Tangerang Selatan, CNN Indonesia --
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membantah tudingan melakukan tindakan premanisme di kasus sengketa dengan SD/TK Islam Pembangunan (TKIP) dan Pamulang, Tangerang Selatan.
UIN menyebut orang-orang nan datang dalam aktivitas tersebut merupakan bagian dari tim keamanan internal. Kedatangan mereka diklaim bermaksud menjaga situasi tetap kondusif dan tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar (KBM).
Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imam Subchi, mengatakan pihaknya sengaja mendatangi letak pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu salah sekali, tidak benar. Kami datang malam-malam lantaran mau menghindari dan tidak mengganggu KBM," kata Imam dalam konvensi pers, Rabu (26/8/2026).
Menurut Imam, sebagian petugas juga mengenakan busana biasa. Hal itu, kata dia, dilakukan agar kehadiran mereka tidak menimbulkan kesan intimidasi terhadap lingkungan sekolah.
Imam memastikan aktivitas belajar mengajar di TKIP dan SDIP tetap melangkah normal.
"Mulai hari ini KBM normal. Hari ini tidak ada masalah," ujarnya.
Sebelumnya para orang tua dan wali siswa (OTM) Sekolah Dasar Islam Plus (SDIP) dan Taman Kanak-Kanak Islam Plus (TKIP) di Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, meminta pihak-pihak nan sedang mempersengketakan lahan itu untuk menahan diri menunggu putusan norma berkekuatan tetap alias inkrah.
Hal itu, tegas mereka, agar tak mengganggu aktivitas belajar mengajar (KBM) putra dan putri mereka di sana.
Permintaan tersebut disampaikan menyusul bentrok antara pihak yayasan dan UIN Syarif Hidayatullah alias UIN Jakarta mengenai kepemilikan lahan itu beberapa waktu terakhir. Perjalanan sengketa lahan nan berujung aksi-aksi di lapangan dinilai oara orang tua siswa berakibat terhadap lingkungan sekolah.
Orang tua siswa kemudian mendorong kedua pihak menyepakati sejumlah poin untuk memastikan proses belajar mengajar tetap melangkah kondusif.
Salah satu wali siswa SDIP, Dedi Setiawan, Senin (24/08), mengatakan orang tua siswa tidak mempersoalkan siapa pihak nan nantinya secara sah berkuasa mengelola sekolah. Menurutnya, para orang tua bakal menerima keputusan norma nan telah berkekuatan norma tetap.
"Kalau perspektif orang tua murid, kita minta kedua belah pihak nan berseteru, dalam perihal ini yayasan, untuk dapat menahan diri sampai keputusan norma nan sah didapatkan," kata Dedi.
"Kami orang tua siswa bakal menerima siapa pun pihak yayasannya," imbuhnya.
Sementara alumni mendesak pihak Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah alias UIN Jakarta tak menggunakan cara-cara intimidasi hingga dugaan premanisme dalam menghadapi kasus sengketa lahan dengan kompleks pendidikan TK Islam Pembangunan (TKIP) dan SD Islam Pembangunan (SDIP) Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten.
Lewat pernyataan sikap nan mereka keluarkan, golongan alumni kampus nan berada di bawah bimbingan Kemenag itu meminta UIN Jakarta menghentikan dugaan cara-cara premanisme dalam kasus tersebut.
Sebab, dugaan tindakan premanisme dan intimidasi dinilai bakal mengganggu proses belajar mengajar, terutama keamanan anak-anak.
"Kami menolak segala corak kekerasan, intimidasi, dan premanisme dari pihak mana pun, dengan dalih apa pun," demikian dikutip dari sikap resmi tersebut, Senin (24/8).
(sur/tim/sur)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·