Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif(Schneider)
Sektor bangunan tetap menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di bumi sekaligus menghadapi tantangan dalam meningkatkan efisiensi energi. Laporan Architecture 2030 (2020) mencatat gedung berkontribusi nyaris 40% terhadap total emisi karbon global. Sementara itu, US Environmental Protection Agency (EPA) memperkirakan sekitar 30% daya nan digunakan di gedung terbuang akibat pengelolaan nan belum optimal.
Tantangan tersebut diperparah oleh rendahnya pemanfaatan info dalam industri konstruksi. Berdasarkan kajian Xpera Group, sekitar 95,5% info nan telah dikumpulkan belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal info berkedudukan krusial dalam meningkatkan efisiensi operasional. Di sisi lain, McKinsey menempatkan industri gedung sebagai salah satu sektor dengan tingkat digitalisasi paling rendah, sedangkan Interval Data Systems menyebut sekitar 40% inefisiensi operasional sudah muncul sejak tahap perancangan bangunan.
Selain dituntut lebih irit energi, gedung juga kudu bisa menghadapi beragam risiko. Insurance Information Institute mencatat bumi mengalami lebih dari 350 musibah alam maupun nonalam setiap tahun. Pada saat nan sama, aspek kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan penunggu menjadi perhatian utama mengingat sebagian besar aktivitas masyarakat berjalan di dalam gedung.
Di Indonesia, transformasi menuju gedung pandai terus didorong melalui sejumlah regulasi. Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas, nan mengatur penerapan sistem manajemen gedung berbasis teknologi. Kebijakan tersebut diperkuat melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2025 mengenai manajemen daya pada gedung dengan konsumsi minimal 500 setara ton minyak per tahun, serta Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 nan mengatur efisiensi daya dan air di beragam jenis bangunan, seperti perkantoran, rumah sakit, hotel, dan akomodasi pendidikan.
Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, mengatakan efisiensi daya tidak hanya berfaedah menekan konsumsi listrik, tetapi memastikan penggunaan daya berjalan secara optimal tanpa mengurangi keandalan, keselamatan, maupun kenyamanan penghuni.
"Pendekatan tersebut memerlukan sistem nan terintegrasi dan berbasis data, mulai dari pemetaan kondisi gedung hingga optimasi sistem kelistrikan, otomasi, dan operasional. Melalui kampanye Teknologi Cerdas untuk Bangunan nan Efisien, perusahaan mendorong terciptanya gedung nan lebih efisien, tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan manusia," ujar Reza.
Ia menjelaskan konsep tersebut dibangun melalui empat pilar utama, ialah hyper-efficient untuk mengoptimalkan keahlian bangunan, resilient agar operasional tetap melangkah saat terjadi gangguan, sustainable melalui pemanfaatan sumber daya nan lebih efisien, serta people-centric nan menitikberatkan pada kenyamanan dan produktivitas pengguna.
Untuk mendukung implementasinya, Schneider Electric menghadirkan ekosistem solusi digital nan mengintegrasikan sistem manajemen bangunan, pemantauan konsumsi energi, pengedaran daya, hingga jasa asesmen daya dalam satu platform. Teknologi seperti EcoStruxure Building Operation, EcoStruxure Power Monitoring Expert, dan Smart Panel memungkinkan pengelola gedung memantau kondisi gedung secara real-time, mendeteksi pemborosan daya lebih cepat, meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
"Perusahaan juga menyediakan jasa asesmen daya guna membantu pemilik gedung mengidentifikasi potensi penghematan, mengevaluasi keahlian sistem, serta menyusun strategi peningkatan efisiensi operasional," imbuhnya.
Penerapan teknologi tersebut telah dilakukan di beragam sektor, salah satunya di SMC RS Telogorejo Semarang. Rumah sakit ini mengintegrasikan pemantauan sistem HVAC, kelistrikan, dan uninterruptible power supply (UPS) melalui platform digital sehingga pemantauan nan sebelumnya dilakukan secara manual sekarang berjalan secara real-time dengan support sistem peringatan otomatis dan pemeliharaan nan lebih proaktif.
Implementasi tersebut memberikan hasil nan signifikan. Pada 2025, biaya listrik rumah sakit sukses ditekan hingga 5 persen, sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya daya nan sebelumnya mencapai sekitar 9% per tahun. Respons terhadap gangguan teknis juga meningkat hingga 60 persen lebih sigap berkah sistem notifikasi otomatis. Selain itu, rumah sakit bisa menjaga kepatuhan 100% terhadap standar suhu dan kelembapan ruang operasi, serta menargetkan penghematan konsumsi listrik bulanan sebesar 10%-15% melalui pengelolaan daya nan lebih terukur. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·