Jakarta -
Bank Sentral Jepang telah meningkatkan suku kembang sebesar 0,75%, menjadi 1%. Kenaikan ini menjadi nan tertinggi dalam sejarah sejak 1995.
Pengetatan kebijakan ini terjadi pada saat Jepang sedang berjuang dengan yen nan babak belur dan inflasi melonjak. Kondisi tersebut sebagai akibat dari perang Iran dan AS-Israel.
Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann mengatakan, Gubernur BOJ Kazuo Ueda telah memberi sinyal kenaikan suku kembang dalam pidatonya awal bulan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Efek limpahan inflasi nan berasal dari nilai minyak mentah nan lebih tinggi lebih mungkin menyebabkan penyimpangan ke atas dalam inflasi inti," kata dia beberapa waktu lampau dikutip dari CNBC, Selasa (16/6/2026).
Terkait pelemahan yen, Bank Sentral Jepang telah menggelontorkan 11,7 triliun yen (US$ 73,5 miliar) untuk operasi intervensi pada Mei. Namun, Yen kembali melemah, menyentuh level 160 terhadap dolar AS dan memperkuat di level tersebut nyaris sepanjang Juni.
"Intervensi tanpa mengubah kebijakan moneter domestik seperti menginjak rem sembari tetap menginjak pedal gas paling banter, penumpang Anda sedikit bersenang-senang, paling buruk, Anda menghabiskan kampas rem," kata Jesper Koll, kepala mahir di perusahaan jasa finansial Monex Group nan berbasis di Tokyo.
Yen nan lemah, meskipun meningkatkan daya saing ekspor Jepang, tetapi dampaknya bakal meningkatkan inflasi, nilai impor dan menekan finansial pemerintah.
Sebagai corak alas untuk masyarakat, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah memberlakukan anggaran tambahan sebesar 3 triliun yen untuk melindungi rumah tangga dari kenaikan biaya energi.
(ada/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·