Bank Dunia atau World Bank memproyeksikan nilai logam dan mineral global bakal naik sekitar 17 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026. Dalam laporan terbarunya di Commodity Markets Outlook, kenaikan ini didorong oleh permintaan nan terus tumbuh, biaya produksi nan meningkat, serta pasokan nan tetap ketat untuk sejumlah logam utama.
“Indeks nilai logam dan mineral diproyeksikan naik 17 persen pada 2026, didukung oleh permintaan nan terus meningkat, biaya produksi nan lebih tinggi, dan ketatnya pasokan pada beberapa logam dasar," tulis Bank Dunia, Kamis (30/4).
Khusus untuk aluminium, tekanan nilai juga diperparah oleh berkurangnya ekspor dari area Timur Tengah akibat konflik. Dalam kasus aluminium, kondisi ini diperparah oleh penurunan ekspor lantaran perang di Iran belum berakhir.
Namun, pada 2027 nilai logam diperkirakan mulai turun sekitar 7 persen seiring meredanya biaya produksi dan mulai longgarnya pasokan.
Energi Bersih dan Data Center Dorong Permintaan
Permintaan logam dasar tetap kuat secara struktural. Selain digunakan dalam sektor tradisional, lonjakan juga datang dari industri baru seperti daya terbarukan, elektrifikasi, dan pusat data.
Konsumsi logam dasar tetap kuat secara struktural, didukung oleh penggunaan tradisional serta momentum kuat dari industri baru seperti daya terbarukan, elektrifikasi, dan pusat data.
Harga aluminium, tembaga, dan timah, nan menjadi bahan krusial di sektor-sektor tersebut, diproyeksikan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 2026. Ini bakal menjadi tahun ketiga berturut-turut kenaikan harga.
Meski demikian, kenaikan nilai logam dalam beberapa tahun terakhir tetap lebih stabil dibandingkan lonjakan ekstrem pada era booming komoditas 2000-an.
Berbeda dengan logam lainnya, nilai bijih besi diperkirakan turun ke level terendah dalam tujuh tahun. Penurunan ini dipicu oleh lemahnya sektor properti di China serta aktivitas bangunan nan tetap lesu di negara maju, di tengah pasokan nan melimpah.
Logam Mulia Melonjak, Emas dan Perak Cetak Rekor
Setelah melonjak tajam pada 2025, nilai logam mulia diperkirakan naik lebih tinggi lagi pada 2026, ialah sekitar 42 persen (yoy), mencapai rekor tertinggi tahunan.
“Harga rata-rata logam mulia diperkirakan naik 42 persen pada 2026, mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun," kata Bank Dunia.
Pada 2027, nilai diproyeksikan mulai moderat, namun tetap berada di level tinggi secara historis. Harga emas dan perak tahun ini diperkirakan nyaris empat kali lipat dibanding rata-rata periode 2015-2019, sementara platinum sekitar dua kali lipat.
Ketidakpastian Global Jadi Pendorong
Bank Dunia menilai ketidakpastian geopolitik, termasuk perang nan tetap berlangsung, bakal terus menopang permintaan investasi terhadap logam mulia seperti emas.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan industri untuk perak dan platinum juga memperketat pasar. Namun, proyeksi nilai logam mulia tetap sangat dipengaruhi oleh pergerakan spekulatif di pasar keuangan.
“Proyeksi nilai logam mulia menghadapi ketidakpastian tinggi, seiring perubahan besar dalam posisi spekulatif nan memperbesar pergerakan harga," kata Bank Dunia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·