Bamsoet Sebut Krisis Geopolitik Global Belum Berdampak pada Pariwisata Bali

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta -

Anggota DPR RI menegaskan krisis geopolitik nan tengah melanda beragam area bumi sejauh ini belum memberikan akibat signifikan terhadap sektor pariwisata Bali. Adapun krisis geopolitik nan dimaksud termasuk eskalasi bentrok Iran-Israel nan memicu ketidakpastian ekonomi bumi serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Konflik Iran-Israel nan kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir telah mendorong kenaikan nilai daya dunia, memicu volatilitas pasar finansial global, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi internasional.

Di Indonesia, tekanan tersebut turut berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah nan sempat bergerak hingga mencapai Rp 18.000 per dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Bali tetap menunjukkan daya tahan nan kuat sebagai lokasi wisata internasional unggulan Indonesia.

Arus kunjungan visitor mancanegara terus meningkat dan aktivitas ekonomi pariwisata bergerak stabil di tengah beragam tekanan eksternal nan sedang mengguncang perekonomian dunia.

"Situasi geopolitik bumi memang menimbulkan kekhawatiran terhadap beragam sektor ekonomi. Namun hingga saat ini Bali menunjukkan ketangguhan nan luar biasa. Wisatawan mancanegara tetap datang dalam jumlah besar lantaran daya tarik Bali sudah menjadi bagian dari lokasi wisata bumi nan susah tergantikan," ujar Bamsoet dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Ketua MPR RI ke-15 ini menjelaskan industri pariwisata Bali selama bertahun-tahun telah teruji menghadapi beragam tantangan dunia. Mulai dari krisis finansial internasional, pandemi COVID-19, bentrok geopolitik, hingga gejolak ekonomi dunia.

Pengalaman tersebut membikin para pelaku industri wisata di Bali lebih adaptif dalam menyusun strategi pemasaran, diversifikasi pasar wisatawan, serta meningkatkan kualitas jasa agar tetap kompetitif di tingkat internasional.

"Kita bisa memandang gimana pelaku upaya pariwisata Bali bergerak sigap membaca perubahan pasar. Ketika satu pasar mengalami perlambatan, mereka bisa mengalihkan konsentrasi ke pasar lain nan sedang tumbuh. Fleksibilitas inilah nan membikin industri pariwisata Bali tetap handal dalam menghadapi beragam krisis," tutur Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 menuturkan pelemahan rupiah juga memberikan akibat positif terhadap penerimaan devisa pariwisata. Setiap dolar nan dibelanjakan visitor asing di Bali menghasilkan nilai tukar nan lebih tinggi dalam rupiah.

Kondisi tersebut memberikan faedah bagi pelaku upaya perhotelan, restoran, transportasi wisata, pelaku UMKM, industri kreatif, hingga para pekerja nan menggantungkan pendapatannya pada sektor pariwisata.

"Selama inflasi dalam negeri tetap terjaga dan stabilitas keamanan nasional dapat dipertahankan, pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing lokasi wisata Indonesia di pasar internasional. nan terpenting adalah menjaga kualitas jasa dan kenyamanan wisatawan," kata Bamsoet.

Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menambahkan pemerintah pusat dan pemerintah wilayah perlu terus memanfaatkan momentum tingginya kunjungan visitor asing dengan memperkuat promosi internasional, meningkatkan kualitas prasarana pendukung pariwisata, memperluas konektivitas penerbangan, serta memastikan keberlanjutan lingkungan dan budaya Bali tetap terjaga.

Langkah tersebut krusial agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya menghasilkan faedah ekonomi jangka pendek, tetapi juga memberikan akibat berkepanjangan bagi kesejahteraan masyarakat.

"Krisis geopolitik bumi bakal selalu datang dan pergi. Namun selama Indonesia bisa menjaga stabilitas nasional, keamanan destinasi wisata, kualitas pelayanan, serta daya tarik budaya nan khas, Bali bakal tetap menjadi daya tarik wisata dunia. Bahkan di tengah ketidakpastian global, Bali justru mempunyai kesempatan untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia," pungkas Bamsoet.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News