Bangkit dari PHK, Dara Baro Ubah Sisa Kain Jadi Fesyen Wastra Kelas Dunia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Bangkit dari PHK, Dara Baro Ubah Sisa Kain Jadi Fesyen Wastra Kelas Dunia Pendiri Dara Baro Dimita Agustin(MI/Insi Nantika Jelita)

BERANGKAT dari pengalaman kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 1998, Dimita Agustin justru menemukan jalan baru dalam bumi fesyen berkepanjangan melalui brand Dara Baro. Dengan memanfaatkan sisa-sisa kain nan kerap dianggap limbah, dia mengolahnya menjadi produk wastra berbobot tinggi nan bisa bersaing di pasar global. 

“Awal berdirinya brand Dara Baro itu sebenarnya nggak sengaja. Tadinya saya tenaga kerja di perusahaan swasta, kemudian tahun 1998 terkena PHK,” ujar Dimita saat ditemui di rumah produksi Dara Baro, Serpong, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Saat itu, dia membantu upaya sang ibu nan merupakan perajin rotan di Palembang sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Pengalaman di lingkungan upaya kerajinan tersebut perlahan membentuk ketertarikannya pada bumi produksi kreatif. Saat menganggur, Dimita mulai mencoba membikin karya sederhana berbasis kain.

“Waktu itu saya iseng-iseng bikin sarung bantal,” ujar pendiri Dara Baro itu.

Dari produk sederhana itu, jalan upaya mulai terbuka. Sarung bantal nan dia buat rupanya laku terjual di lingkungan pertemanan, hingga mendorongnya untuk terus memproduksi ulang dengan modal terbatas.

“Iseng-iseng jual ke kawan dan laku,” katanya.

Dengan modal awal sekitar Rp600 ribu, Dimita mulai memutar kembali hasil penjualan untuk produksi berikutnya. Ia menjual produk secara sederhana, menitipkan peralatan ke kawan hingga mengikuti pameran kecil.

“Terus semangat lantaran penjualan lumayan. Jadi kembali modal, bikin lagi, kembali modal, bikin lagi,” ujarnya.

Dari Dekorasi ke Busana

Awalnya, Dara Baro konsentrasi pada produk rumah tangga berbahan batik seperti sarung bantal dan hiasan interior. Namun, permintaan pasar mengubah arah usaha.

“Terus banyak nan tanya, kapan buat baju alias rok," imbuhnya.

Dari situlah dia mulai beranjak ke busana. Dimita mulai membikin kebaya sederhana, kemudian berkembang menjadi koleksi busana berbasis wastra Indonesia.

“Sejak itu sampai sekarang bikin baju, produk busana wanita bahan wastra Indonesia,” ucapnya.

Tahun 2005 menjadi titik krusial ketika dia mulai serius membikin busana dan mengikuti pameran besar seperti Gelar Batik serta Kriyanusa. Respons pasar positif membuatnya semakin mantap mengembangkan brand.

Wastra Nusantara

Seiring waktu, Dara Baro tidak hanya menggunakan batik, tetapi juga jumputan, tenun, hingga shibori alias teknik pewarnaan kain tradisional asal Jepang.

“Jadi wastra Indonesia itu kain-kain dari seluruh Indonesia. Batik itu bagian dari wastra,” kata Dimita.

Ia menggabungkan beragam teknik dan kain dari beragam wilayah seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Garut, Palembang, hingga Makassar.

Untuk menguasai beragam teknik tersebut, Dimita terus belajar, termasuk mengikuti kursus dan training di Balai Besar Batik Yogyakarta serta Balai Tekstil Jakarta.

“Sampai sekarang tetap belajar. Kalau ada teknik baru, kita pelajari lagi lantaran pasar selalu mau sesuatu nan baru,” katanya.

Nama Dara Baro diambil dari bahasa Aceh nan berfaedah calon pengantin perempuan. Dimita memilih nama tersebut mengingat orang tuanya berasal dari Aceh. Nama itu juga mempunyai makna individual lantaran upaya tersebut dirintis saat dirinya tengah berada dalam fase sebagai calon pengantin perempuan.

“Dara Baro dalam bahasa Aceh artinya calon pengantin perempuan. Kebetulan saat mulai merintis upaya ini saya sedang berada di fase itu, sehingga nama tersebut terasa sangat dekat dan bermakna,” ujar Dimita.

Limbah Kain Jadi Karya

Transformasi besar lainnya terjadi saat Dara Baro mulai menerapkan konsep keberlanjutan dengan memanfaatkan sisa kain produksi. Pada 2022, Dimita mulai serius mengolah sisa-sisa kain produksi menjadi produk berbobot tambah sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan konsep sustainable fashion nan sekarang menjadi konsentrasi usaha.

"Sejak 2022 kami manfaatkan itu,” ujar Dimita.

Dalam proses produksinya, Dara Baro juga mengangkat teknik jahit tradisional Jepang berjulukan Boro, nan merupakan metode menjahit ulang potongan-potongan kain mini alias kain jejak dengan langkah menumpuk beberapa lapisan kain (patching berlapis) nan kemudian dijahit menggunakan tusuk tangan (hand stitching) nan sengaja diekspos sebagai bagian dari nilai estetika produk.

Dimita menjelaskan, limbah kain nan dimanfaatkan berasal dari sisa produksi busana ready to wear berbasis wastra nan selama ini menjadi produk utama Dara Baro.

"Dari awal kita produksinya busana ready to wear berbasis wastra. Itu kan tetap ada sisanya," katanya. 

Sisa-sisa kain tersebut kemudian diolah kembali menjadi lembaran kain baru nan dapat digunakan untuk membikin beragam produk fesyen.

"Sisa kainnya dibikin kain lagi hingga menjadi baju alias rok," kata Dimita.

Ide pemanfaatan limbah kain muncul saat pandemi covid-19. Ketika aktivitas upaya melambat, Dimita mulai merapikan penyimpanan penyimpanan dan mendapati tumpukan kain sisa nan jumlahnya sangat besar.

"Alasannya itu lantaran penyimpanan sudah penuh. Tadinya saya simpan-simpan sisa-sisa kain. Kalau mau beli lagi ada sampelnya. Jadi saya mulai beres-beres pas pandemi. Kok banyak banget sih sisa kain. Mungkin jika dikumpulin satu ruangan ini penuh," ujarnya.

Sebelumnya, sebagian besar sisa kain hanya disimpan di penyimpanan dan sebagian lainnya terbuang. Namun saat pandemi, Dara Baro mulai mencari langkah agar limbah tersebut tetap mempunyai nilai ekonomi.

Pada tahap awal, potongan kain dimanfaatkan untuk membikin masker, pouch, hingga selop. Setelah itu, potongan-potongan kain berukuran sangat mini digabungkan dan dijahit kembali sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakaian.

"Yang kecil-kecil ini kan mini banget. Saya gabung-gabungin aja. Jadi nan mini pun enggak kebuang. Jadi bisa jadi bahan baju, rok, celana, kemeja, sampai outer," tutur Dimita.

Melalui penemuan tersebut, Dara Baro sukses menghadirkan beragam produk fesyen berkepanjangan dengan rentang nilai nan beragam. Produk nan ditawarkan dibanderol mulai dari Rp475 ribu hingga sekitar Rp5 juta per item, tergantung jenis dan tingkat kerumitan pengerjaannya.

Perubahan Tren

Dalam mengembangkan usaha, Dimita mengatakan tantangan terbesar bukan pada produksi, melainkan memahami selera pasar nan terus berubah.

“Yang krusial gimana menarik selera konsumen,” ujarnya.

Ia rutin memantau tren melalui pameran, hubungan langsung dengan pelanggan, hingga pengamatan di pusat perdagangan seperti Tanah Abang dan Thamrin City.

“Customer itu pembimbing buat saya. Mereka nan pakai, mereka nan kasih masukan,” katanya.

Menurutnya, pasar sekarang condong menyukai kreasi nan lebih sederhana dan universal, termasuk di pasar global.

“Pasar dunia sekarang menyukai sesuatu nan lebih simple, tidak ramai, dan bisa dipakai semua acara,” ujarnya.

Selain itu, dia juga memanfaatkan referensi budaya terkenal dan movie untuk membaca tren.

Kolaborasi Perajin

Dara Baro juga melibatkan banyak perajin dari beragam wilayah di Indonesia. Dimita bekerja sama dengan perajin batik dari Solo, Cirebon, Garut, Bogor, hingga perajin tenun dari beragam wilayah di Pulau Jawa. Selain itu, Dara Baro juga menggandeng perajin jumputan dari Palembang untuk memperkaya ragam produk nan ditawarkan.

"Lebih dari 10 perajin dari beragam wilayah kerja sama dengan kami," kata Dimita.

Menurutnya, kemitraan tersebut turut memberikan kepastian pasar bagi para perajin. Dengan adanya pembelian secara rutin, para perajin memperoleh pendapatan nan lebih terjamin dibanding sebelumnya ketika mereka kudu mencari pembeli sendiri.

"Pada awalnya mereka bingung mau jual ke siapa. Dengan adanya produk Dara Baro ini jadi lebih aman," ujarnya.

Meski demikian, Dimita menegaskan peningkatan kesejahteraan para perajin juga dibantu brand lainnya. Semakin banyak pelaku industri fesyen nan menggunakan kain-kain wastra Nusantara, maka permintaan terhadap produk perajin terus meningkat.

"Banyak nan seperti saya, kreator fesyen itu sekarang banyak sekali. Jadi pasti imbasnya ke perajin juga," ucapnya.

Pola Pembelian Grosir

Untuk menjaga keberlanjutan kerja sama, Dara Baro membeli kain dari para perajin dalam jumlah besar. Menurut Dimita, pembelian grosir dilakukan agar nilai nan diterima kedua belah pihak tetap adil.

Dalam satu kali transaksi, Dara Baro biasanya membeli minimal 20 lembar kain dari setiap perajin. Dengan volume pembelian nan besar, nilai nan diberikan pun berbeda dengan nilai eceran.

"Kita kan belinya banyak. Mereka menerapkan nilai seperti itu, jadi fair. Kalau beli banyak, dikasih nilai nan lebih murah," katanya.

Nilai pembelian dari satu perajin rata-rata mencapai Rp5 juta setiap transaksi.

"Minimal Rp5 juta sekali beli, ya," katanya.

Jika dikalikan dengan sekitar tujuh perajin nan menjadi pemasok utama, nilai pembelian Dara Baro dalam satu periode bisa mencapai sekitar Rp35 juta. Frekuensi pembelian tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dan tingkat permintaan konsumen.

Menurut Dimita, pemesanan ulang dilakukan berasas produk nan paling diminati dan stok nan mulai habis. Karena itu, siklus pembelian bisa berjalan setiap dua hingga tiga bulan, tergantung kondisi penjualan.

Momentum Penjualan

Penjualan Dara Baro umumnya mengalami peningkatan pada periode-periode tertentu alias musim belanja, utamanya menjelang Hari Raya Idulfitri. Pada periode tersebut, permintaan produk fesyen berbahan wastra meningkat signifikan, terutama di gerai-gerai department store nan menjadi salah satu kanal penjualan Dara Baro.

"Biasanya penjualan terbaik itu setiap ada seasonal. Misalnya Lebaran, penjualannya bagus, bisa sampai Rp100 juta di satu department store," ujar Dimita.

Dari BRILIANPRENEUR ke Pasar Global

Dalam perjalanan pengembangannya, Dara Baro menjadi bagian dari ekosistem pembinaan upaya mikro, mini dan menengah (UMKM) PT Bank Rakyat Indonesia alias BRI. Dara Baro turut tampil dalam arena UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur 2023, pameran tahunan nan digelar BRI untuk mempertemukan pelaku UMKM Indonesia dengan pembeli serta pasar global.

Bagi Dimita, keikutsertaan dalam BRILianpreneur bukan sekadar arena pameran, melainkan bagian dari proses naik kelas UMKM menuju pasar internasional melalui kurasi, pelatihan, dan eksposur dunia nan difasilitasi BRI.

“Berkat program ini, pemasaranku lebih luas. Ketemu sama buyer dari mancanegara,” ujarnya

Dara Baro termasuk salah satu UMKM nan lolos kurasi ketat BRI untuk tampil di arena tersebut berbareng ratusan UMKM lain dari seluruh Indonesia. Melalui konsep business matching, BRILianpreneur membuka kesempatan pertemuan langsung antara pelaku upaya dan pembeli internasional, termasuk bagi sektor fesyen wastra dan produk berkepanjangan nan menjadi konsentrasi Dara Baro.

Produk Dara Baro tercatat telah menjangkau beragam negara di sejumlah benua, mulai dari Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rumania, Belanda, Prancis, hingga negara-negara di Asia seperti Turki, Jepang, dan Korea Selatan.

Salah satu pengalaman krusial terjadi ketika Dimita mendapat undangan dari ASEAN–Korea Centre pada 2011 untuk mengikuti pameran B2B di Seoul, Korea Selatan.

“Jadi, saya diundang Pemerintah Korea saat 2011 dan itu menjadi suatu kebanggaan,” kata Dimita.

Menurutnya, pasar Korea saat itu menjadi semacam uji coba (test market) untuk memahami selera konsumen internasional terhadap produk wastra Indonesia.

“Jadi di Korea seperti test market kami,” ucapnya.

Ia menjelaskan, perbedaan selera menjadi tantangan tersendiri. Konsumen Korea condong menyukai kreasi nan lebih sederhana dengan warna-warna lembut, berbeda dengan karakter batik Indonesia nan condong kaya motif dan warna.

“Korea itu kan tidak suka sesuatu nan ramai. Dia lebih ke casual, warna-warnanya soft. Mereka, tuh, seleranya lebih kayak Indonesia sama Jepang,” jelasnya.

Tantangan Ekspor Wastra

Meski telah menjangkau sejumlah negara, Dimita menilai pasar ekspor untuk batik tetap mempunyai karakter nan terbatas lantaran sifatnya nan sangat unik dan segmented.

“Jadi wastra-wastra nan suka ya orang Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, produk batik lebih banyak diminati sebagai produk budaya dan fesyen berbobot artistik, namun belum sepenuhnya menjadi produk mass market di luar negeri. Meski demikian, pengalaman ekspor tetap menjadi bagian krusial dalam perjalanan Dara Baro memperluas jejaring dan memahami dinamika pasar global.

Gangguan Pasokan dan Strategi Bertahan 

Belakangan ini, Dimita menghadapi tantangan berupa gangguan pasokan bahan baku. Ia kudu menyesuaikan pola produksi dengan kesiapan sisa kain nan dimiliki.

Saat ini, sebagian besar produk Dara Baro dibuat dari stok bahan nan tersedia. Produksi baru dapat dilakukan ketika terdapat sisa bahan baku nan bisa diolah kembali menjadi produk baru.

“Sekarang bahan bakunya dari tempat sendiri. Menunggu ada sisa baru dibikin. Sementara permintaan agak lumayan untuk produk ini,” ujar Dimita.

Menurutnya, gejolak dunia turut memengaruhi rantai pasok industri tekstil dan wastra. Sejumlah pemasok apalagi telah memberi sinyal bakal adanya kenaikan nilai bahan baku dalam waktu dekat.

“Sudah beberapa mengingatkan itu soal kenaikan bahan baku,” katanya.

Dimita menjelaskan, rantai produksi wastra nan digunakan Dara Baro tetap berjuntai pada bahan impor, terutama kain mori nan menjadi bahan dasar pembuatan batik dan jumputan. Kain putih tersebut umumnya didatangkan dari Tiongkok sebelum diolah lebih lanjut oleh para perajin di beragam daerah.

“Sebelum jadi batik, itu kain putih. Namanya mori. Nah, itu nan impor biasanya dari Tiongkok. Jadi rantainya kayak gitu, si perajin tidak memproduksi kain sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan nilai bahan baku terjadi seiring perubahan nilai tukar dan kondisi perdagangan global. Dalam beberapa kasus, kenaikan disebut mencapai sekitar 10%

“Dolar naik, semua naik. Kita, kan perdagangan dunia, tetap pakai dolar. Kemarin dikasih tahu kenaikannya 10%,” ujarnya.

Kenaikan tersebut tidak hanya berakibat pada bahan baku utama, tetapi juga merembet ke beragam komponen produksi lain seperti benang, kancing, hingga biaya logistik dan pengiriman.

“Jasa logistik naik. Kemudian dari packaging, dari benang, itu naik semua. Kalau diakumulasikan lumayan,” kata Dimita.

Meski demikian, dia belum berencana meningkatkan nilai jual secara signifikan. Di tengah daya beli nan dinilai belum pulih, Dara Baro memilih strategi efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

“Strategi saya itu mulai berhemat dengan pemakaian listrik dan lainnya, tapi tetap tidak mengganggu kualitas produk,” ucapnya.

Efisiensi dilakukan dari beragam sisi produksi, termasuk penggunaan listrik dan pengelolaan operasional harian di rumah produksi. Meski demikian, dia menegaskan bahwa kualitas produk tetap menjadi prioritas utama.

“Kalau untuk produksi tidak bisa diganggu,” tegasnya.

Selain itu, Dara Baro juga mulai memanfaatkan kembali material sisa produksi, termasuk untuk kebutuhan bungkusan dan kantong belanja.

“Untuk tas, kantong belanja, saya pakai nan sudah ada saja,” ujarnya.

Kreatif dan Unik

Afifah Zahwah membagikan pengalamannya menggunakan produk Dara Baro. Menurutnya, brand fesyen tersebut  menghadirkan produk nan kreatif, unik, dan eksklusif sehingga mempunyai karakter unik nan berbeda dibandingkan produk fesyen pada umumnya. 

Ia menilai setiap koleksi Dara Baro mempunyai karakter kuat dan tidak terkesan pasaran, sehingga bisa menarik perhatian para pencinta fesyen nan mencari produk dengan nilai seni dan karakter tersendiri.

"Dara Baro karya fesyen kreatif, unik, eksklusif, gak pasaran sama sekali. Desainnya selalu up to date, selalu keren," tulisnya dalam sebuah ulasan.

Sebagai pelanggan, Afifah memandang Dara Baro sukses menjaga kualitas dan nilai estetika produk. Detail pengerjaan nan rapi serta sentuhan kreasi nan bergengsi membikin produk Dara Baro mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pencinta fesyen dan wastra Indonesia.

Afifah juga mengapresiasi langkah Dara Baro nan beralih bentuk ke arah sustainable fashion. Menurutnya, pemanfaatan kain sisa alias patchwork menjadi produk baru menunjukkan komitmen brand tersebut terhadap keberlanjutan lingkungan. Potongan-potongan kain nan sebelumnya berpotensi menjadi limbah justru diolah menjadi karya fesyen nan berbobot tinggi dan mempunyai karakter tersendiri.

"Produknya juga eksklusif, tidak pasaran sama sekali, mulai dari era kebaya bordir elok elegan dan kain-kain Nusantara nan bagus sampai era sustainable fashion masa sekarang dengan memanfaatkan kain patch dengan teknik jahit uniknya," ungkapnya.

Selain konsep keberlanjutannya, Afifah menilai teknik jahit unik nan diterapkan Dara Baro menjadi nilai tambah nan membikin produk-produk tersebut semakin menarik. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia