Amin jauh lebih sederhana: menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Setelah meninggalkan Pertamina pada 2016 dan sempat menganggur, dia menawarkan jasa pembuatan website. Menurut penuturannya, pengeluaran awalnya hanya Rp15.000 untuk membeli domain email. Bekal utamanya adalah keterampilan. Ia mencari pelanggan, merancang tampilan, mengonfigurasi server, hingga mengerjakan sendiri perincian tipografi dan ilustrasi.
Namun, ujian nan mengubah pandangannya tentang upaya datang pada 2022, ketika dia berinvestasi di Pola Raya Studio.
Perusahaan sedang menghadapi krisis dan memerlukan pembenahan. Di dalamnya, para perajin memperkuat dengan pengetahuan nan dibangun selama puluhan tahun: menerjemahkan gambar, menjaga ketepatan skala, dan mewujudkan pendapat menjadi miniatur nan presisi.
Ia membawa investasi dan mengambil tanggung jawab pengelolaan. Para pekerja menyumbangkan pengalaman, menjaga mutu, dan menyelesaikan pesanan di tengah kesulitan. Pembenahan itu merupakan pekerjaan bersama. Modal memerlukan skill mereka, sebagaimana skill mereka memerlukan perusahaan nan dikelola dengan baik.
“Saat menganggur, saya hanya berambisi bisa kembali mempunyai penghasilan. Ketika ikut membenahi Pola Raya, saya menyadari bahwa menjaga sebuah upaya juga berfaedah menjaga nafkah family dan masa depan anak-anak karyawan. Dari pengalaman itulah saya percaya, ekonomi imajinatif adalah salah satu jalan mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Karena itu, kita kudu memperjuangkannya,” ujar Amin dikutip Kamis (15/10).
Pada 2023, menurut Amin, perusahaan-perusahaan nan dipimpinnya mencapai puncak pendapatan campuran sebesar jutaan dollar. Ia mengaitkan pencapaian tersebut dengan kerja tim, kejujuran, dan integritas. Baginya, kepercayaan kudu melangkah dua arah: pekerja bertanggung jawab atas mutu pekerjaan, sementara pemimpin memenuhi tanggungjawab perusahaan dan memberi mereka ruang untuk berkembang.
Pandangan mengenai pentingnya ekonomi imajinatif juga tercermin dalam pernyataan sejumlah tokoh nasional. Presiden Prabowo Subianto pada Mei 2026 menegaskan bahwa pembangunan produktif kudu bisa menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan nilai tambah bagi rakyat. Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi GEKRAFS, Sufmi Dasco Ahmad, dalam Rakernas GEKRAFS Maret 2026 menyoroti semakin pentingnya ekonomi imajinatif di tengah perubahan struktur perekonomian. Ketua Umum GEKRAFS Kawendra Lukistian juga mendorong pemberdayaan pelaku imajinatif melalui delapan program Asta Karya, termasuk perlindungan kekayaan intelektual dan ekspansi jejaring internasional melalui Global Outreach and Diaspora Engagement (GLOBE).
Pengalaman itulah nan dia bawa ke Los Angeles. Sebagai tindak lanjut dari forum tersebut, Amin berencana menjajaki kesempatan kerja sama nan menghubungkan keahlian digital serta skill perajin Indonesia dengan mitra Amerika Serikat. Ia berambisi penjajakan ini kelak dapat menghasilkan hubungan komersial dan pekerjaan nan berkelanjutan, sehingga faedah forum tidak berakhir pada pertemuan dan pertukaran gagasan.
Salah satu misi unik nan mau diperjuangkannya adalah menjajaki kesempatan memperoleh lisensi resmi atas kekayaan intelektual (intellectual property alias IP) waralaba movie Avatar karya James Cameron, dengan tujuan mengembangkan lokasi wisata tematik berbasis movie di Indonesia. Konsep ini dikenal dalam industri intermezo sebagai location-based entertainment (LBE), nan menghadirkan bumi dan pengalaman sinematik melalui atraksi imersif. Rencana tersebut tetap memerlukan penjajakan dan persetujuan dari pemegang kewenangan terkait.
Ia berambisi kesempatan kerja sama nan bakal dijajaki tersebut nantinya dapat membuka kesempatan bagi mereka nan mau membangun upaya maupun nan memilih menekuni skill dalam sebuah tim. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·