Jakarta, CNN Indonesia --
Aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tetap terhenti akibat kabut asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Penutupan berjalan sejak 22 September 2026 dan hingga Rabu (14/10), penerbangan belum kembali beraksi normal.
Kondisi tersebut dipicu jarak pandang nan tetap berada di bawah pemisah kondusif untuk operasional pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan info Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang pada pagi hari berkisar 500 hingga 800 meter, apalagi dapat turun drastis pada siang hingga sore hari.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah, mengatakan penghentian penerbangan dilakukan untuk menjamin keselamatan penumpang dan awak pesawat. Bandara bakal tutup total selama bulan Oktober.
"Untuk penerbangan Bandara H Asan Sampit ini close total, tutup total selama bulan Oktober ini," kata Raihansyah, Rabu (14/10).
Ia menjelaskan jarak pandang pada sore hari bisa kurang dari 100 meter. Sementara itu, penerbangan memerlukan jarak pandang sekitar 2.000 meter alias lebih agar pesawat dapat beraksi dengan kondusif sesuai persyaratan nan berlaku.
"Situasi tersebut membikin pesawat tidak memungkinkan mendarat di Sampit. Hingga kini, belum ada kepastian kapan penerbangan dapat kembali dibuka lantaran semuanya berjuntai pada perbaikan kondisi cuaca dan jarak pandang," katanya.
Raihansyah menduga kabut asap nan menyelimuti area airport tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar perkotaan. Asap dari wilayah lain kemungkinan terbawa angin hingga Sampit, sehingga mengganggu jarak pandang meskipun kebakaran di sejumlah titik perkotaan mulai berkurang.
Penutupan airport turut berakibat pada mobilitas masyarakat. Warga nan memerlukan perjalanan sigap ke luar wilayah sekarang kudu menempuh jalur darat nan lebih panjang, termasuk menuju Banjarmasin dengan waktu perjalanan sekitar sembilan jam untuk mengakses transportasi udara.
"Dampak penutupan airport pun merembet ke sektor ekonomi. Kalangan pebisnis dan penanammodal nan biasanya mengandalkan penerbangan untuk menunjang mobilitas kudu menyesuaikan agenda perjalanan mereka," ujarnya.
Baca selengkapnya di sini.
(tim/isn)
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·